![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/gorodenkoff |
Seorang dokter asal Amerika Serikat dinyatakan positif terinfeksi Ebola. Ia tengah bekerja di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).
Dokter tersebut diduga terpapar saat melakukan operasi pasien di rumah sakit wilayah timur Kongo.
US Center of Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat dan kelompok misionaris medis Serge mengonfirmasi kasus tersebut pada Senin (18/5/2026) waktu setempat.
Dokter tersebut diketahui bernama Dr Peter Stafford. Ia telah dievakuasi ke Jerman dan kini menjalani perawatan intensif.
Dr Stafford dinyatakan positif terinfeksi varian virus Ebola Bundibugyo, setelah terpapar saat melakukan operasi di Rumah Sakit Nyankunde, Bunia, wilayah timur RD Kongo.
Matt Allison, direktur eksekutif Serge, mengatakan Dr Stafford sudah bertugas di rumah sakit tersebut sejak 2023.
"(Kondisi) Peter baik-baik saja," kata Allison dalam wawancara yang dikutip dari CBS News.
"Dia sakit. Dia sedih karena jauh dari keluarganya, tetapi telah mendapatkan perawatan terbaik yang tersedia untuknya," lanjutnya.
Di tengah kondisi tersebut, istri Stafford, Dr Rebekah Stafford, yang juga bekerja bersama Serge. Ia dan keempat anaknya tengah dipantau dan menjalani isolasi mandiri.
"Kami sedang mengerjakan semacam strategi evakuasi untuk mereka," ucap Allison.
"Ini adalah situasi yang dinamis dan sensitif," sambungnya.
Selain itu, dokter lain yang bekerja bersama Serge, Dr Patrick LaRochelle, juga menjalani isolasi dan pemantauan gejala.
Serge menegaskan seluruh tenaga medis yang bertugas telah mematuhi standar internasional selama bekerja di wilayah wabah.
"Semua personel medis yang terlibat telah mematuhi standar internasional dengan cermat selama masa tugas mereka," tulis Serge dalam pernyataan resminya.
Sebagai informasi, wabah Ebola terbaru di RD Kongo dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 131 orang. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RD Kongo Samuel Roger Kamba.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kasus pertama yang dicurigai dalam wabah ini merupakan seorang tenaga kesehatan. Pasien mulai mengalami gejala sejak 24 April dan meninggal di pusat medis di Bunia.
Sejak saat itu, jumlah kasus suspek meningkat tajam dan mulai melintasi perbatasan negara.
Pejabat kesehatan mengkhawatirkan potensi penyebaran lebih luas karena wabah terjadi di kawasan perkotaan dengan mobilitas penduduk tinggi. Ditambah kondisi keamanan yang terganggu akibat serangan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Wabah kali ini merupakan wabah ketiga yang diketahui dari strain Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang lebih langka. Berbeda dengan strain Zaire yang lebih umum, hingga kini belum ada vaksin maupun pengobatan khusus untuk strain Bundibugyo.
Virus Ebola diketahui menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh penderita seperti muntah, darah, atau air mani.
Gejala awal Ebola meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Saat penyakit berkembang, pasien dapat mengalami muntah, diare, sakit perut, ruam, gangguan organ, hingga pendarahan internal maupun eksternal.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter AS Positif Ebola saat Operasi Pasien di Kongo, Kini Dievakuasi ke Jerman"
