Hagia Sophia

23 February 2026

Gigi Berlubang Bisa Sebabkan Serangan Jantung?

ilustrasi (istimewa)

Kalau ada suatu hal paling berharga yang dimiliki manusia, mungkin itu waktu. Karena kita tidak bisa mengulang kembali, barang satu detik yang telah terlewat. Hal ini juga diamini oleh Suryani (41), istri dari Steven (40) yang mengalami serangan jantung secara tidak terduga.

Suryani, atau yang akrab dipanggil Ani sempat harus 'berpisah' dengan suami tercintanya 50 menit lamanya. Steven sempat dinyatakan meninggal oleh tim medis akibat mengalami serangan jantung.

Serangan Jantung Tiba-tiba

Steven berprofesi sebagai worship pastor. Dirinya memutuskan menerima panggilan Tuhan untuk menyebarkan kebaikan setiap harinya kepada jemaat. Sayangnya, di akhir tahun 2025, Steven terpaksa berhenti memberikan pelayanan untuk sementara. Bukan tidak mau, tapi karena tidak bisa.

Serangan jantung dan gigi berlubang. Bagi Ani, ini adalah dua hal yang sebelumnya dianggap tidak memiliki hubungan. Namun, siapa sangka, dari gigi bolong tersebut, membuat untuk pertama kali dalam hidupnya, Ani harus berpisah dengan suami tercintanya untuk beberapa saat.

"Sampai IGD, diantar ke depan pintu IGD, seketika itu langsung kejang 20 detik kisaran kejangnya dan dia (Steven) langsung 'hilang'. Ternyata itu serangan jantung," kata Ani saat bercerita dengan detikcom, di Kabupaten Tangerang, Jumat (19/12/2025).

Ani merasa terpukul dan kecewa. Bagaimana bisa ini terjadi? Ia tahu betul bahwa suaminya adalah sosok yang sangat menjaga kesehatannya. Tidak pernah sakit, dan jarang sekali mengeluh. Namun, masalah gigi berlubang tersebut memang luput dari perhatian keduanya.

"Dikasih liat list-nya. Ternyata tidak adanya itu 20.21, ada lagi itu 21.10," kata Ani menceritakan kejadian tersebut.

Setelah dokter memaparkan kondisi medisnya, gambaran yang lebih besar mulai terlihat. Satu per satu istilah yang tampak asing mulai disebutkan. Dokter dengan hati-hati menjelaskan bahwa ada masalah serius pada Steven.

"Jadi ini ada aritmia, aritmia udah kelihatan, terus kata dokter ada penyumbatan, jadi membuat tersendat, terus ada lagi aneurisma, " ucap Ani sambil mengingat-ingat ucapan dokter kala itu.

Dalam kondisi saat itu, Ani dituntut untuk tegar. Baginya, Steven bukan hanya seorang suami dan ayah yang hebat. Bagi Ani, Steven adalah dunianya.

Sumber Masalah yang Tak Disangka

Saat dokter memeriksa kondisi jantung Steven, hasilnya sangat mengejutkan. Jika biasanya jantung sehat itu padat dan berbentuk seperti buah mangga, kondisi jantung Steven sudah berubah drastis karena infeksi yang berasal dari gigi berlubang.

"Dari ICCU diinfokan sama dokter, ada infeksi. Mendapatkan hasil yang sangat mengejutkan. Dapatnya itu fix dari gigi," kata Ani.

Setelah serangkaian pemeriksaan, termasuk TEE (Transesophageal Echocardiogram) dan kultur darah. Terungkap sumbernya berasal dari kuman yang telah lama bersarang di gigi yang berlubang hingga menembus sistem pertahanan tubuh. Kuman tersebut masuk ke pembuluh darah dan akhirnya menetap hingga membuat 'rumah' di dalam jantung.

"Ending-nya, menjalani prosedur Bentall," kata Ani.

Di tengah kondisi Steven yang butuh lebih dari sekadar keajaiban, perjalanan medis keluarga kecil ini tak lepas dari peran Siloam Hospitals sebagai tempat pasien mendapatkan penanganan lanjutan.

"Saya cuma bilang, kalau memang dia diizinkan dipanggil, itu yang terbaik. Tuhan ini dahsyat ya. Lalu IGD juga mau mengusahakan nyawa orang, selama 50 menit," kata Ani.

"Dahsyat Tuhan pertemukan dengan tim terbaik, tempat terbaik, orang-orang terbaik," sambungnya.

