![]() |
| Sahur pakai oralit diklaim bikin lebih tahan haus. Foto: Getty Images/iStockphoto/fizkes |
Minum oralit saat sahur diklaim bisa membuat tubuh lebih tahan haus selama berpuasa karena kandungan elektrolitnya membantu penyerapan cairan. Meski terdengar masuk akal, oralit sejatinya dirancang untuk mengatasi dehidrasi akibat diare atau muntah, bukan untuk konsumsi rutin orang sehat.
Bahkan, kandungan natrium dalam oralit berpotensi memicu rasa haus pada orang yang tidak sedang mengalami kekurangan cairan, karena tubuh akan berusaha menyeimbangkan kembali konsentrasi garam dalam darah.
Apa Itu Oralit dan Bagaimana Cara Kerjanya di Tubuh?
Oralit, yang secara internasional dikenal sebagai Oral Rehydration Salts (ORS), adalah larutan yang dirancang untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare, muntah, atau kondisi dehidrasi lainnya. Komposisinya terdiri dari air, natrium klorida, glukosa, kalium, serta trisodium sitrat yang berperan menjaga keseimbangan asam-basa tubuh.
Berbeda dari air putih biasa, oralit bekerja melalui mekanisme biologis spesifik di usus halus. Glukosa membantu penyerapan natrium melalui mekanisme co-transport, yakni proses ketika glukosa dan natrium masuk ke dalam sel usus secara bersamaan. Ketika natrium terserap, air mengikuti secara osmotik ke dalam aliran darah, sehingga pemulihan cairan berlangsung lebih cepat dan efisien. Mekanisme inilah yang membuat ORS efektif dalam mencegah dan mengatasi dehidrasi akut.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan ORS sebagai terapi rehidrasi standar dalam penanganan diare karena efektivitasnya dalam menurunkan risiko komplikasi akibat kehilangan cairan. Sejumlah tinjauan ilmiah juga menegaskan bahwa ORS dikembangkan sebagai terapi rehidrasi pada kondisi kehilangan cairan, bukan sebagai minuman hidrasi rutin bagi individu sehat (Munthali et al., 2015).
Larutan ini tidak mengatasi penyebab dehidrasi, melainkan menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang secara cepat dan terukur. Dalam konteks kesehatan masyarakat global, penggunaan ORS telah berkontribusi signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian akibat diare, terutama di negara berkembang. Lalu, apakah mekanisme ini juga membuat oralit bermanfaat bagi orang sehat yang berpuasa?
Benarkah Elektrolit Bisa Membuat Lebih Tahan Haus Saat Puasa?
Secara teori, minuman yang mengandung elektrolit memang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Natrium atau garam, misalnya, berperan penting dalam mengatur jumlah cairan di dalam dan di luar sel tubuh. Saat seseorang kehilangan banyak cairan, seperti ketika diare atau muntah, minuman yang mengandung natrium terbukti membantu tubuh menyerap air lebih cepat dibanding air putih biasa (WHO, 2005; Binder et al., 2014).
Namun pada orang yang sehat dan tidak sedang dehidrasi, efeknya bisa berbeda. Jika kadar natrium dalam darah meningkat, tubuh justru akan memicu rasa haus. Hal ini terjadi karena otak mendeteksi darah menjadi lebih "pekat" dan memberi sinyal agar kita minum untuk mengencerkan kembali konsentrasi garam tersebut (Verbalis, 2003). Dengan kata lain, minuman tinggi natrium tidak otomatis membuat seseorang lebih tahan haus, bahkan bisa memicu keinginan minum lebih cepat.
Selain itu, kemampuan tubuh menahan cairan tidak hanya ditentukan oleh kandungan elektrolit dalam satu kali minum. Faktor lain seperti total asupan cairan sejak berbuka, konsumsi makanan asin, suhu lingkungan, aktivitas fisik, hingga kerja hormon pengatur cairan dan fungsi ginjal juga berperan (Popkin et al., 2010).
