![]() |
| Waspadai juga paparan bisphenol A. Foto: Getty Images/syahrir maulana |
Sah-sah saja mengatakan sarden kalengan bukan ultra processed food (UPF), faktanya banyak yang formulasinya memang terlalu simpel untuk masuk kategori tersebut. Justru yang lebih penting untuk dipastikan adalah kemasan, jangan sampai penyok atau kembung.
Dalam kaitannya dengan keamanan pangan, bentuk kaleng yang berubah bukan sekadar masalah tampilan. Meski terlihat sepele, kaleng yang penyok dan menggembung bisa menjadi tanda bahwa keamanan makanan di dalamnya mulai diragukan.
Kaleng Menggembung
Makanan kaleng dibuat dalam kondisi steril dan kedap udara. Setelah makanan dimasukkan, kaleng dipanaskan dengan suhu tinggi untuk membunuh mikroorganisme, lalu disegel rapat agar bakteri tidak masuk kembali.
Masalah muncul ketika segel mulai rusak atau ada mikroorganisme yang berhasil berkembang di dalam kemasan. Aktivitas bakteri dapat menghasilkan gas yang perlahan mendorong dinding kaleng hingga tampak menggembung.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Salah satu bakteri yang paling sering dikaitkan dengan makanan kaleng rusak adalah Clostridium Botulinum yang dapat menghasilkan racun/toksin berbahaya dan menyerang sistem saraf.
Sebuah penelitian yang terbit di Journal of Veterinary Research tahun 2022 menemukan adanya pertumbuhan bakteri Clostridium pada sampel ikan kaleng yang menggembung akibat terbentuknya gas di dalam kemasan.
Yang membuatnya berbahaya, makanan yang sudah terkontaminasi tidak selalu berubah warna atau berbau busuk. Kadang isi sarden masih tampak normal ketika dibuka.
Karena itu, kaleng yang sudah menggembung sebaiknya langsung dihindari meski tanggal kedaluwarsanya masih panjang.
Kaleng Penyok
Kaleng penyok juga sering dianggap sepele, dianggap wajar selama tidak bocor. Padahal benturan keras bisa menyebabkan retakan sangat kecil di bagian sambungan atau lapisan pelindung dalam kaleng.
Area yang paling perlu diwaspadai adalah bagian tutup, sudut, dan lipatan sambungan kaleng. Di titik inilah sistem kedap udara bekerja menjaga makanan tetap steril. Kalau kerusakannya terjadi di bagian tersebut, udara dan bakteri bisa perlahan masuk tanpa terlihat jelas dari luar.
Benturan juga dapat merusak lapisan pelindung bagian dalam kaleng yang berfungsi mencegah makanan kontak langsung dengan logam maupun resin pelapis kemasan. Lapisan ini umumnya menggunakan epoxy resin yang dalam beberapa produk masih berkaitan dengan penggunaan Bisfenol A atau BPA.
BPA dipakai karena mampu membantu lapisan kaleng lebih tahan panas, tidak mudah berkarat, dan menjaga rasa makanan tetap stabil selama penyimpanan. Masalahnya, senyawa ini dapat bermigrasi ke makanan, terutama pada kemasan kaleng yang penyok, penyimpanan yang lama, atau berada pada suhu lingkungan yang panas.
Hal tersebut pernah diteliti dalam sebuah riset di jurnal Food Additives & Contaminants yang mengamati pengaruh kaleng penyok terhadap migrasi BPA dari lapisan epoxy ke makanan. Peneliti sengaja membuat sebagian kaleng mengalami penyok untuk melihat dampaknya terhadap perpindahan BPA.
Hasilnya, kaleng yang mengalami kerusakan fisik menunjukkan peningkatan migrasi BPA ke makanan.
Paparan BPA dalam jumlah kecil memang tidak langsung menimbulkan gejala. Namun efek akumulasi jangka panjang akibat paparan berulang dari berbagai sumber makanan dan minuman kemasan.
Dalam sejumlah penelitian, BPA dikenal sebagai endocrine disruptor atau senyawa yang dapat mengganggu kerja hormon tubuh. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan metabolik, resistensi insulin, obesitas, gangguan reproduksi, penurunan kualitas sperma, hingga gangguan perkembangan pada anak.
Dokter spesialis gizi klinik dr Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK mengingatkan, konsumsi makanan yang tercemar BPA terus menerus dapat berdampak pada kesehatan.
"Jika konsumsi makanan yang tercemar BPA terus menerus bisa mengganggu kesehatan terutama kesehatan metabolik, gangguan hormonal, dan bahkan kanker," jelas dr Iflan saat dihubungi detikcom, Kamis (21/5/2026).
Cara Aman Memilih Sarden Kalengan
Sarden kalengan sebenarnya tetap bisa menjadi pilihan praktis selama kondisi kemasannya masih baik dan produk disimpan sesuai standar keamanan pangan.
Sebelum membeli, coba perhatikan beberapa hal sederhana:
- hindari kaleng yang menggembung,
- hindari kaleng bocor atau berkarat,
- hindari kaleng yang penyok,
- serta cek tanggal kedaluwarsa produk.
Jika setelah dibuka isi makanan mengeluarkan bau asam menyengat, berbusa, berubah warna, atau teksturnya tampak tidak normal, produk sebaiknya langsung dibuang.
Di tengah ramainya debat apakah sarden kalengan termasuk UPF atau tidak, kondisi kemasan ternyata justru menjadi hal paling mendasar yang menentukan keamanan makanan di dalamnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cek Kemasan! Meski Bukan UPF, Sarden Kalengan Punya Risiko Paparan BPA"
