Hagia Sophia

24 February 2026

Usai Kena Stroke, Wanita Ini Mendadak Bicara dengan Logat Asing

Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491

Seorang wanita berusia 54 tahun di Surakarta engalami perubahan cara bicara yang sangat langka. Pasien yang sehari-harinya menggunakan bahasa Jawa ini tiba-tiba berbicara dengan logat Madura yang kental pasca terserang stroke, meskipun ia mengaku tidak pernah tinggal di Madura atau mempelajari bahasa tersebut sebelumnya.

Kejadian ini tercatat dalam riset dari Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret berjudul "Patient With Foreign Accent Syndrome in Post Infarct Thrombotic Stroke: A Case Report" (2024). Kasus bermula saat sang pasien memeriksakan diri ke Klinik Neurologi RSUD Dr. Moewardi dengan keluhan lemas dan kesemutan pada anggota gerak bagian kanan.

Namun, di luar gejala fisik tersebut, ada hal lain yang mencolok yakni aksen bicaranya telah berubah total. Fenomena medis ini dikenal secara ilmiah sebagai Foreign Accent Syndrome (FAS) atau Sindrom Logat Asing.

Berdasarkan laporan kasus, pasien tersebut sebenarnya memiliki riwayat hipertensi dan pernah mengalami serangan stroke pada tahun 2019.

"Sebelum stroke menyerang, ia berkomunikasi normal dengan dialek Jawa. Namun, setahun setelah serangan stroke, ia mulai berbicara dengan logat yang oleh orang-orang di sekitarnya dipersepsikan sebagai logat Madura," tulis peneliti.

Secara medis, FAS bukanlah tanda bahwa pasien "mendadak jago" bahasa asing atau daerah lain. Kondisi ini merupakan gangguan bicara motorik yang jarang terjadi, di mana kerusakan otak menyebabkan perubahan pada ritme, nada, dan tekanan kata.

Akibat perubahan teknis saat berbicara tersebut, pendengar sering kali salah mengartikannya sebagai aksen dari wilayah tertentu.

Kerusakan pada 'Pusat Kendali' Suara

Hasil pemeriksaan MRI mengungkap penyebab di balik fenomena ini. Ditemukan adanya penyumbatan pembuluh darah (infark) pada bagian otak yang disebut lobus frontal bilateral. Area ini berfungsi sebagai pusat kendali untuk otot-otot laring atau pita suara.

Kerusakan pada lobus frontal mengganggu koordinasi antara gerakan bibir, lidah, dan pita suara. Akibatnya, intonasi dan kecepatan bicara pasien berubah menjadi lebih lambat atau memiliki jeda yang tidak biasa, sehingga menciptakan kesan logat asing bagi siapa pun yang mendengarnya.

Para ahli menekankan pentingnya mengenali gejala FAS sejak dini pada pasien pasca-stroke. Identifikasi yang cepat diharapkan dapat membantu pasien mendapatkan rehabilitasi yang tepat, sehingga kualitas hidup dan interaksi sosial mereka tidak terganggu secara berkepanjangan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Medis Wanita Jawa Mendadak Bicara dengan Logat Asing usai Kena Stroke"