Hagia Sophia

18 April 2026

Inikah Penyebab Kasus Gagal Ginjal Melonjak di Indonesia?

Foto: Getty Images/saengsuriya13

Lonjakan kasus gagal ginjal di Indonesia mengkhawatirkan, naik hingga lebih dari sembilan kali lipat. Gagal ginjal juga menjadi penyumbang beban pembiayaan terbesar BPJS Kesehatan, menyalip posisi kanker, kedua setelah penyakit jantung.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan peningkatan pembiayaan gagal ginjal tersebut melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir.

"Kalau gagal ginjal, kalau kita bandingkan tahun 2019-2025, itu dia meningkat 476,2 persen (pembiayaan di JKN)," kata Nadia saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).

Gagal ginjal bahkan disebutnya menjadi penyakit dengan kenaikan pembiayaan tertinggi, melampaui penyakit kronis lain seperti jantung, kanker, hingga stroke.

Inikah Pemicunya?

Di balik lonjakan tersebut, ada dua penyebab utama yang kerap luput dari perhatian, yakni hipertensi dan diabetes melitus yang tidak terkontrol. Kedua penyakit ini dikenal sebagai pemicu utama kerusakan ginjal secara perlahan.

"Jadi memang hati-hati, ginjal itu seperti silent killer. Awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali," jelas Nadia.

Kerusakan ginjal biasanya terjadi secara bertahap tanpa gejala berarti. Banyak pasien baru menyadari kondisinya saat sudah memasuki tahap lanjut, ketika fungsi ginjal menurun drastis.

Pasien gagal ginjal kronis umumnya harus menjalani hemodialisa atau cuci darah secara rutin untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Prosedur ini berperan penting dalam membuang racun dari tubuh, menjaga keseimbangan cairan, serta menstabilkan elektrolit.

Namun, terapi ini tidak bersifat sementara. Sebagian besar pasien harus menjalani cuci darah dua hingga tiga kali dalam seminggu sepanjang hidupnya, kecuali jika mendapatkan transplantasi ginjal.

Kondisi inilah yang membuat pembiayaan terus membengkak dari tahun ke tahun.

Nadia menegaskan tingginya peningkatan pembiayaan menunjukkan jumlah kasus yang juga terus bertambah. Artinya, masalah ini bukan sekadar beban anggaran, tetapi juga sinyal serius bagi kesehatan masyarakat.

"Itu peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," ujarnya.

Dikutip dari Cleveland Clinic, ada beberapa ciri penurunan fungsi ginjal yang perlu diwaspadai, bisa terlihat dari urine hingga masalah kulit seperti berikut:

Retensi Cairan (Edema):
Pembengkakan pada tangan, kaki, pergelangan kaki, atau area sekitar mata menandakan ginjal kesulitan membuang kelebihan cairan.

Perubahan Urine:
Buang air kecil lebih sering atau justru lebih jarang, terutama pada malam hari, atau urin tampak berbuih (menandakan adanya kebocoran protein).

Kelelahan Berkepanjangan:
Penurunan fungsi ginjal menyebabkan penumpukan limbah dalam darah (uremia) dan anemia (rendahnya produksi sel darah merah), sehingga memicu rasa lelah ekstrem.

Masalah Kulit:
Kulit kering dan gatal terjadi akibat tingginya kadar limbah (fosfor/urea) dalam darah.

Mual dan Nafsu Makan Menurun:
Penumpukan racun dalam darah dapat menyebabkan mual, muntah, serta rasa logam di mulut.

Kram Otot:
Ketidakseimbangan elektrolit seperti kalsium dan fosfor dapat memicu kram atau kedutan otot.
Kesulitan Bernapas: Penumpukan cairan di paru-paru dapat menyebabkan sesak napas.

Tekanan Darah Tinggi:
Kerusakan ginjal membuat tubuh sulit mengontrol tekanan darah, yang kemudian memperparah kerusakan organ tersebut.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "'Biang Kerok' Kasus Gagal Ginjal Ngegas di RI, Pembiayaan BPJS Sampai Melonjak 400 Persen!"