Operasi penggantian katup dan aorta dijadwalkan pada awal November. Di titik ini, keluarga Steven sudah tidak lagi berbicara tentang rencana jangka panjang, melainkan tentang kemungkinan paling dasar antara hidup atau tidak.

"Kalau yang kemarin aja 50 menit, Tuhan izinkan lewat, kalau yang setelahnya nggak mungkin Tuhan tanggung-tanggung itu," ucapnya.

Jalan Terakhir Menyelamatkan Jantung

Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, dr. Dicky Aligheri Wartono, Sp. BTKV (K), PhD, FIHA, FICA menjelaskan operasi yang dijalani Steven merupakan tindakan besar yang dikenal dengan Modified Bentall Procedure, yaitu operasi jantung yang kompleks yang melibatkan rekonstruksi dan penggantian katup aorta, akar aorta (aortic root), dan sebagian aorta asenden (ascending aorta) dengan menggunakan tabung prostetik atau graft.

"Kami harus mengganti itu semua, katup aortanya, aortic root-nya," ucap dr. Dicky saat interview detikcom, di Siloam Hospitals Lippo Village, Karawaci, Jumat (19/12/25).

Namun, risiko tidak berhenti setelah penggantian dilakukan. Meski sumber infeksi utama sudah diatasi, bakteri dari tempat lain seperti gigi tetap bisa menyebar lewat darah dan kembali menyerang katup buatan yang baru dipasang.

Kondisi ini dikenal sebagai prosthetic valve endocarditis, sehingga perlu melakukan pembedahan gigi terlebih dahulu sebelum melakukan protesis pada jantungnya.

Tantangan yang dihadapi tim medis pun tak kalah berat. Gangguan aliran darah dan kondisi jaringan jantung yang sangat rapuh akibat infeksi membuat setiap jahitan berisiko memicu perdarahan hebat. Situasinya begitu genting hingga dokter menggambarkannya dengan analogi sederhana.

"Mungkin kalau bahasa awamnya kita bisa melihat seperti menjahit tahu. Satu baik mungkin robek, satu baik nggak berhasil dijahit," katanya.

Meski penuh risiko, operasi yang semula diperkirakan memakan waktu hingga sepuluh jam akhirnya selesai dalam enam jam. Ketika pintu ruang operasi terbuka, tim dokter berhasil menuntaskan prosedur di tengah kondisi jantung yang sangat rapuh sebuah hasil yang bahkan sulit dibayangkan beberapa hari sebelumnya.

Jangan Anggap Remeh Apa Pun

Belajar dari kasus yang dialami Steven, memang sebaiknya seseorang tidak boleh meremehkan apa saja, termasuk dalam menjaga kebersihan dan kesehatan gigi.

Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular dr. Maulidya Ayudika Dandanah, Sp.BTKV(K), FIHA, mengingatkan bahwa menjaga kebersihan gigi saja tidak cukup. Jika batuk dan pilek sering kambuh atau berlangsung berulang, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar penyebabnya bisa diketahui sejak dini.

"Karena kalau itu ternyata adalah infeksi bakteri yang tidak diatasi dengan tuntas, maka bisa menjadi infeksi jantung," ucap dr. Maulidya.

Setelah tindakan selesai, tim medis masih terus memantau Steven berminggu-minggu untuk memastikan kondisi benar-benar stabil dan yang terpenting, infeksi yang sempat mengancam nyawanya benar-benar hilang dari tubuh.

Harapan Baru Steven dan Keluarga

Tanggal 19 November 2025 mungkin akan selalu dikenang oleh Steven dan keluarga. Pasalnya, ini adalah hari saat mereka mendapat kabar hasil kultur darah dari lab menunjukan negatif.

Kala itu, Steven masih harus melalui kondisi pasca-operasi, seperti harus beristirahat penuh selama dua minggu di rumah.

"Sama sekali saya gak kepikiran kalau akan kejadian serius gitu untuk kesehatan saya. Puji Tuhan saya bisa recovery normal itu 1 bulan 4 minggu. Sampai hari ini pun masih berjuang untuk bisa recovery normal," kata Steven.

Memasuki Januari, dokter kembali mengingatkan agar aktivitas fisik tetap dibatasi. Larangan ini terutama berlaku untuk aktivitas berat yang sebelumnya menjadi kebiasaan Steven. Hingga saat ini, kondisi Steven sudah bisa berjalan dan melakukan aktivitas ringan, perlahan memulihkan diri agar bisa kembali seperti sediakala.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gigi Berlubang Bisa Picu Serangan Jantung?"