Hagia Sophia

06 March 2026

Waspadai GERD saat Bukber di Resto 'All You Can Eat'

All You Can Eat. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pattarisara Suvichanarakul

Restoran All You Can Eat (AYCE) kerap menjadi pilihan buka puasa bersama. Setelah hampir seharian tidak makan dan minum, keinginan untuk langsung menikmati berbagai menu dalam jumlah banyak terasa sangat kuat.

Daging berlemak, makanan pedas, gorengan, hingga minuman manis sering dikonsumsi hampir bersamaan dalam waktu singkat. Tidak sedikit yang merasa momen berbuka adalah waktu untuk "balas dendam" untuk makan dengan porsi yang jauh lebih besar dibanding biasanya.

Tubuh yang seharian kosong memang seperti memberi sinyal ingin diisi cepat dan banyak. Situasi ini membuat lambung menerima asupan dalam volume besar secara tiba-tiba. Ketika makanan masuk dalam jumlah besar sekaligus, terutama yang berlemak dan pedas, tekanan di dalam lambung meningkat.

Tidak sedikit yang kemudian mengeluh perut terasa sangat penuh, cepat kenyang, mual, atau tidak nyaman di ulu hati beberapa saat setelah makan. Keluhan ini sering langsung dianggap sebagai asam lambung naik atau GERD. Padahal, pada banyak kasus, GERD tidak muncul tiba-tiba tapi akibat dipicu secara terus-menerus dari kondisi dispepsia.

Dispepsia, Keluhan yang Sering Dianggap Maag Biasa

Dispepsia adalah kumpulan gejala berupa rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, nyeri atau rasa terbakar di ulu hati, serta kembung yang mengganggu. Banyak yang menyebutnya sebagai maag, padahal secara medis istilahnya lebih luas dan tidak selalu berkaitan dengan luka pada dinding lambung. Pada sebagian besar kasus, keluhan muncul karena gangguan fungsi, bukan karena ada luka di lambung.

Makan dalam porsi besar, terutama tinggi lemak, dapat memperlambat pengosongan lambung. Isi lambung bertahan lebih lama, tekanan di dalamnya meningkat, dan dinding lambung teregang. Respons ini memicu sensasi begah, mual, hingga rasa tidak nyaman yang menetap.

Dalam konteks berbuka puasa, perubahan pola makan yang drastis turut berperan. Lambung yang seharian kosong tiba-tiba menerima asupan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kondisi ini sering disebut masyarakat sebagai "lambung kaget". Secara fisiologis, yang terjadi adalah adaptasi mendadak terhadap volume dan komposisi makanan yang berat, sehingga fungsi gerak lambung tidak seefisien biasanya.

Jika kebiasaan ini terjadi sesekali, keluhan umumnya bersifat sementara dan membaik dengan pengaturan pola makan. Namun bila pola makan berlebihan saat berbuka terus berulang, dispepsia dapat muncul lebih sering dan terasa semakin mengganggu, terutama pada malam hari menjelang istirahat.

Jika Berulang, Risiko GERD Ikut Meningkat

Dispepsia yang terjadi berulang tidak otomatis berubah menjadi GERD. Akan tetapi, kondisi lambung yang sering mengalami tekanan tinggi dan pengosongan lambat dapat meningkatkan peluang terjadinya refluks asam.

Saat tekanan dalam lambung meningkat, katup antara lambung dan kerongkongan berisiko tidak menutup optimal. Isi lambung yang asam dapat terdorong naik ke esofagus dan memicu rasa terbakar di dada atau heartburn. Inilah yang dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD.

Penelitian dari jurnal American College of Gastroenterology menjelaskan bahwa porsi makan besar dan makanan tinggi lemak merupakan faktor risiko terjadinya refluks. Jika seseorang sering mengalami dispepsia akibat pola makan berlebihan, maka paparan terhadap faktor risiko refluks juga terjadi berulang.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat keluhan bergeser dari sekadar begah dan cepat kenyang menjadi disertai sensasi panas di dada atau rasa asam di tenggorokan.

Bukan Soal Tempatnya, Tapi Polanya

Makan di restoran AYCE saat berbuka tidak langsung menyebabkan GERD. Yang lebih berpengaruh adalah cara makannya. Banyak orang cenderung makan sangat cepat dan dalam jumlah besar di awal waktu karena khawatir dan rugi karena tidak cukup mencoba semua menu yang tersedia.

Memberi jeda tidak berarti membuang waktu. Setelah minum air dan mengonsumsi porsi kecil makanan pembuka, beri jarak sekitar 5-10 menit sebelum mengambil hidangan utama. Waktu singkat ini membantu lambung mulai beradaptasi setelah seharian kosong. Setelah itu, ambil makanan sedikit demi sedikit, bukan sekaligus banyak.

Durasi makan di AYCE umumnya 90 hingga 120 menit, dan waktu tersebut cukup jika dimanfaatkan dengan ritme stabil. Keluhan sering muncul ketika sebagian besar makanan masuk dalam 20-30 menit pertama. Saat volume meningkat terlalu cepat, rasa penuh berlebihan dan begah lebih mudah terjadi.

Mengatur tempo makan memberi kesempatan tubuh mengirimkan sinyal kenyang dengan lebih akurat. Dengan pola yang lebih terkontrol, risiko dispepsia bisa ditekan. Jika keluhan tidak sering muncul, risiko berkembang menjadi refluks atau GERD juga lebih kecil.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ancaman GERD di Balik Keseruan Bukber 'All You Can Eat'"