![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/Hugo Hu |
Fenomena 'pasar jodoh' bermunculan di taman-taman di berbagai wilayah China. Hal ini disebut sebagai dampak jangka panjang kebijakan satu anak yang diberlakukan pemerintah pada 1979.
Kebijakan tersebut membuat jumlah perempuan jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki, yang memicu krisis pernikahan dan menurunnya angka kelahiran. Tetapi, generasi muda di China menghadapi tantangan yang semakin besar, karier yang menuntut, inflasi, dan harga properti yang melonjak, yang menyebabkan menurunnya minat untuk menikah.
Pada 2024, jumlah pernikahan turun sebesar 17 persen, sementara angka kelahiran mencapai rekor terendah. Pemerintah telah berupaya mendorong pernikahan dan kelahiran anak dengan menawarkan insentif keuangan bagi keluarga dengan banyak anak, tetapi dampaknya minimal.
Situasai di 'Pasar Jodoh'
Di sana, para orang tua berkumpul untuk mencari jodoh anaknya di 'pasar jodoh'. Setiap Jumat dan Sabtu pagi, ratusan orang tua yang berharap mendapat cucu mendatangi taman di puncak bukit, di sebuah kota barat daya China untuk 'xiangqin jiao' atau 'pasar jodoh'.
Mayoritas peserta adalah pensiunan yang membawa kertas berisi resume atau profil anak mereka yang masih lajang. Hal ini seperti versi nyata dari profil kencang daring.
Umumnya, mereka tidak memuat foto atau nama. Tetapi, mereka mencantumkan jenis kelamin, usia, tinggi badan, pekerjaan, berat badan, hingga penghasilan.
Di pasar pernikahan di Taman Rakyat Chongqing, salah satu profil perempuan menulis calon suaminya harus 'tidak memiliki kebiasaan buruk', tinggi kurang dari 173 cm, berat sekitar 66 kg, dan berusia di bawah 29 tahun. Ia juga mencantumkan gaji bulanan sekitar 9,4 juta rupiah serta aset yang dimiliki.
Bahkan, ada beberapa orang yang datang ke 'pasar jodoh' tanpa bantuan orang tuanya. Salah satunya wanita bernama Zhang Jing (34) yang bekerja sebagai sales.
Ia kesulitan menemukan pasangan yang cocok, karena banyak pria tidak berpenghasilan cukup atau tidak memiliki rumah.
"Bukan berarti kami pilih-pilih, tapi mereka tidak cukup baik," beber Zhang, dikutip dari Mirror UK.
Salah satu kandidat potensial adalah pria bernama Huang Weiming (36) yang memiliki tinggi 170 cm, bekerja di bidang pemasaran dengan gaji sekitar 287 juta rupiah per tahun, serta memiliki rumah dan mobil.
Syarat yang ia cari sebagai pasangan hanya 'kurus', lalu memiliki pandangan yang sama dengannya.
"Ada ekspektasi bahwa pria harus melakukan ini atau itu untuk memenuhi persyaratan wanita. Ada banyak 'konten online negatif' yang menyesatkan," kata Huang.
Ia mengatakan akan menyerah dan menjadi bujangan jika tidak menemukan pasangan sebelum usia 40 tahun.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Situasi 'Pasar Jodoh' China, Ortu Ramai-ramai Cari Pasangan Buat Anaknya yang Jomblo"
