Hagia Sophia

10 July 2026

Metode Diet dan Olahraga Ekstrem Sering Jadi Bumerang yang Merusak Tubuh

Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Dacharlie


Foto perubahan tubuh sebelum dan sesudah (before-after) penurunan berat badan yang drastis sering kali memukau banyak orang di media sosial. Namun, jarang ada yang mengungkap apa yang terjadi di balik layar setelah target angka timbangan tersebut tercapai.

Alih-alih sehat, metode diet dan olahraga yang terlalu ekstrem justru kerap menjadi bumerang yang merusak tubuh.

Pengalaman pahit inilah yang dibagikan oleh seorang kreator konten bernama Kaajal. Melalui video di akun Instagram pribadinya, kreator di India ini memperingatkan agar tidak meniru cara-cara instan dalam memangkas berat badan.

Dikutip dari India TV, Kajaal mengungkapkan fakta bahwa dirinya sempat berhasil memangkas 35 kilogram (kg) lemak, namun kebiasaan ekstrem dietnya justru membuatnya melonjak naik hingga 50 kg dalam satu dekade berikutnya.

Pangkas 35 Kg dengan Cara Menyiksa Tubuh

Mengenang awal perjalanan kebugarannya sepuluh tahun lalu, Kaajal mengaku sangat terobsesi untuk mencapai target berat badan tertentu tanpa memikirkan kesehatan jangka panjang.

"Saya kehilangan 35 kg dan kembali naik 50 kg. Sepuluh tahun lalu, yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya mencapai berat 70 kg. Saat itu, berat badan saya sekitar 110 hingga 112 kg," kenang Kaajal.

Demi mengejar target tersebut, ia menjalani rutinitas yang sangat menyiksa fisik. Kaajal hanya mengonsumsi kalori berkisar antara 800 hingga 1.000 kalori saja per hari, jauh di bawah kebutuhan normal orang dewasa. Tidak hanya itu, ia memaksa tubuhnya berolahraga keras selama hampir dua jam setiap hari, sementara waktu tidurnya terpangkas hingga hanya lima jam setiap malam.

Meski angka timbangannya turun drastis, Kaajal kini menyadari bahwa jadwal super ketat tersebut telah menghancurkan dirinya secara fisik dan psikologis.

"Tentu saja berat badan saya turun. Tapi hal itu juga merusak tubuh saya, dan secara mental menghancurkan saya ke titik di mana saya bahkan tidak bisa berpikir lagi tentang penurunan berat badan," ketusnya.

Alami Trauma Mental dan Lonjakan Berat Badan

Setelah berbulan-bulan memaksakan rutinitas ekstrem, Kaajal berada di titik kelelahan total (burnout). Secara psikologis, ia kehilangan seluruh motivasi dan justru berbalik arah ke spektrum yang berlawanan. Memikirkan kata "diet" atau "turun berat badan" saja sudah membuatnya merasa sangat kesal dan trauma.

Akibatnya, dalam kurun waktu 10 tahun setelahnya, berat badannya perlahan-lahan merangkak naik, bahkan melebihi bobot awalnya sebelum melakukan diet.

Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai Yo-Yo Effect, di mana berat badan turun cepat lalu melonjak lebih parah akibat metabolisme tubuh yang rusak akibat kelaparan ekstrem.

Melalui kegagalannya, Kaajal berpesan kepada siapa pun yang sedang berjuang menurunkan berat badan untuk fokus pada kebiasaan sehat yang realistis dan dapat dipertahankan selama bertahun-tahun.

"Jika Anda memulai perjalanan penurunan berat badan, saya hanya ingin mengingatkan bahwa Anda tidak perlu melakukan hal-hal ekstrem. Tolong mulailah perlahan dan bangun kebiasaan yang berkelanjutan (sustainable)," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Wanita Jalani Diet Ekstrem Turunkan 35 Kg, Tapi BB-nya Malah Naik Lagi 50 Kg"