Hagia Sophia

09 February 2023

Menurut Sains Gempa Turki Sangat Mematikan, Ini Sebabnya

Mengapa Gempa Turki Sangat Mematikan Menurut Sains. Foto: Getty Images/Burak Kara

Lebih dari 4.300 orang tewas dan ribuan lainnya terluka akibat gempa besar yang melanda Turki tenggara, dekat perbatasan Suriah, pada Senin (6/2) dini hari waktu setempat.

Tak hanya sekali, gempa yang terjadi di dekat Kota Gaziantep ini diikuti oleh banyak gempa susulan, termasuk satu gempa yang hampir sama besarnya dengan yang pertama.

Mengapa sangat mematikan?

Berkekuatan 7,8 magnitudo, gempa di Turki termasuk gempa besar. Gempa ini pecah sepanjang sekitar 100 km dari garis patahan, menyebabkan kerusakan serius pada bangunan di dekat patahan.

"Dari gempa bumi paling mematikan pada tahun tertentu, hanya dua dalam 10 tahun terakhir yang memiliki kekuatan yang sama, dan empat dalam 10 tahun terakhir," kata Prof Joanna Faure Walker, Head of Institute for Risk and Disaster Reduction at University College London, dikutip dari BBC, Selasa (7/2/2023).

Namun bukan hanya kekuatan getarannya yang menyebabkan kehancuran. Peristiwa ini terjadi pada dini hari, ketika orang-orang kebanyakan masih tidur di dalam rumah. Kelemahan bangunan juga menjadi salah satu faktor, banyaknya korban jiwa.

"Sayangnya, infrastruktur yang bertahan tidak merata di Turki Selatan dan terutama Suriah, jadi menyelamatkan nyawa sekarang sebagian besar bergantung pada respons, 24 jam ke depan sangat penting untuk menemukan para penyintas. Setelah 48 jam, jumlah yang selamat berkurang drastis," kata Dr Carmen Solana, pembaca vulkanologi dan komunikasi risiko di University of Portsmouth.

Catatan lainnya, ini adalah wilayah yang tidak mengalami gempa bumi besar selama lebih dari 200 tahun atau tanda peringatan apa pun, sehingga tingkat kesiapsiagaan akan lebih rendah dibandingkan wilayah yang lebih terbiasa menghadapi gempa.

Penyebab gempa

Kerak bumi terdiri dari potongan-potongan terpisah, yang disebut lempengan, yang terletak berdampingan satu sama lain.

Pelat-pelat ini sering mencoba untuk bergerak tetapi dicegah oleh gesekan-gesekan dengan pelat yang bersebelahan. Namun terkadang tekanan meningkat hingga salah satu pelat tiba-tiba tersentak, menyebabkan permukaannya bergerak.

Dalam hal ini, lempeng Arab bergerak ke utara dan bergesekan dengan lempeng Anatolia. Gesekan dari lempeng ini menyebabkan gempa bumi yang sangat merusak di masa lalu.

Pada 13 Agustus 1822 terjadi gempa berkekuatan 7,4 magnitudo, jauh lebih kecil dari gempa berkekuatan 7,8 magnitudo yang tercatat pada hari Senin (6/2).

Meski begitu, gempa bumi abad ke-19 mengakibatkan kerusakan besar pada kota-kota di daerah tersebut, tercatat ada 7.000 kematian di Kota Aleppo. Gempa susulan yang merusak berlanjut selama hampir satu tahun.

Sudah ada beberapa gempa susulan setelah gempa saat ini dan para ilmuwan memperkirakan peristiwa ini akan mengikuti tren yang sama dengan gempa besar sebelumnya di wilayah tersebut.

Bagaimana gempa bumi diukur?

Gempa diukur pada skala yang disebut Skala Magnitudo Moment (Mw). Pengukuran ini telah menggantikan Skala Richter yang dulu lebih dikenal, namun sekarang dianggap usang dan kurang akurat.

Angka yang dikaitkan dengan gempa mewakili kombinasi jarak garis patahan yang telah berpindah dan gaya yang memindahkannya.

Getaran sebesar 2,5 magnitudo atau kurang biasanya tidak dapat dirasakan, tetapi dapat dideteksi dengan instrumen. Gempa hingga 5 magnitudo dapat dirasakan dan menyebabkan kerusakan ringan. Gempa Turki pada 7,8 magnitudo, diklasifikasikan sebagai gempa besar dan biasanya menyebabkan kerusakan serius, seperti yang terjadi dalam kasus ini. Selanjutnya, gempa di atas 8 magnitudo menyebabkan kerusakan besar dan benar-benar dapat menghancurkan komunitas di pusatnya.

Gempa Turki dibandingkan dengan gempa besar lain

Gempa bumi di lepas pantai Jepang pada tahun 2011 tercatat berkekuatan Magnitudo 9 dan menyebabkan kerusakan luas di daratan, dan tsunami yang menyebabkan kecelakaan besar di pembangkit nuklir di sepanjang pantai.

Selain itu, ada juga gempa bumi terbesar yang pernah tercatat yakni gempa sebesar Magnitudo 9,5 di Chili pada tahun 1960. Ada pula gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 dengan kekuatan Magnitudo 9,1-9,3.























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Ini Sebab Gempa Turki Sangat Mematikan Menurut Sains"