![]() |
| Foto: (Getty Images/Joel Carillet) |
"Saya merasa terkontaminasi." Itulah kalimat pertama yang diucapkan James Gallagher, koresponden kesehatan BBC, saat ia melihat sampel darahnya sendiri di bawah mikroskop.
James baru saja merampungkan sebuah eksperimen ekstrem, berdiri di pinggir jalan raya London yang padat selama 10 menit untuk melacak ke mana polusi udara pergi di dalam tubuhnya.
James mengajukan diri sebagai relawan dalam penelitian yang dipimpin oleh Prof. Jonathan Grigg dari Queen Mary University of London. Hasilnya mengejutkan sekaligus mengerikan.
Hanya dalam waktu singkat, polusi udara sudah merambah jauh melampaui paru-parunya.
Bintik Hitam di Sel Darah Merah
Selama ini, banyak orang mengira polusi udara hanya akan tersaring di hidung atau terjebak di paru-paru. Namun, melalui sampel darah James, peneliti membuktikan bahwa partikel terkecil polusi, yang dikenal sebagai PM 2.5, mampu menembus dinding paru-paru dan masuk langsung ke aliran darah.
Di bawah mikroskop, sel darah merah James yang seharusnya berwarna merah bersih tampak ternoda oleh bintik-bintik hitam kecil.
"Bintik itu adalah karbon dan bahan kimia lain, seperti bongkahan batu bara mini hasil pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna," jelas James dalam laporannya.
80 Juta Sel Darah 'Mengangkut' Polusi
Peneliti Dr Norrice Liu mengungkapkan bahwa pada sampel darah relawan, rata-rata satu dari setiap 2.000 hingga 3.000 sel darah merah telah "menumpangi" partikel polusi.
Jika dikalkulasikan dengan total 5 liter darah dalam tubuh orang dewasa, diperkirakan ada sekitar 80 juta sel darah merah yang mengangkut polusi ke seluruh tubuh.
"Setiap kali saya berjalan di jalan yang sibuk, sekarang saya berpikir seberapa banyak polusi ini mengalir di tubuh saya," ujar Dr Liu.
Mengendap di Otak hingga Janin
Partikel polusi ini tidak dikeluarkan lagi melalui napas. Prof. Grigg menjelaskan bahwa partikel-partikel tersebut kemungkinan besar menyelinap melalui pembuluh darah dan menetap di berbagai organ tubuh.
"Tidak ada alasan bagi polusi ini untuk memilih satu organ saja, jadi kemungkinan besar mereka ada di mana-mana," tambah Dr. Liu. Hal inilah yang menjelaskan mengapa polusi udara memicu masalah kesehatan kronis:
- Jantung dan Stroke: Menyebabkan peradangan pada pembuluh darah.
- Otak: Dikaitkan dengan risiko demensia.
- Janin: Partikel karbon hitam ditemukan di plasenta bayi dalam kandungan.
Efek yang Tak Terlihat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa 99 persen penduduk dunia menghirup udara yang terkontaminasi. Karena polusi saat ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata, banyak orang tidak sadar bahwa setiap hari tubuh mereka sedang "dikotori" secara perlahan.
Kabar baiknya, kadar polusi dalam darah relawan tersebut menurun setelah menghirup udara bersih selama dua jam. Namun, bagi warga yang tinggal dan bekerja di area padat setiap hari, ancaman ini bersifat permanen dan terus menumpuk.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Pria Jalani Eksperimen Hirup Polusi, Ini yang Terjadi pada Tubuhnya"
