Hagia Sophia

13 August 2023

Saat Akhir Pekan Kualitas Udara DKI Tetap Tidak Sehat

Foto: Rifkianto Nugroho

DKI Jakarta masih menjadi salah satu dari lima besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia menurut Air Quality Index (AQI) per Sabtu (12/8/2023). Pada pukul 13.04 waktu lokal, kualitas udaranya berada di angka 146 yang berarti tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Kualitas udara di Jakarta tetap terpantau tidak sehat meski di akhir pekan. Bukti polusi udara bukan karena transportasi?

Sementara itu pantauan aplikasi JAKI, Jakarta Timur menjadi wilayah yang memiliki pencemaran udara yang tidak sehat dengan nilai 126. Sementara di wilayah lainnya masih tergolong sedang, yakni:
  • Jakarta Pusat: 99
  • Jakarta Selatan: 96
  • Jakarta Utara: 83
  • Jakarta Barat: 58
Terkait penyebab polusi udara di Ibu Kota, Plt Deputi bidang klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan kualitas udara di Jakarta memburuk. Salah satunya karena musim kemarau.

"Kecenderungannya pada musim kemarau, kualitas udara cenderung naik dan seperti yang kita alami sekarang. Jadi, faktor yang juga mempengaruhi kondisi sekarang dan juga sebenarnya sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya," jelas Ardhasena dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu (12/8/2023).

Ardhasena juga mengungkapkan kualitas udara memiliki siklus hariannya. Saat malam hingga dini hari kualitas udara akan cenderung lebih tinggi daripada pagi hingga sore hari.

Faktor kedua yakni wilayah urban yang tersemat di Jakarta juga mendukung kualitas udara buruk di Jakarta.

Fakto ketiga, Ardhasena menyinggung adanya fenomena lapisan inversi. Ini membawa kelembapan udara relatif tinggi, sehingga bisa menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan.

Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara, yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

"Kemudian karena kita di wilayah urban dan saat musim kemarau itu fenomena lapisan inversi. Jadi ketika pagi di bawah itu cenderung lebih dingin daripada di atas," kata Ardhasena.

"Sehingga mencegah udara itu naik dan kemudian terdispersi. Itu penjelasan mengapa Jakarta kelihatan keruhnya di bawah dibandingkan di atas, karena setting perkotaan di mana kita hidup bersama," pungkasnya.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kualitas Udara DKI Tak Sehat di Akhir Pekan, Bukti Polusi Bukan karena Kendaraan?"