Hagia Sophia

01 June 2026

Peneliti Indonesia Temukan Bakteri yang Hidup di Suhu Air Mendidih

Ilustrasi sains. Foto: Getty Images/Kkolosov

Tim peneliti Indonesia menemukan bakteri Thermus Javaensis, bakteri tahan panas yang berasal dari geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. Bakteri ini dinilai memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan di berbagai bidang, mulai dari industri pangan, kesehatan, lingkungan, hingga kosmetik.

Penelitian mengenai Thermus javaensis tersebut kini telah terbit di jurnal internasional Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology pada 2026.

Ilmuwan mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD yang merupakan salah seorang penelitinya, menjelaskan, Thermus javaensis merupakan bakteri termofilik, yakni bakteri yang mampu hidup pada suhu sangat tinggi.

"Jadi bakteri Thermus javaensis ini adalah bakteri termofilik ya, yang tahan hidup pada suhu yang tinggi. Jadi bakteri ini di tempat namanya di geiser yang suhunya itu mencapai 100 derajat. Dan ini adalah geiser satu-satunya di Indonesia yang memiliki suhu panas itu," ujarnya saat ditemui oleh detikcom, Senin, (25/05/2026).

Ia mengatakan penelitian di geiser Cisolok sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Timnya mulai melakukan penelitian sejak sekitar 12 tahun lalu, sementara proses isolasi bakteri dilakukan pada 2015.

Namun proses menemukan dan mengembangbiakkan bakteri tersebut di laboratorium bukan perkara mudah. Prof Wellyzar mengatakan bakteri itu memiliki suhu optimal hidup sekitar 65 derajat Celsius sehingga membutuhkan kondisi khusus.

"Jadi kami mengisolasi bakterinya tahun 2015, kemudian proses, kebetulan isolasinya cukup sulit juga karena bakteri ini suhu optimalnya itu 65 derajat. Jadi membutuhkan inkubator yang bisa pada suhu yang tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan tantangan lainnya adalah media agar biasa dapat meleleh pada suhu tersebut sehingga tim peneliti harus menggunakan medium khusus.

"Dan kesulitannya adalah pada suhu sekian, 65 derajat itu medium agar biasanya meleleh. Karena itu kami membutuhkan medium khusus untuk menemukan bakteri ini agar bisa hidup di dalam laboratorium pada suhu 65 derajat," lanjutnya.

Menurutnya, salah satu potensi terbesar dari Thermus javaensis terletak pada enzim yang dihasilkannya. Enzim tersebut tetap stabil meski berada pada suhu tinggi. Ia mengatakan enzim seperti karbohidrase memiliki nilai tinggi untuk berbagai kebutuhan industri.

"Jadi seperti enzim-enzim karbohidrase yang sangat tertinggi di industri, itu bisa dihasilkan oleh bakteri ini," katanya.

Karbohidrase sendiri merupakan kelompok enzim yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan dan fermentasi karena mampu memecah karbohidrat kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana.

Karena itu, bakteri ini dinilai memiliki peluang pemanfaatan yang luas, termasuk di sektor pangan, kesehatan, industri, hingga lingkungan.

"Industri pangan, kesehatan, atau industri dan lingkungan, iya," ujar Prof Wellyzar.

Tak hanya itu, ia juga menyebut spesies bakteri dari kelompok Thermus di luar negeri telah dimanfaatkan dalam bidang kosmetik, termasuk untuk anti-aging.

"Kemudian kalau di luar negeri, spesies dari Thermus itu digunakan untuk anti-aging, dan dia juga bisa, karena bakterinya bisa panas, dia juga bisa mem-boosting kolagen dalam kulit," katanya.

Menurutnya, hal tersebut membuka peluang pemanfaatan Thermus javaensis di industri kecantikan pada masa depan.

"Jadi ini ke depannya bisa juga dimanfaatkan dari sisi industri kosmetik juga," lanjutnya.

Prof Wellyzar menjelaskan bakteri ini juga mampu menghasilkan berbagai jenis enzim lain yang berguna untuk mendegradasi polimer yang selama ini sulit diurai.

"Enzimnya itu, dia bisa menghasilkan berbagai macam enzim, seperti amilase, kitinase, silahase, enzim-enzim yang memang didegradasi, berbagai macam polimer, yang selama ini sulit didegradasi," ujarnya.

Kemampuan bertahan di suhu tinggi itulah yang membuat enzim dari bakteri ini tetap stabil meski digunakan pada kondisi ekstrem.

Ia lalu mencontohkan bahwa teknologi PCR yang saat ini umum digunakan dalam dunia sains juga memanfaatkan enzim dari bakteri kelompok Thermus.

"Jadi mungkin kita ingat, kita tahu ya, bahwa enzim Taq DNA polymerase yang digunakan untuk PCR, itu berasal dari Thermus. Dan Thermus itu Thermus aquaticus yang diisolasi di Yellowstone Hot Springs di Amerika," jelasnya.

Meski demikian, Prof Wellyzar mengatakan proses membuktikan bahwa suatu bakteri merupakan spesies baru membutuhkan waktu panjang karena harus melalui banyak tahapan karakterisasi.

"Di Indonesia sebenarnya Thermus itu banyak, hanya mungkin yang bisa mengkarakterisasi dan membuktikan itu adalah spesies baru, itu yang jarang ya, karena spesies baru kita membutuhkan karakterisasi sifat biologi, fisiologi, biokimia, kemudian mengungkap karakter genetiknya, mengungkap genomnya, itu butuh waktu," ujarnya.

Ia mengatakan timnya membutuhkan sekitar dua tahun hanya untuk mengumpulkan data penelitian. Meski prosesnya panjang dan penuh tantangan, penemuan Thermus javaensis dinilai membuka peluang baru bagi pengembangan riset dan industri berbasis mikroorganisme ekstrem di Indonesia.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Peneliti RI Temukan Thermus javaensis, Bakteri yang Hidup di Suhu Air Mendidih"