Hagia Sophia

12 July 2023

Akibat Panas Ekstren, 61 Ribu Orang Tewas di Eropa

Cuaca panas menyelimuti Italia (dok. AP/Gregorio Borgia)

Lebih dari 61.000 orang tewas akibat panas ekstrem yang memecahkan rekor di Eropa tahun lalu. Para peneliti menyerukan agar lebih banyak hal dilakukan untuk melindungi warga Eropa dari gelombang panas yang lebih mematikan di tahun-tahun mendatang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (11/7/2023), data itu tertuang dalam studi penelitian terbaru yang dirilis melalui jurnal Nature Medicine pada Senin (10/7) waktu setempat.

Studi itu menyebut Eropa sebagai benua dengan pemanasan tercepat di dunia dan mencetak rekor musim terpanas tahun 2022 lalu, saat negara-negara di kawasan tersebut dilanda gelombang panas yang menyengat, kekeringan yang merusak tanaman dan kebakaran hutan yang menghancurkan.

Badan statistik Uni Eropa, Eurostat, melaporkan jumlah kematian berlebih yang luas biasa tinggi sepanjang musim panas, namun jumlah kematian yang terkait langsung dengan panas ekstrem belum pernah dihitung sebelumnya.

Tim peneliti memeriksa data suhu udara dan angka kematian dari tahun 2015 hingga 2022 untuk 823 wilayah di sebanyak 35 negara Eropa, yang mencakup total 543 juta orang.

Para peneliti dari Institut Kesehatan Global Barcelona dan lembaga penelitian kesehatan Prancis, INSERM, menggunakan model untuk memprediksi kematian yang disebabkan oleh suhu di setiap wilayah pada musim panas tahun 2022 lalu.

Menurut studi terbaru itu, diperkirakan 61.672 kematian terkait dengan cuaca panas antara 30 Mei dan 4 September tahun lalu.

Disebutkan lebih lanjut oleh studi itu bahwa gelombang panas yang sangat kuat dalam sepekan, pada 18-24 Juli, telah menyebabkan lebih dari 11.600 kematian.

"Jumlah kematian yang sangat tinggi. Kami mengetahui dampak cuaca panas terhadap kematian setelah tahun 2003, tapi dengan analisis ini, kami melihat masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk melindungi masyarakat," sebut peneliti INSERM, Hicham Achebak, yang juga salah satu penyusun studi itu.

Lebih dari 70.000 kematian berlebih tercatat pada tahun 2004, saat salah satu gelombang panas terburuk dalam sejarah Eropa melanda.

Menurut studi terbaru, jumlah kematian tertinggi akibat cuaca panas tercatat di Italia dengan 18.010 kematian, yang disusul oleh Spanyol dengan 11.324 kematian dan Jerman dengan 8.173 kematian. Sebagian besar kematian merupakan orang-orang berusia 80 tahun ke atas.

Sekitar 63 persen angka kematian dalam studi itu, dilaporkan merupakan perempuan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan Eropa mengalami pemanasan dua kali lipat dari rata-rata global. Sementara dunia menghangat rata-rata hampir 1,2 derajat Celsius sejak pertengahan tahun 1800-an, di mana tahun lalu Eropa melaporkan suhu lebih panas sekitar 2,3 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri.

Studi terbaru itu juga memperkirakan bahwa kecuali sesuatu dilakukan untuk melindungi manusia dari kenaikan suhu, pada tahun 2030 Eropa akan menghadapi lebih dari 68.000 kematian setiap musim panas. Kemudian tahun 2040, menurut studi itu, akan tercatat lebih dari 94.000 kematian dan pada tahun 2050 bisa meningkat menjadi 120.000 kematian.

"Prediksi ini didasarkan pada tingkat kerentanan saat ini dan suhu di masa mendatang. Jika kita mengambil tindakan yang sangat efektif, kerentanan itu bisa dikurangi," sebut Achebak.


























Artikel ini telah tayang di news.detik.com dengan judul "Mengerikan! 61.000 Orang Tewas Akibat Panas Ekstrem di Eropa"