![]() |
| Ilustrasi marathon (Foto: Getty Images/Serega) |
Ajang lari jarak jauh seperti marathon belakangan ini telah bergeser dari sekadar hobi, menjadi gaya hidup kaum urban. Sayangnya, tren ini sering kali tidak diimbangi dengan literasi medis yang cukup.
Banyak pelari pemula yang menganggap bahwa modal utama untuk menyelesaikan lintasan 42 kilometer hanyalah tekad yang kuat dan mental pantang menyerah. Padahal, lebih dari itu, ketidaktahuan dan ketidaksiapan bisa menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan.
Tanpa persiapan yang matang, memaksakan tubuh menembus batas kewajaran di lintasan marathon bisa berakibat fatal. Salah satu ancaman paling nyata yang menghantui para pelari adalah kerusakan otot ekstrem yang dikenal sebagai rhabdomyolysis.
Rhabdomyolisis adalah suatu kondisi medis serius yang terjadi akibat kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan zat-zat di dalam sel otot (seperti protein mioglobin dan elektrolit) bocor ke aliran darah, yang berpotensi memicu kerusakan organ terutama ginjal.
Pada dasarnya, olahraga memang bertujuan untuk 'merusak' otot, namun dalam skala kecil. Saat berlari atau mengangkat beban, otot mengalami robekan mikroskopis (mikrotrauma). Selama fase istirahat, tubuh akan memperbaiki robekan ini sehingga otot tumbuh lebih kuat dan ini normal.
Namun, ketika olahraga dilakukan terlalu intens, memaksa dan bahkan di bawah cuaca ekstrem proses adaptasi alami di atas akan gagal total. Bukannya robekan kecil yang membawa manfaat, yang terjadi justru adalah kehancuran sel-sel otot secara masif.
Tanda-tanda Kerusakan Otot Mengancam Ginjal
Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH mengatakan, dalam konteks rhabdomyolisis sebenarnya tubuh sudah memberikan tanda alami. Sayangnya, banyak orang yang kadang menyepelekan dan tetap melanjutkan aktivitasnya.
"Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2026).
dr Tunggul menambahkan kondisi ini bisa menjadi Acute Kidney Injury (AKI) jika terlambat atau tidak ditangani dengan baik. Tanda-tandanya bisa dilihat dari warna urine.
"Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya.
"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," sambungnya.
Risiko di Semua Olahraga Ekstrem
Kerusakan sel otot yang mengancam ginjal, menurut dr Tunggul tidak hanya terjadi di olahraga lari. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi seperti Hyrox juga berisiko serupa jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk memahami dan mendengarkan sinyal-sinyal tubuh.
"Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," katanya.
Untuk menghindari atau setidaknya meminimalkan risiko kerusakan otot yang mengancam ginjal, dr Tunggul mengatakan perlunya pemanasan yang baik dan hidrasi cukup.
"Pemanasannya menjadi kunci juga. Jadi warming up-nya , makannya seluruh olahraga berat itu kan di-warming up dulu, apalagi olahraga berat," katanya.
"Tentu cukup minum, harus malah lebih saya kira," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Marathoner Juga Berisiko, Kenapa Olahraga Terlalu Ekstrem Bisa Picu Rhabdomyolisis?"
