Hagia Sophia

20 June 2023

Uang Tidak Efektif untuk Menaikkan Jumlah Populasi di Jepang, Ini Alasannya

Warga Jepang. (Foto: Khadijah Nur Azizah/ detikHealth)

Jepang adalah salah satu negara dengan angka kelahiran terendah di dunia. Negeri Sakura disebut-sebut bakal mengalami masalah demografi yang besar.

Jumlah kelahiran tahunan Jepang mengalami penurunan sebanyak 800 ribu kelahiran untuk pertama kalinya pada tahun lalu. Angka kelahiran di Jepang juga hanya mencapai 1,34 kelahiran per wanita. Jumlah tersebut jauh di bawah angka 2,07 yang diperlukan untuk menjaga populasi.

Ada berbagai hal yang dinilai menjadi penyebab anjloknya angka kelahiran. Salah satunya adalah biaya membesarkan anak yang dinilai begitu besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Jepang menyediakan dana 15 ribu yen (Rp 1,6 juta) untuk setiap anak yang baru lahir sampai berusia 2 tahun. Bahkan pemerintah dikabarkan akan menghabiskan 3,5 triliun yen (Rp 370,4 triliun) setiap tahunnya untuk berbagai kebijakan peningkatan angka kelahiran.

Namun, rupanya tidak semua warga berpendapat bahwa uang dapat menjadi solusi permasalahan rendahnya angka kelahiran. Berdasarkan survei yang dilakukan The Nippon Foundation terhadap 10 ribu wanita berusia 18 sampai 69 tahun, 36,3 persen responden berpendapat bahwa tindakan nyata lebih penting daripada jumlah uang yang dikeluarkan pemerintah.

Lebih lanjut, 33,6 persen responden juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya akan berdampak kecil dan 21 persen mengatakan bahwa kebijakan tersebut tidak akan berdampak sama sekali.

Salah satu hal yang menyebabkan uang dinilai tidak akan menyelesaikan masalah turunnya jumlah angka kelahiran adalah kurang ramahnya lingkungan pekerjaan pada perempuan. Saat ini ada banyak wanita yang ingin mengejar karier lebih baik.

Namun di sisi lain, masih banyak diskriminasi pada pekerja perempuan sehingga banyak wanita takut untuk memiliki anak ketika bekerja. Seperti yang dialami oleh salah satu warga Jepang, Maki Kitahara berusia 37 tahun.

"Sejujurnya saya takut kehilangan karier saya. Saya sering mendengar manajer pria mengatakan bahwa pernikahan dan kehamilan dapat merusak rencana SDM. Termasuk pengembangan, rotasi, dan promosi," ucap Kitahara dikutip dari Aljazeera, Senin (19/6/2023).

"Dari situlah ketakutan saya berasal," sambungnya.

Persoalan karier ini akhirnya membuat banyak wanita Jepang yang sudah menikah memilih untuk menunda memiliki anak. Hal ini membuat banyak keluarga 'terlambat' untuk memiliki jumlah anak yang lebih banyak sehingga menghambat pertumbuhan angka kelahiran.

Menurut Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan, usia rata-rata wanita yang melahirkan anak naik menjadi 30,9 tahun pada tahun 2021. Usia tersebut paling tinggi semenjak pencatatan dimulai pada tahun 1950.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Alasan Uang Tak Efektif Naikkan Minat Wanita Jepang Punya Anak"