Hagia Sophia

25 June 2026

Berbagai Fakta Tentang Rhabdomyolysis

Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Stephen Barnes)

Olahraga lari atau running, belakangan mulai memiliki banyak peminat. Baik itu dari sekadar fun run 5K, maraton, hingga ultra-marathon lintas alam.

Olahraga ini memang bagus untuk jantung dan stamina. Namun, di balik euforia garis finish, ada satu kondisi medis serius yang mengintai jika kita terlalu memaksakan diri, yaitu Rhabdomyolysis.

Apa Itu Rhabdomyolysis?

Dikutip dari Cleveland Clinic, rhabdomyolisis adalah suatu kondisi medis serius yang terjadi akibat kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan zat-zat di dalam sel otot (seperti protein mioglobin dan elektrolit) bocor ke aliran darah, yang berpotensi memicu kerusakan organ terutama ginjal.

Kondisi ini umumnya terjadi karena seseorang melakukan aktivitas secara berlebihan, trauma, atau pengobatan tertentu. Dengan kata lain, aktivitas fisik berat seperti marathon, juga berisiko mengalami kondisi ini.

Apa Tanda-tandanya?

Gejala dari rhabdomyolisis cukup bervariasi, dari ringan hingga berat. Gejala biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah cedera otot, meskipun beberapa orang mungkin bahkan tidak merasakan nyeri otot.

Sebagian orang juga mengalami:
  • Dehidrasi
  • Penurunan frekuensi buang air kecil
  • Mual
  • Penurunan kesadaran
Selain itu, Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH mengatakan bahwa ada tanda alami lain yang mungkin muncul saat seseorang terkena Rhabdomyolisis.

"Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2026).

dr Tunggul menambahkan kondisi ini bisa menjadi Acute Kidney Injury (AKI) jika terlambat atau tidak ditangani dengan baik. Tanda-tandanya bisa dilihat dari warna urine.

"Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya.

"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," sambungnya.

Apa Pemicunya?

dr Tunggul mengatakan, salah satu pemicu utama dari kondisi ini adalah seseorang yang tidak mempersiapkan diri dengan baik ketika akan berolahraga atau dalam kata lain tidak melakukan pemasanan yang layak.

"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dr Tunggul.

Para pemula, lanjut dr Tunggul merupakan kelompok paling rentan mengalamai Rhabdomyolysis.

"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula," katanya.

Namun, bukan berarti atlet-atlet elit juga tidak terlepas dari risiko ini. Menurut dr Tunggul, baik itu pemula atau elit, selama tidak mempersiapkan tubuhnya dengan baik sebelum bertanding, bisa berisiko sama.

"Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.

Kerusakan sel otot yang mengancam ginjal, menurut dr Tunggul tidak hanya terjadi di olahraga lari. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi seperti hyrox juga berisiko serupa jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk memahami dan mendengarkan sinyal-sinyal tubuh.

"Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," katanya.

Kata Dokter soal Peluang Sembuh

Meskipun cukup membuat terkejut, rhabdomyolysis yang menyerang ginjal, jika ditangani dengan cepat dan baik bersifat reversible atau dapat pulih kembali ke keadaan semula.

"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," kata dr Tunggul.

"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," sambungnya.

























Artikel ini telah tayang di sport.detik.com dengan judul "Fakta-fakta Rhabdomyolysis, Risiko Ginjal 'Kolaps' saat Marathon"