Hagia Sophia

30 July 2023

Inikah yang Buat Kasus Gagal Ginjal di Singapura Meningkat?

Pasien gagal ginjal di Singapura meroket, ternyata gegara ini. (Foto: Getty Images/iStockphoto/KatarzynaBialasiewicz)

Singapura melaporkan peningkatan kasus signifikan gagal ginjal. National Kidney Foundation (NKF) setidaknya mencatat setiap hari ada tambahan enam pasien dengan diagnosis penyakit tersebut.

Namun, jumlah orang yang mengidap penyakit ginjal kronis diperkirakan bisa lebih dari 300 ribu orang. Dari catatan pemerintah, kasus gagal ginjal di Singapura hanya 9.000 kasus yang berhasil didiagnosis.

Sementara, lebih dari 300 ribu orang mengidap penyakit ginjal kronis (CKD) berpotensi mengalami kondisi demikian.

"Itu baru kasus yang terdeteksi. Untuk setiap 10 diagnosis, diperkirakan lima hingga tujuh orang tidak mengetahui kondisi mereka," kata Yeo See Cheng, Kepala Kedokteran Ginjal di Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH).

"Ini berarti 200.000 lebih banyak orang dapat berjalan-jalan tanpa menyadari bahwa ginjal mereka mengalami masalah. Jika dibiarkan, CKD akan berkembang menjadi gagal ginjal," tuturnya yang dikutip dari Channel News Asia.

Yeo mengatakan sekitar sepertiga dari pasien tidak menyadari ginjal mereka bermasalah. Terlebih karena keterlambatan penanganan, kondisinya semakin memburuk.

Dan biasanya pasien datang dengan kondisi yang sudah parah, seperti kaki yang bengkak dan perut gatal. Di saat itulah pasien biasanya berada di ambang kegagalan, karena kerusakannya tidak dapat diperbaiki.

Maka dari itu, pasien harus segera memulai dialisis yang menjadi terapi seumur hidup, kecuali transplantasi sudah dekat.

"Ini seperti silent killer. Karena pada tahap awal (PGK), pasien tidak memiliki gejala apapun. Mereka merasa normal, merasa sehat, meski fungsi ginjalnya menurun," jelas Yeo.

"Banyak pasien bahkan tidak menyadarinya sampai mereka berada di stadium lima, yang dikenal sebagai gagal ginjal," sambungnya.

Sejauh ini, penyebab kasus gagal ginjal yang paling umum di Singapura didominasi oleh kasus diabetes 1 dan 2. Adapun penyebab lainnya, termasuk hipertensi, peradangan, dan faktor genetik.

Hal ini yang dialami Radheana Zamri (30), sudah mengidap gagal ginjal selama sembilan tahun. Ia menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah atau dialisis sejak usianya 21 tahun.

Radheana mengidap diabetes tipe 1 sejak usia delapan tahun. Namun, ia tidak menyangka penyakitnya bisa berkembang menjadi penyakit ginjal kronis.

Kondisi ini merenggut masa mudanya. Radheana tidak bisa berjalan-jalan seperti anak seusianya, dan harus menjalani dialisis.

"(Sebagai) anak muda, kami suka bepergian. Keluarga saya juga selalu suka jalan-jalan, jadi terkadang saya tidak bisa mengikuti mereka. Atau ketika mereka ingin tinggal lebih lama, saya hanya bisa pergi untuk waktu yang lebih singkat," ujar Radheana.

"Sepertinya hidup saya ada di sini (di pusat dialisis), sulit mendapat teman. Ini garis hidup saya. Kalau saya (tidak) pergi, ya sudah," pungkasnya.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Gagal Ginjal di Singapura 'Meroket', Ternyata gegara Ini"