Hagia Sophia

02 June 2026

Bhutan Miliki Kebiasaan yang Bikin Warganya Bahagia

Foto: Getty Images/pilesasmiles

Jurnalis senior Kara Swisher punya kebiasaan unik setiap hari: membaca kutipan tentang kematian. Kedengarannya seram atau bikin depresi? Nyatanya tidak. Swisher justru mengaku cara ini membuatnya jauh lebih bahagia.

Ternyata, kebiasaan ini terinspirasi dari sebuah praktik budaya di Bhutan. Di negara yang terkenal dengan indeks kebahagiaan tinggi tersebut, warganya biasa memikirkan kematian sampai lima kali sehari demi menjaga kebahagiaan dan mengikis kecemasan masa depan.

"Ketika menerima kematian... itu akan mendorong rasa kebersamaan dan menghadirkan makna hidup," ungkap Swisher, dikutip dari CNN, Jumat (29/5/2026).

"Kami tidak akan hidup selamanya di sini. Jadi, apa yang mau dilakukan dengan sisa waktu yang dimiliki?" lanjutnya.

Mengapa Ingat Mati Bikin Bahagia?

Bagi sebagian besar orang, kematian adalah topik tabu yang bikin merinding. Namun, para ahli psikologi dan berbagai penelitian justru menemukan fakta sebaliknya. Mengubah sudut pandang terhadap kematian bisa membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih berkualitas dan lebih menghargai momen saat ini.

Swisher sempat membedah industri perpanjangan usia atau longevity yang sedang tren di kalangan miliarder. Banyak orang kaya rela menggelontorkan uang demi menolak tua dan menolak mati.

Namun, kesimpulan Swisher justru berbanding terbalik, kunci hidup bahagia bukanlah kabur dari kematian, melainkan menerimanya dengan lapang dada.

Para pakar kesehatan mental membeberkan alasan mengapa merenungkan kematian justru berdampak positif bagi psikologis manusia:

Jadi booster motivasi
Menyadari bahwa jatah waktu di dunia ini terbatas bakal mendorong untuk berhenti menunda-nunda hal penting dalam hidup.

Lebih mindful
Sadar bahwa segalanya bisa hilang dalam sekejap membuat lebih menghargai waktu bersama keluarga dan orang-orang tercinta hari ini.

Mengikis Rasa Takut (Fobia)
Menghindari topik kematian justru sering kali memperparah kecemasan tersembunyi. Membicarakannya secara terbuka membuat topik tersebut kehilangan 'kekuatannya' untuk menakuti diri sendiri.

Menerima kematian bukan berarti pasrah dan menyerah pada keadaan. Justru, ini adalah 'wake-up call' terbaik agar bisa mengoptimalkan sisa umur dengan hal-hal yang jauh lebih bermakna.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia, Warga Bhutan Punya Kebiasaan Simpel Ini"