Karena itu, pada orang sehat yang tidak mengalami dehidrasi, konsumsi oralit belum terbukti secara ilmiah membuat lebih tahan haus saat puasa.
Bagaimana dengan Air Kelapa?
Air kelapa kerap dijuluki sebagai "oralit alami" karena sama-sama mengandung elektrolit. Secara alami, air kelapa mengandung kalium, sedikit natrium, serta karbohidrat sederhana. Kombinasi ini memang dapat membantu menggantikan cairan tubuh, terutama setelah aktivitas fisik ringan hingga sedang (Ismail et al., 2007).
Namun, komposisi air kelapa berbeda dengan oralit. Oralit diformulasikan secara khusus dengan rasio natrium dan glukosa tertentu untuk mengatasi dehidrasi akibat diare. Sebaliknya, air kelapa cenderung lebih tinggi kalium dan lebih rendah natrium. Karena itu, dalam kondisi medis seperti diare akut, air kelapa tidak dapat menggantikan peran oralit sebagai terapi rehidrasi standar.
Dalam konteks sahur, air kelapa boleh saja dikonsumsi sebagai variasi minuman bagi orang sehat. Kandungan elektrolit alaminya bisa membantu menjaga keseimbangan cairan, dan rasanya yang ringan membuatnya terasa menyegarkan. Namun, air kelapa tetap mengandung gula alami. Jika dikonsumsi berlebihan, kandungan gula alaminya bisa membuat energi naik cepat lalu turun, yang pada sebagian orang dapat memengaruhi stamina saat puasa.
Dengan kata lain, air kelapa bisa menjadi pilihan tambahan yang sehat, terutama saat berbuka. Namun untuk menjaga hidrasi menjelang puasa, air putih tetap menjadi pilihan paling sederhana, efisien, dan cukup bagi tubuh.
Cara Aman Agar Tidak Cepat Haus Saat Puasa
Agar tidak cepat haus saat puasa, kuncinya bukan pada satu jenis minuman tertentu, melainkan pada pola hidrasi dan pilihan makanan secara keseluruhan.
Pertama, pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sejak berbuka hingga sahur. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 2 liter cairan per hari, meski kebutuhan tiap orang bisa berbeda tergantung aktivitas dan kondisi tubuh. Bisa dibagi secara bertahap, misalnya saat berbuka, setelah makan malam, dan menjelang sahur. Minum dalam jumlah cukup membantu tubuh menyimpan cadangan cairan sebelum berpuasa.
Kedua, perhatikan asupan garam saat sahur. Makanan yang terlalu asin dapat meningkatkan kadar natrium dalam darah sehingga memicu rasa haus lebih cepat keesokan harinya. Gorengan, makanan instan, atau lauk dengan banyak sambal dan kecap asin sebaiknya dibatasi.
Ketiga, pilih makanan yang membantu hidrasi lebih stabil. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau kentang dicerna lebih lambat sehingga energi lebih bertahan lama. Tambahkan protein seperti telur, ayam, tahu, atau tempe untuk membantu rasa kenyang lebih lama. Buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka, melon, atau pir juga bisa membantu menambah asupan cairan alami.
Terakhir, batasi minuman berkafein seperti kopi dan teh dalam jumlah berlebihan saat sahur. Kafein bersifat diuretik ringan yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil pada sebagian orang, sehingga berpotensi memengaruhi keseimbangan cairan.
Dengan pola makan seimbang dan asupan cairan yang cukup, tubuh sebenarnya sudah memiliki mekanisme alami untuk menjaga keseimbangan cairan selama puasa. Jadi, dibanding mengandalkan oralit, pendekatan nutrisi yang tepat justru lebih efektif dan aman untuk membantu mengurangi rasa haus sepanjang hari.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Muncul 'Sekte' Sahur Pakai Oralit, Diklaim Bikin Tak Cepat Haus Seharian"
