![]() |
| Konsep fermentasi yang menghasilkan probiotik dikenal sejak ribuan tahun lalu. Foto: Getty Images/FG Trade |
Saat mendengar kata probiotik, banyak yang langsung teringat pada yogurt atau minuman susu fermentasi yang identik dengan kesehatan pencernaan. Probiotik memang dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat bagi tubuh ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Namun, kisah probiotik ternyata jauh lebih panjang daripada tren komersialisasi probiotik tinggi gula yang belakangan ini jadi polemik.
Jauh sebelum bakteri dikenal dan dipelajari di laboratorium, manusia sudah memanfaatkan proses fermentasi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana yang awalnya dilakukan untuk mengawetkan makanan secara tidak sengaja membuka jalan bagi lahirnya salah satu konsep penting dalam ilmu kesehatan modern. Lalu, sejak kapan sebenarnya manusia mulai mengenal probiotik?
Peneliti memperkirakan praktik fermentasi susu sudah berlangsung sekitar 7.000 hingga 10.000 tahun lalu. Penggembala di berbagai wilayah Asia terutama di Timur Tengah, Asia Barat, dan Asia Tengah menyimpan susu hasil perahan dalam kantong yang terbuat dari kulit hewan. Tanpa disadari, mikroorganisme alami yang menempel pada wadah dan kondisi lingkungan yang mendukung mulai mengubah susu tersebut.
Seiring waktu, susu menjadi lebih kental, memiliki rasa asam yang khas, dan dapat bertahan lebih lama dibandingkan susu segar. Produk hasil fermentasi ini kemudian menjadi bagian dari pola makan di berbagai belahan dunia. Berbagai jenis susu fermentasi seperti yogurt, kefir, dan minuman fermentasi tradisional lahir dari proses yang berlangsung secara alami tersebut.
Pada masa itu, manusia belum mengetahui keberadaan bakteri. Mereka hanya memahami bahwa susu yang mengalami fermentasi memiliki rasa yang unik dan lebih awet untuk dikonsumsi. Pengetahuan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari budaya pangan di banyak negara.
Bakteri Asam Laktat Mulai Dikaitkan dengan Umur Panjang
Pemahaman ilmiah mengenai manfaat probiotik mulai berkembang pada awal abad ke-20 melalui penelitian seorang ilmuwan kelahiran Ukraina bernama Ilya Ilyich Mechnikov atau dikenal juga sebagai Elie Metchnikoff.
Metchnikoff yang bekerja di Pasteur Institute tertarik mengamati tingginya angka harapan hidup masyarakat pedesaan di Bulgaria. Ia menemukan bahwa penduduk tersebut memiliki kebiasaan mengonsumsi susu fermentasi hampir setiap hari.
Pengamatan itu mendorong Metchnikoff mengembangkan teori bahwa bakteri penghasil asam laktat dalam makanan fermentasi dapat membantu menekan pertumbuhan mikroorganisme yang menghasilkan zat berbahaya di usus. Menurutnya, proses pembusukan di saluran cerna berkontribusi terhadap penuaan dan berbagai gangguan kesehatan.
Pada tahun 1907, Metchnikoff menerbitkan buku berjudul The Prolongation of Life yang mempopulerkan gagasan bahwa konsumsi bakteri menguntungkan dapat mendukung kesehatan dan umur panjang. Meski banyak detail teorinya kemudian disempurnakan oleh penelitian modern, pemikirannya menjadi fondasi penting bagi lahirnya konsep probiotik yang dikenal saat ini.
Lahirnya Istilah Probiotik
Meski konsep probiotik sudah diperkenalkan Elie Metchnikoff sejak awal 1900-an, istilah probiotik baru lahir beberapa dekade kemudian. Kata ini pertama kali diperkenalkan dalam publikasi ilmiah oleh peneliti bernama Lilly dan Stillwell pada tahun 1965.
Penggunakan istilah probiotik ini untuk menggambarkan zat yang dihasilkan mikroorganisme yang dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme lain. Kata probiotik sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu pro yang berarti untuk dan bios yang berarti kehidupan. Secara sederhana, probiotik dapat dimaknai sebagai sesuatu yang mendukung kehidupan.
Seiring berkembangnya penelitian, makna probiotik mengalami perubahan. Jika awalnya merujuk pada zat yang dihasilkan mikroorganisme, kini probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Definisi inilah yang menjadi dasar bagi berbagai produk probiotik yang beredar saat ini.
Komersialisasi Probiotik
Meski makanan fermentasi telah dikonsumsi selama ribuan tahun, probiotik baru memasuki era komersial pada abad ke-20. Salah satunya terjadi pada tahun 1935 ketika ilmuwan Jepang Minoru Shirota berhasil mengisolasi bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus casei Shirota yang mampu bertahan hidup di saluran cerna manusia.
Penemuan tersebut melahirkan salah satu produk susu fermentasi pertama yang dipasarkan secara luas. Langkah ini menjadi awal berkembangnya industri probiotik modern yang kemudian menyebar ke berbagai negara.
Seiring meningkatnya minat terhadap kesehatan pencernaan, penelitian mengenai probiotik juga berkembang pesat. Berbagai produk yogurt dan minuman fermentasi mulai diproduksi secara massal dengan kandungan kultur bakteri hidup yang dirancang untuk memberikan manfaat kesehatan.
Memasuki akhir abad ke-20, probiotik tidak lagi dipandang sekadar sebagai makanan fermentasi tradisional. Probiotik mulai menjadi bagian dari industri pangan fungsional yang didukung oleh penelitian ilmiah dan terus berkembang hingga saat ini.
Probiotik di Era Modern
Lebih dari satu abad setelah Metchnikoff memperkenalkan gagasannya, para ilmuwan kini mengetahui bahwa tubuh manusia dihuni oleh triliunan mikroorganisme yang membentuk ekosistem kompleks bernama mikrobiota.
Penelitian modern menunjukkan bahwa mikrobiota usus tidak hanya berperan dalam proses pencernaan. Mikroorganisme ini juga terlibat dalam fungsi sistem kekebalan tubuh, metabolisme, hingga komunikasi antara usus dan otak.
Perkembangan teknologi analisis genetik membuat para peneliti mampu mempelajari hubungan antara manusia dan mikroorganisme dengan tingkat detail yang belum pernah dicapai sebelumnya. Dari sinilah lahir berbagai penelitian baru mengenai probiotik dan perannya dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Di sisi lain, komersialisasi probiotik menuntut agar produk bisa diterima dengan baik oleh konsumen. Gula yang awalnya ditambahkan untuk mendukung proses fermentasi, kini punya fungsi lain yakni memperbaiki cita rasa.
"Ada produk minuman susu fermentasi yang mendapat penambahan gula pasca proses fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam yang dihasilkan," kata Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD dalam sebuah interview.
Dilema muncul ketika gula tambahan menghadirkan risiko lain bagi kesehatan. Data menunjukkan, prevalensi kasus diabetes mengalami tren pergeseran dari yang semula didominasi kelompok usia lanjut, kini mulai banyak diidap usia lebih muda.
"Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, konsumsi minuman-minuman manis itu meningkatkan risiko diabetes," kata konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, kepada detikcom, Kamis (11/6/2026).
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kini Identik dengan Produk Tinggi Gula, Sejak Kapan Manusia Kenal Probiotik?"
