![]() |
| Ilustrasi cuaca panas di Jakarta (Foto: Muhammad Farrel / detikfoto) |
Gelombang panas yang terjadi di Eropa belakangan tengah disorot lantaran memicu sebanyak 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. mengatakan Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju peningkatan suhu dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Ia juga memperingatkan bahwa infrastruktur di Eropa belum dirancang untuk mampu menghadapi suhu yang sangat tinggi.
"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," kata Tedros pada Minggu (28/6/2026).
Di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa, sebagian masyarakat Indonesia juga mengeluhkan cuaca yang terasa lebih terik dalam beberapa waktu terakhir. Namun, BMKG memastikan kondisi tersebut berbeda dengan gelombang panas yang terjadi di Eropa.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto mengatakan cuaca panas di Indonesia saat ini lebih sering disebabkan oleh gerakan semu matahari dan langit cerah saat kemarau.
"Gelombang panas (Heatwave) hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis cepat berubah dan tidak stabil," ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (1/6/2026).
Ia menegaskan bahwa fenomena panas belakangan ini bukanlah gelombang panas, melainkan cuaca panas musiman .
Senada, Plh Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ida Pramuwardani mengatakan Indonesia sangat kecil kemungkinannya mengalami heatwave atau gelombang panas seperti Eropa.
Menurutnya, fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Asia Tengah, Eropa, dan Amerika.
"Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi," ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (1/7/2026).
Selain itu, lanjutnya, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat. "Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave," tuturnya lagi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BMKG Beberkan Alasan RI Tak Alami Gelombang Panas Seperti di Eropa"
