Hagia Sophia

17 January 2026

Pakar Gizi Hanya Sarapan Makan Putih Telur Selama 2 Minggu, Ini Dampaknya

Foto: Getty Images/iStockphoto/svehlik

Seorang ahli diet mengaku terbiasa dengan rutinitas sarapan yang sederhana. Hampir setiap hari, Karen Ansel, RDN, menyantap dua butir telur, entah direbus, orak-arik, atau setengah matang, kadang dipadukan dengan sayur dan buah.

Ansel pun diminta menjalani tantangan makan putih telur saja untuk sarapan setiap hari selama dua minggu, dan tidak merasa keberatan.

"Tidak masalah. Saya bisa melakukannya," pikirnya saat memulai tantangan tersebut, dikutip dari Women's Health.

Alasan memilih putih telur cukup menggoda. Dibandingkan telur utuh, putih telur lebih rendah kalori, lemak, dan kolesterol, tetapi tetap mengandung protein tinggi.

"Dengan tiga setengah ram protein berkualitas tinggi per butir, putih telur adalah makanan utama untuk mengontrol nafsu makan dan membangun otot," jelas Ansel.

Hal-hal yang Dirasakan Karen

1. Kenyang Lebih Lama di Pagi Hari
Awalnya, ia khawatir sarapan putih telur tidak cukup mengenyangkan. Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti.

Beberapa putih telur, biasanya dari dua hingga tiga butir telur, ternyata mampu membuat Ansel kenyang hingga waktu makan siang.

Putih telur tersebut kerap dicampur dengan sayuran seperti daun bawang atau bayam, ditambah satu porsi buah untuk variasi. Selama dua minggu itu, ia mengaku tidak mengalami perut keroncongan di tengah pagi.

2. Olahraga Terasa Lebih Optimal
Sebelum olahraga pagi, ia terbiasa makan makanan ringan agar tidak terasa berat di perut. Telur orak-arik dalam porsi besar biasanya tidak cocok, tetapi dua putih telur rebus justru terasa pas.

Ansel merasakan energi yang stabil selama latihan, tanpa rasa lemas yang kerap muncul setelah mengonsumsi karbohidrat seperti pisang atau roti panggang. Selain itu, tidak ada rasa begah atau kembung yang mengganggu saat berolahraga.

3. Cepat Bosan dengan Putih Telur
Meski bisa makan telur utuh setiap hari tanpa jenuh, cerita berbeda terjadi pada putih telur. Ia mengaku cepat merasa bosan.

Berbagai percobaan dilakukan, termasuk membuat oatmeal 'tanpa oat' dari campuran putih telur, pisang, susu, dan kayu manis. Tetapi, hasilnya justru mengecewakan.

Tekstur putih telur juga kerap menjadi kenyal berlebihan. Saat dibuat omelet, rasanya bahkan diibaratkan seperti plastik.

4. Sangat Merindukan Kuning Telur
Hal yang paling dirindukan selama eksperimen ini adalah kuning telur yang masih cair. Dari segi rasa, tektur, hingga warna, kuning telur membuat sarapan terasa lebih memuaskan.

Selain soal rasa, ada pula aspek gizi yang hilang.

"Kuning telur adalah tempat Anda akan menemukan hampir semua nutrisi, seperti vitamin B, vitamin E, vitamin D, zat besi, seng (zinc), dan kolin," beber Ansel.

Ia juga menambahkan bahwa meski putih telur mengandung sebagian besar protein, manfaat akan lebih optimal jika mengonsumsi telur utuh.

"Selain itu, kuning telur memberi Anda hampir lima gram lemak, yang dapat membantu Anda merasa kenyang lebih lama daripada hanya mengonsumsi putih telur," kata Ansel.

5. Banyak Telur Terbuang
Selama dua minggu, Ansel memisahkan sendiri putih dan kuning telur. Ia menyebut banyak kuning telur yang terbuang meski sudah berusaha menyimpannya untuk resep lain.

Pengalaman ini membuatnya menyimpulkan bahwa jika suatu saat kembali menjalani pola serupa, ia akan memilih membeli putih telur kemasan demi mengurangi pemborosan makanan.

Setelah dua minggu, ia akhirnya kembali mengonsumsi telur utuh untuk sarapan. Meski begitu, satu kebiasaan baru Ansel tetap pertahankan, yaitu mengonsumsi putih telur rebus sebelum olahraga, karena dinilai sangat membantu performa latihan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ahli Diet Sarapan Cuma Makan Putih Telur Selama 2 Minggu, Begini Efeknya"