Hagia Sophia

05 July 2026

Makanan Sehari-hari yang Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Mulut

Foto: Ilustrasi sariawan yang tak kunjung sembuh, gejala dari kanker mulut (Getty Images/AH86)

Minum alkohol hingga infeksi HPV atau human papillomavirus merupakan sejumlah pemicu terbesar kanker mulut. Namun, pola makan juga bisa meningkatkan risikonya.

Ahli THT di University of Maryland Medical Center, Kelly F. Moyer, MD, mengatakan, makanan yang memicu peradangan memiliki risiko tertinggi kanker mulut dan yang berada di urutan teratas adalah daging olahan. Mengapa daging olahan berpotensi meningkatkan risiko penyakit ini?

1. Mengandung Senyawa yang Dikaitkan dengan Risiko Kanker
Menurut Kepala Divisi Kedokteran Mulut, Onkologi Mulut, dan Kedokteran Gigi di Herbert Wertheim Cancer Institute, Florida Selatan, Alessandro Villa, DDS, PhD, MPH, daging olahan, termasuk sosis, bacon, ham, hingga hot dog, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring.

Dikutip dari laman EatingWell, International Agency for Research on Cancer menggolongkan daging olahan sebagai karsinogen Kelompok 1.

"Yang berarti ada cukup bukti yang menghubungkannya dengan kanker pada manusia," kata Villa.

Ia menjelaskan, daging olahan umumnya mengandung nitrat dan nitrit yang dapat membentuk senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik.

Tejal Parekh, RDN, LDN, ahli gizi onkologi, menjelaskan bahwa nitrat dan nitrit merupakan bahan pengawet kimia yang ditambahkan ke dalam daging olahan, seperti yang biasa terdapat pada papan charcuterie atau sandwich isi daging, untuk membantu proses pengawetan sekaligus memperpanjang masa simpannya.

Berbagai penelitian juga secara konsisten mengaitkan konsumsi nitrat dan nitrit dengan beragam jenis kanker, termasuk kanker payudara dan kanker prostat.

2. Memasak dengan Suhu Tinggi Bisa Menghasilkan Zat Kimia yang Merusak Sel
Memasak potongan daging asap secara konsisten di atas wajan yang sangat panas atau memanggang sosis di atas api besar dapat semakin meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.

"Daging yang dipanggang, diasap, dan dibakar juga bisa bermasalah karena proses memasak dengan suhu tinggi menghasilkan bahan kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA), yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel," kata Moyer.

3. Memicu Peradangan Kronis
Mengonsumsi daging ultra-proses dapat berkontribusi terhadap terjadinya peradangan kronis.

"Pola makan yang memicu peradangan menyebabkan kondisi peradangan ringan yang konstan di mulut, yang seiring waktu mengurangi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak," kata Moyer.

Selain itu, menurut Villa, zat besi heme yang ditemukan secara khusus dalam daging merah olahan juga dapat berkontribusi terhadap proses karsinogenesis.

4. Mengubah Mikrobioma Mulut
Menurut Moyer, pola makan yang buruk dapat mengubah keseimbangan bakteri alami di dalam mulut. Padahal, bakteri tersebut umumnya berperan dalam melindungi kesehatan.

Di dalam mulut terdapat lebih dari 700 spesies bakteri. Banyak di antaranya membantu menjaga kesehatan mulut dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Ketika keseimbangan komunitas mikroba tersebut terganggu, atau yang dikenal sebagai disbiosis, kondisi ini dapat memicu peradangan serta berbagai perubahan lain yang berkaitan dengan penyakit.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma mulut mungkin berperan dalam perkembangan kanker mulut dengan memicu peradangan kronis serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan sel-sel abnormal tumbuh. Meskipun temuan ini masih tergolong baru, menjaga pola makan seimbang yang kaya akan buah, sayuran, dan makanan padat gizi lainnya dapat membantu mendukung kesehatan mikrobioma mulut.

Gejala Kanker Mulut

Ahli onkologi Ammar Sukari, MD, mengungkapkan beberapa gejala kanker mulut yang pelu diwaspaai. Jika mengalami tanda-tanda berikut, disarankan untuk segera mencari pertolongan medis.
  • Sariawan yang tidak kunjung sembuh dalam waktu dua hingga tiga minggu.
  • Bercak yang berubah warna, bercak merah, atau bercak berbintik yang tidak dapat dijelaskan pada lidah, gusi, atau lapisan mulut.
  • Kehilangan gigi tanpa sebab yang jelas.
  • Benjolan atau pembengkakan yang menetap di bibir, pipi, gusi, atau di bawah rahang.
  • Rasa sakit atau mati rasa yang tidak dapat dijelaskan pada bibir, pipi, atau gusi.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ahli Ungkap Makanan Sehari-hari yang Tak Disadari Tingkatkan Risiko Kanker Mulut"