Hagia Sophia

21 June 2026

Akibat Gas CO, Satu Keluarga Meninggal Saat Glamping

Foto: Getty Images/D-Keine

Tragedi kematian satu keluarga mahasiswa UGM di dalam tenda saat kamping di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, pada Mei 2026 akhirnya terungkap. Berdasarkan analisis scientific crime investigation (SCI) oleh Bid Dokkes Polda Jawa Tengah, para korban dinyatakan meninggal dunia akibat keracunan gas karbon monoksida (CO).

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP, menjelaskan secara medis mengapa gas CO bisa sangat fatal dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat tanpa disadari oleh korbannya.

Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna sehingga sering disebut sebagai silent killer. Gas ini berbahaya karena mengikat hemoglobin dalam darah jauh lebih kuat daripada oksigen, sehingga organ-organ vital seperti otak dan jantung mengalami kekurangan pasokan oksigen dengan cepat

"CO ini punya kemampuan untuk mengingat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen. Artinya kalau ada CO masuk, ada oksigen masuk maka CO yang pinter yang bisa mengingatkan dirinya ke hemoglobin. Artinya yang diedarkan ke seluruh tubuh tidak ada oksigennya," urai Prof Tjandra saat dihubungi detikcom, Selasa (16/6/2026).

"Karena oksigennya tidak bisa masuk, dari kepala sampai kaki tidak mendapatkan oksigen, akhirnya bisa menimbulkan kejadian-kejadian yang kerusakan sel sampai menimbulkan kematian," sambung dia.

Gas CO memiliki kemampuan 'membajak' aliran darah karena daya ikatnya jauh lebih kuat dibandingkan oksigen. Akibatnya, seluruh jaringan tubuh dari kepala hingga kaki mengalami kelaparan oksigen ekstrem, dimulai dari kondisi hipoksia hingga menjadi asfiksia (gagal napas total) yang memicu kerusakan sel permanen dan kematian.

Kenapa Korban Bisa Tidak Terbangun?

Prof Tjandra memaparkan bahwa keracunan gas CO sering kali terjadi ketika korban tengah beristirahat atau tidur, sehingga refleks pertahanan tubuh tidak aktif. Sifat CO juga disebut sebagai 'silent killer' karena sering kali pasien tidak merasakan dirinya telah keracunan zat tersebut.

"Yang kejadian di glamping atau di mobil itu biasanya orangnya istirahat. Jadi pada waktu awal memang dia tidak begitu terasa, tapi sambil istirahat itu, sambil kemasukan CO sedikit demi sedikit, orangnya tertidur. Sehingga tidak terasa dia tetap menghisap CO yang akhirnya memicu kefatalan," ucapnya.

Kombinasi antara efek kantuk akibat kekurangan oksigen dan kondisi tubuh yang memang sedang tidur membuat korban langsung tergelincir dari fase mengantuk ringan menuju koma, hingga akhirnya meninggal dunia.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter Paru Beberkan Bahaya Gas CO, Tewaskan Satu Keluarga saat Glamping di Temanggung"