Hagia Sophia

16 March 2023

WHO: Banyak Nakes Turun di Negara Miskin, Pindah ke Negara Kaya

WHO menyoroti penurunan jumlah tenaga kesehatan di negara miskin. Pasalnya, banyak tenaga kesehatan memilih pindah ke negara kaya. (Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyoroti penurunan jumlah tenaga kesehatan (nakes) di negara-negara miskin.

WHO mengungkapkan, semakin berkurangnya tenaga kesehatan di negara-negara miskin ini disebabkan fenomena eksodus atau imigrasi besar-besaran ke negara yang lebih kaya. Ditambah juga dengan perekrutan aktif.

Adapun kecenderungan perawat dan nakes lain untuk meninggalkan negara-negara miskin, seperti Afrika atau Asia Tenggara, yakni demi peluang yang lebih baik di negara kaya, seperti Eropa maupun Timur Tengah.

Fenomena ini sebenarnya sudah berlangsung sebelum pandemi COVID-19. Ditambah, kemunculan virus Corona semakin memperburuk situasi tenaga kesehatan di negara miskin.

"Petugas kesehatan adalah tulang punggung dari setiap sistem kesehatan, namun 55 negara dengan beberapa sistem kesehatan paling rapuh di dunia tidak memiliki cukup dan banyak yang kehilangan petugas kesehatan mereka karena migrasi internasional," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, dikutip dari Reuters, Rabu (15/3/2023).

Direktur departemen tenaga kesehatan WHO Jim Campbell, menyatakan sekitar 115 ribu tenaga kesehatan meninggal akibat COVID-19 di seluruh dunia selama pandemi. Namun yang menjadi highlight adalah, lebih banyak lagi yang meninggalkan profesinya karena kelelahan dan depresi.

"Kita perlu melindungi tenaga kesehatan, jika ingin memastikan penduduk memiliki akses ke perawatan," seru Jim.

Menurut Jim, perlindungan terhadap tenaga kesehatan harus diutamakan. Sebab, berangkat dari perlindungan nakes yang terjamin, maka sistem kesehatan masyarakat suatu negara bisa berjalan dengan baik.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Sorot Jumlah Nakes Turun di Negara Miskin, Banyak yang Pindah ke Negara Kaya"