![]() |
| Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. (Foto: Averus/detikHealth) |
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menyoroti bahaya terkait paparan mikroplastik. Ini menjadi salah satu perhatian karena menurutnya hingga saat ini belum ada standar secara global batas aman cemaran mikroplastik dalam sebuah produk.
"Masalahnya secara global belum ada standar pun. Baik itu codex, itu dari FAO (Food and Agriculture Organization) ya, kemudian juga dari WHO. Kemudian standar global belum ada bahwa berapa kandungan mikroplastik atau nanoplastik yang diizinkan," ungkap Taruna Ikrar ketika ditemui awak media di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).
Taruna menyebut saat ini pihaknya sedang dalam proses untuk membuat standarisasi batas aman terkait paparan mikroplastik secara nasional. Keputusan itu diambil setelah pihaknya bertemu dengan pihak DPR-RI Komisi VII beberapa waktu lalu.
Ia berharap skala yang nanti ditetapkan oleh BPOM ini nantinya juga bisa menjadi masukan secara global dalam penetapan standar.
"Sekarang tim kami dengan dengan P3OM (Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional) dengan laboratorium yang kami miliki akan membuat skala, tentu berdasarkan berbagai referensi khususnya referensi terkait riset-riset terstandar. Seperti yang publish di Nature, New England Journal, pasti itu jadi landasan referensi kami," ungkapnya.
Apa Itu Mikroplastik dan Bahayanya?
Mikroplastik merupakan partikel plastik yang sangat kecil berukuran kurang dari 5 milimeter. Ini biasanya berasal dari pecahan sampah plastik yang terdegradasi. Partikel ini sekarang tengah mencemari lingkungan, air minum, hingga makanan.
Keberadaan mikro plastik begitu berbahaya untuk tubuh manusia. Dalam beberapa kasus, partikel ini bahkan sudah ditemukan dalam tubuh seperti darah, organ-organ, hingga otak.
"Berdasarkan salah satu referensi diterbitkan di New England Journal pada 2021, penemuannya adalah mereka melihat ada stroke, ada aterosklerosis di otak dan dipicu oleh mikroplastik," ujar Taruna.
"Sejauh ini kita memahami penghalang darah di otak kita, tapi masalahnya adalah bagaimana mikroplastik itu bisa masuk dalam vaskular kita. Kita belum tahu, tapi mungkin karena ada partikel nano dari mikroplastik ini dan masuk ke darah kita dan tertahan di beberapa tempat," sambungnya.
Perubahan lingkungan, khususnya dalam penggunaan plastik menurutnya menjadi salah satu faktor tingginya paparan mikro plastik. Oleh karena itu, skala tersebut akan segera dibuat oleh BPOM RI.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ramai Temuan Mikroplastik di Makanan, BPOM RI Bilang Gini"
