Hagia Sophia

17 January 2023

Ini Respons WHO Usai China Buka Data Tentang Kasus COVID-19

Foto: AP/Fang Zhe

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan China untuk terus memantau kasus kematian yang berlebih akibat COVID-19. WHO berharap, bisa mendapatkan gambaran lebih lengkap terkait dampak lonjakan kasus COVID-19 di negara tersebut.

Pada Sabtu (14/1/2023), China mengatakan hampir 60 ribu orang dengan infeksi COVID-19 meninggal di rumah sakit semenjak pemerintah mencabut aturan ketat penanganan virus Corona 'zero-COVID' pada Desember 2022. Pencabutan tersebut dilakukan karena banyaknya kritik terhadap kebijakan yang dinilai terlalu keras.

"WHO merekomendasikan pemantauan kematian berlebih, yang memberi kita pemahaman yang lebih komprehensif tentang dampak COVID-19," ungkap pihak WHO dikutip dari Reuters, Senin (16/1/2023).

"Ini sangat penting dilakukan selama periode lonjakan (COVID-19) ketika sistem kesehatan sangat terbatas," sambungnya.

WHO menjelaskan hingga kini belum ada informasi pasti perihal kapan pihaknya akan bertemu lagi dengan pejabat China. Mengingat akhir pekan kemarin, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berbicara dengan Direktur Komisi Kesehatan Nasional China Ma Xiaowei.

Setelah mengkritik Beijing karena tidak berterus terang perihal skala wabah, WHO akhirnya menyebut bahwa otoritas China akhirnya telah memberikan informasi tentang kematian di rumah sakit dan kasus rawat jalan yang lebih baik.

Profesor di Georgetown Law di Washington, D.C. Lawrence Gostin, mengatakan keputusan China untuk membuka lebih banyak data adalah karena didorong oleh WHO.

"Mendapatkan informasi tentang jumlah korban tewas yang lebih akurat itu menyegarkan," ujarnya.

"Tetapi akan lebih penting lagi untuk mendapatkan GSD (data urutan genetik) secara lengkap tentang virus yang beredar di China. Itulah perhatian global yang sangat besar," pungkasnya.

Menurut pejabat setempat, China mencatat sebanyak 59.938 kematian yang berkaitan dengan COVID-19 antara 8 Desember 2022 dan 12 Januari 2023. Sebagian besar dari mereka meninggal di usia 80 tahun, dan banyak yang memiliki komorbid atau kondisi yang mendasarinya.

Sebelumnya mengacu pada laporan BBC, berikut rincian kasus kematian terkait COVID-19 yang diumumkan China:
  • Kematian yang disebabkan gagal napas langsung akibat COVID-19 sebanyak 5.503 kasus
  • Akibat kondisi kesehatan mendasar dan terinfeksi COVID-19 sebanyak 54.435 kasus
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Respons WHO usai China Ngaku Kematian COVID-19 Tembus 60 Ribu Sebulan"