Hagia Sophia

05 July 2026

Kisah Warga Vietnam yang Enggan Miliki Anak

Foto: Ilustrasi anak (Getty Images/iStockphoto/Nadezhda1906)

Pemerintah Vietnam mulai menawarkan berbagai insentif agar warganya mau memiliki lebih banyak anak. Kebijakan ini diambil setelah negara tersebut menghadapi penurunan angka kelahiran dan ancaman populasi menua sebelum mencapai status negara maju.

Mulai Rabu (1/7/2026), pemerintah memberlakukan undang-undang kependudukan baru yang memperpanjang cuti melahirkan bagi ibu yang melahirkan anak kedua dari enam bulan menjadi tujuh bulan. Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan biaya pemeriksaan kehamilan hingga bonus uang tunai.

Ibu yang memenuhi persyaratan tertentu berhak memperoleh bonus sekali bayar hingga US$228 atau sekitar Rp3,7 juta, setara sekitar dua pertiga rata-rata gaji bulanan di Vietnam.

Warga Hanoi, Nguyen Kim Bich, mengatakan dirinya akan mendapat tambahan cuti dan sejumlah insentif apabila memutuskan memiliki anak kedua.

"Saya bisa tinggal di rumah satu bulan lebih lama bersama bayi, dan suami saya juga bisa mengambil cuti beberapa hari lagi," ujar perempuan berusia 32 tahun itu, dikutip dari CNA.

Meski begitu, Bich mengaku berbagai insentif tersebut belum cukup meyakinkannya untuk kembali memiliki anak.

Hampir separuh dari pendapatan gabungannya dengan sang suami yang mencapai sekitar USD 1000 per bulan telah habis untuk membesarkan anak pertama. Mereka juga masih tinggal bersama orang tua suaminya karena keterbatasan biaya.

"Manfaatnya memang bagus, tetapi belum cukup. Tambahan cuti satu bulan dan bonus sekitar USD 75 tidak akan membuat kami memutuskan punya anak kedua," katanya.

Mendorong Warga Punya Anak

Kebijakan baru ini menjadi perubahan besar bagi Vietnam. Selama puluhan tahun, pemerintah justru membatasi jumlah anak dalam keluarga.

Sejak 1988, Vietnam menerapkan kebijakan dua anak. Bahkan hingga tahun lalu, anggota Partai Komunis Vietnam masih dapat dikenai sanksi apabila memiliki anak ketiga.

Kini pemerintah mengubah pendekatan tersebut karena menghadapi perubahan struktur penduduk. Angka harapan hidup masyarakat terus meningkat, sementara angka kelahiran terus menurun.

Kepala Populasi dan Pembangunan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) di Vietnam, Pham Thi Lan, menyebut kebijakan baru itu sebagai perubahan pendekatan yang signifikan.

"Kami bergerak dari pengendalian keluarga berencana menjadi fokus pada pembangunan penduduk," ujarnya.

Terancam Menua Sebelum Kaya

Saat ini tingkat kelahiran Vietnam berada di angka 1,93 anak per perempuan, di bawah angka pengganti populasi (replacement level) sebesar 2,1.

Di sisi lain, angka harapan hidup masyarakat telah mencapai hampir 75 tahun dan penduduk berusia di atas 60 tahun kini mencapai lebih dari 10 persen dari total populasi.

Pemerintah Vietnam memperkirakan pada pertengahan abad ini, seperempat penduduknya akan berusia di atas 60 tahun dan jumlah penduduk mulai mengalami penyusutan.

Para ekonom menilai perubahan demografi tersebut menjadi tantangan besar karena terjadi ketika Vietnam masih tergolong negara berkembang.

Produk domestik bruto (PDB) per kapita Vietnam saat ini sekitar US$5.000 per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Jepang ketika negara tersebut mulai mengalami penurunan angka kelahiran pada awal 1980-an.

Laporan Bank Dunia sebelumnya juga memperingatkan Vietnam hanya memiliki jendela waktu yang sempit untuk melakukan reformasi sebelum menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat penuaan penduduk.

Biaya Hidup Tetap Jadi Kendala

Meski pemerintah mulai memberikan berbagai insentif, UNFPA menilai bantuan satu kali seperti bonus tunai belum tentu mampu mendorong pasangan memiliki lebih banyak anak.

Menurut organisasi tersebut, dukungan yang berkelanjutan, seperti bantuan pengasuhan anak, biaya pendidikan, hingga perumahan yang terjangkau, jauh lebih efektif meningkatkan angka kelahiran.

Survei pemerintah Vietnam juga menunjukkan sekitar 73 persen responden yang telah menikah menyebut kondisi ekonomi menjadi faktor utama dalam keputusan memiliki anak.

Hal senada diungkapkan Tran Minh Anh, kasir berusia 24 tahun di Hanoi yang berpenghasilan sekitar US$380 per bulan.

"Saya tidak akan punya anak sama sekali," ujarnya.

"Tekanannya terlalu besar, baik secara finansial maupun mental. Bagaimana saya bisa menghidupi satu orang lagi? Tidak mungkin."

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Angka Kelahiran Ngedrop, Begini Cerita Warga Vietnam yang Ogah Punya Bayi"