Hagia Sophia

13 July 2026

Jenis Pekerjaan Ini Berkaitan dengan Peningkatan Risiko Kanker Ovarium

Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)

Kanker ovarium lebih sering dikaitkan dengan faktor usia, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan tertentu. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa paparan yang berkaitan dengan pekerjaan juga mungkin berperan.

Studi Kaitkan Beberapa Profesi dengan Kanker Ovarium

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine dan dipimpin oleh akademisi dari University of Montreal, Kanada, menganalisis hubungan antara jenis pekerjaan dan risiko kanker ovarium.

Dikutip dari laman Sky News, para peneliti menggunakan data dari 491 perempuan Kanada yang didiagnosis menderita kanker ovarium dan membandingkannya dengan 897 perempuan yang tidak mengidap penyakit tersebut.

Data tersebut kemudian dicocokkan dengan Canadian Job-Exposure Matrix untuk menilai kemungkinan paparan di tempat kerja, termasuk apakah pekerja lebih sering terpapar bahan kimia tertentu selama menjalankan pekerjaannya. Setelah memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, para peneliti menemukan bahwa beberapa jenis pekerjaan kemungkinan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium, yaitu:
  • Perempuan yang pernah bekerja sebagai penata rambut, tukang cukur, atau ahli kecantikan: Memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi terkena kanker ovarium
  • Perempuan yang bekerja di bidang akuntansi selama 10 tahun: Memiliki kemungkinan dua kali lebih besar.
  • Pekerja di sektor konstruksi tercatat: Memiliki risiko hampir tiga kali lipat.
  • Asisten toko dan tenaga penjualan: Memiliki peningkatan risiko sebesar 45 persen
  • Pekerja yang membuat atau memperbaiki pakaian: Memiliki risiko 85 persen lebih tinggi.
Para Pekerja Cenderung Terpapar Zat Tertentu

Para peneliti juga mengidentifikasi bahwa kelompok pekerjaan dengan risiko lebih tinggi tersebut cenderung lebih sering terpapar berbagai zat, seperti bedak kosmetik, amonia, hidrogen peroksida, debu rambut (hair dust), serat sintetis, serat poliester, pewarna organik, pigmen, dan bahan pemutih.

"Kami mengamati adanya hubungan yang menunjukkan bahwa akuntansi, tata rambut, penjualan, menjahit, dan pekerjaan terkait mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko," tulis para penulis.

Mereka menambahkan bahwa masih diperlukan penelitian berbasis populasi untuk mengevaluasi potensi bahaya bagi pekerja perempuan serta berbagai jenis pekerjaan yang umumnya dijalani oleh perempuan.

Dalam editorial yang menyertai publikasi tersebut, akademisi dari National Cancer Institute di Maryland, Amerika Serikat, menyoroti bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai kanker akibat faktor pekerjaan.

Mereka menyatakan bahwa studi ini menjadi pengingat bahwa meskipun minimnya keterwakilan perempuan dalam penelitian kanker akibat pekerjaan telah lama disadari, masih diperlukan perbaikan dalam mempelajari risiko pekerjaan yang dihadapi perempuan.

Faktor Risiko Kanker Ovarium

Dikutip dari laman Cancer dan Cleveland Clinic, beberapa faktor risiko kanker ovarium meliputi:
  • Usia: Risiko terkena kanker ovarium meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar kanker ini berkembang setelah menopause, dan sekitar setengah dari seluruh kasus ditemukan pada wanita berusia 63 tahun atau lebih.
  • Genetika: Memiliki mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang diturunkan, mutasi gen langka lainnya, dan/atau riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, rahim, atau kolorektal.
  • Kondisi medis: Mengidap endometriosis (pertumbuhan abnormal jaringan yang melapisi bagian dalam rahim) atau obesitas.
  • Kehamilan dan menyusui: Tidak pernah hamil, memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, atau tidak pernah menyusui.
  • Obat-obatan yang berhubungan dengan hormon: Tidak pernah mengonsumsi pil KB dan/atau menjalani terapi penggantian hormon pascamenopause.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kaitan Lingkungan Kerja dan Kanker Ovarium, Profesi Apa Saja yang Paling Rentan?"