Hagia Sophia

24 May 2026

Bersiap Hadapi El Nino, Beberapa Masalah Kesehatan yang Berdampak pada Anak

Cuaca panas dirasakan masyarakat Jakarta (Foto: Pradita Utama/detikFoto)

Indonesia sedang bersiap menghadapi fenomena El Nino pada musim kemarau tahun ini. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak-anak menjadi kelompok yang rentan terhadap terjadinya El Nino.

Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr Darmawan Budi Setyanto, SpA, Subsp Respi(K) mengatakan hal ini dikarenakan sistem imun tubuh pada anak belum matang dan berkembang, sehingga membuatnya lebih lemah daripada orang dewasa.

"Makin besar anaknya, remaja ini tentu sudah mendekati dewasa, sehingga tidak terlalu terdampak. Tapi, makin muda usia, makin rentan," kata dr Darmawan dalam konferensi pers daring, Selasa (19/5/2026).

"Lalu pada anak-anak yang lebih kecil, laju napasnya lebih tinggi, respiratory rate-nya dan juga metabolismenya lebih tinggi, sehingga anak itu menghirup lebih banyak udara dibandingkan rasio-nya dengan berat badannya berpotensi terpajar lebih banyak polutan dibandingkan orang dewasa," sambungnya.

Anak-anak, lanjut dr Darmawan juga belum bisa dengan sempurna mengatur suhu tubuh secara efisien, akibatnya risiko dehidrasi dan heatstroke menjadi lebih tinggi.

Selain itu, perlu diwaspadai adanya beberapa masalah kesehatan yang mungkin bisa berdampak kepada anak, di antaranya:

1. Diare dan Penyakit Bawaan Air (Waterborne Disease)
Menurut dr Darmawan, kekeringan karena El Nino bisa berdampak pada sumber air yang tercemar, sehingga terpapar dengan beberapa bakteri seperti E.coli, Salmonella, dan Vibrio cholerae.

"Apalagi kalau El Nino yang kuar, super El Nino atau El Nino 'Godzila'. Mekanismenya mulai dari kekurangan, kekeringan sumber air, atau sumber air tercemar oleh berbagai kuman," katanya.

"Sanitasi kemudian memburuk saat air bersih langka, lalat berkembang biak di tempat sampah dan ini meningkatkan risiko terjadinya diare oleh karena berbagai kuman tadi," sambungnya.

2. Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan pada kantung udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru-paru yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur.

"Kekeringan ini akan meningkatkan risiko pneumonia juga," kata dr Darmawan.

Menurut dr Darmawan, diare dan pneumonia menjadi dua kondisi yang bahu membahu dalam meningkatnya kasus kematian pada anak.

"Fakta kuncinya adalah, anak-anak di bawah 5 tahun, paru-paru masih dalam fase tumbuh kembang. Lebih rentan terhadap kerusakan permanen," katanya.

3. Dehidrasi
Cuaca panas ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi ringan, sedang, hingga berat pada anak. Jika tidak ditangani dengan baik, risiko kematian juga meningkat.

"Iya ini merupakan keadaan gawat darurat," kata dr Darmawan.

4. Demam Berdarah dan Malaria
Vector-borne (vector-borne disease) adalah penyakit yang ditularkan kepada manusia atau hewan melalui perantara organisme lain, yang disebut vektor.

Organisme pembawa ini biasanya berupa serangga penghisap darah, seperti nyamuk, kutu, atau caplak, yang memindahkan parasit, bakteri, atau virus dari inang yang terinfeksi ke inang baru.

"Dalam hal ini nyamuk, yaitu demam berdarah dan malaria juga akan mengalami peningkatan," kata dr Darmawan.

"Karena kelangkaan air, maka seperti kita tahu, mengenai nyamuk-nyamuk vector pembawa penyakit ini, baik demam berdarah maupun malaria, itu untuk berkembang biak menyukai tempat yang terisolasi, yang bening," sambungnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "RI Bersiap Hadapi El Nino, IDAI Wanti-wanti 4 Dampak Serius ke Anak"