Hagia Sophia

05 June 2026

Guru Besar IPB Tidak Menyarankan Konsumsi Susu Mentah, Ini Risikonya

Viral tren minum susu mentah. Foto: iStock

Raw milk atau susu mentah sempat banyak diperbincangkan di media sosial. Sebagian orang memilih mengonsumsinya karena percaya kandungan gizinya lebih utuh dibandingkan susu pasteurisasi maupun UHT (Ultra-high temperature processing).

Namun, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Prof Dr Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si mengingatkan susu mentah memiliki risiko keamanan pangan yang tidak bisa diabaikan. Saat ditemui detikcom dalam acara Frisian Flag Temani Langkahmu, Kini dan Nanti, Minggu (31/5/2026), ia menegaskan tidak menyarankan konsumsi susu mentah, khususnya di Indonesia, karena risiko kontaminasi bakteri yang masih tinggi.

Ahli Tak Sarankan Konsumsi Susu Mentah

Prof Epi menjelaskan susu mentah berisiko terkontaminasi berbagai bakteri yang dapat membahayakan kesehatan. Menurutnya, pengawasan terhadap susu mentah di sejumlah negara maju pun sangat ketat.

"Kalau susu mentah ya, khususnya di Indonesia saya tidak menyarankan. Karena risiko untuk terkontaminasi oleh bakterinya tinggi," ujarnya.

Ia mencontohkan bahwa di Jerman hanya ada dua peternakan yang diizinkan menjual susu mentah untuk dikonsumsi langsung. Bahkan susu tersebut harus diminum di lokasi dan tidak boleh dibawa pulang. Pengawasan ketat dilakukan untuk memastikan kualitas dan keamanan produknya.

Menurut Prof Epi, kondisi di Indonesia berbeda karena sebagian besar produksi susu masih dilakukan secara tradisional. Proses pemerahan susu masih banyak dilakukan secara manual menggunakan tangan dan ditampung dalam ember atau milk can, sehingga risiko kontaminasi menjadi lebih besar.

Ia menjelaskan susu mentah dapat mengandung dua kelompok bakteri, yakni bakteri patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit serta bakteri pembusuk yang mempercepat kerusakan produk. Berbeda dengan susu mentah, proses pasteurisasi mampu membunuh bakteri patogen sehingga produk menjadi lebih aman dikonsumsi.

Bagaimana Dengan Kandungan Gizinya?

Meski sempat dianggap lebih bergizi oleh banyak orang, Prof Epi mengatakan kandungan zat gizi makro dalam susu mentah, susu pasteurisasi, maupun susu UHT sebenarnya tidak berbeda secara signifikan.

"Kalau kandungan komposisi gizi yang makro ya, protein, lemak, karbohidrat, menurut saya tidak berbeda nyata," katanya.

Ia mengakui beberapa vitamin memang dapat berkurang akibat pemanasan. Namun perubahan tersebut tidak selalu berarti kualitas gizi susu menjadi lebih buruk. Bahkan dalam beberapa kasus, kandungan senyawa tertentu seperti antioksidan justru dapat meningkat setelah proses pemanasan.

Menurut Prof Epi, susu yang telah melalui proses pengolahan juga tidak serta-merta memiliki nilai gizi lebih rendah. Pasalnya, sejumlah produk susu mendapat fortifikasi atau penambahan vitamin dan mineral tertentu untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Menurutnya, industri susu menerapkan kombinasi suhu dan waktu pemanasan yang telah dirancang untuk menjaga kandungan gizi sekaligus memastikan keamanan produk. Pada susu UHT misalnya, pemanasan dilakukan pada suhu sangat tinggi tetapi hanya selama sekitar 2-4 detik sehingga dampaknya terhadap zat gizi relatif kecil.

Karena itu, Prof Epi menegaskan bahwa proses pemanasan tidak selalu berdampak negatif terhadap kualitas susu. Justru dari sisi keamanan pangan, susu yang telah dipasteurisasi atau diproses dengan teknologi UHT jauh lebih aman dibandingkan susu mentah.

"Kesimpulannya saya tidak menyarankan minum susu mentah karena tidak menjamin keamanannya. Kedua, kalau zat gizi, UHT tidak banyak perbedaan atau perubahan karena pemanasannya singkat," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sempat Viral Tren Minum Susu Mentah, Profesor IPB Wanti-wanti Risikonya"