Hagia Sophia

29 September 2023

Ini yang Diperkirakan Terjadi pada Bumi 250 Juta Tahun Mendatang

Foto: NASA

Pembentukan sebuah benua super berpotensi dapat memusnahkan mamalia, termasuk juga manusia, yang masih hidup di masa mendatang. Kondisi itu diprediksi terjadi pada 250 juta tahun mendatang.

Kepunahan massal ini terutama disebabkan oleh tiga hal, yaitu karbon akibat aktivitas gunung berapi yang lebih besar, radiasi yang bertambah banyak seiring pertambahan usia Matahari, dan semakin luasnya gurun di daerah tropis.

Benua super Pangea Ultima diperkirakan akan terbentuk di saat benua-benua yang ada sekarang menyatu di masa depan. Makalah, yang dipublikasikan di Nature Geoscience, menjadi upaya pertama yang menggambarkan bagaimana perubahan bentuk benua tersebut dapat berakibat pada persoalan iklim yang lebih ekstrem.

Di era Pangea Ultima, suhu ekstrem diperkirakan akan lebih parah, dengan lebih banyak kelembaban di sepanjang pantai dan kekeringan ekstrem di gurun yang luas.

Di Bumi yang kita tinggali ini, suhu global bisa meningkat 15-30 Celcius di atas level pra-industri. Suhu ini dapat membawa kita pada panas ekstrem yang menimpa era Permian-Triassic, 260 juta tahun lalu, di mana lebih dari 90% spesies dibinasakan.

Mamalia telah menjadi cerita kesuksesan evolusi yang hebat di dunia, terutama sejak kematian dinosaurus selama peristiwa kepunahan terakhir. Namun begitu, kemampuan mamalia beradaptasi pada panas kemungkinan lambat. Mamalia ini termasuk manusia yang belum lama tinggal di atas bumi.

Hominid muncul 6 juta tahun lalu saat suhu di Bumi lebih dingin daripada masa dinosaurus. Walaupun spesies kita berkembang begitu cepat, manusia akan menghadapi berbagai macam tantangan di era Pangea Ultima.

Selain dampak langsung oleh panas, akan ada permasalahan persediaan makanan seiringan dengan rusaknya tanaman. Banyak dari tanaman akan rusak di suhu 40 Celcius dan rusak total bila suhu mencapai 60 Celcius.

Pemimpin penulis makalah, Alexander Farnsworth, dari universitas Bristol, mengatakan bahwa kemungkinan peristiwa kepunahan lain, termasuk manusia, merupakan sebuah pengingat serius akan kefanaan.

"Bumi memiliki lingkungan yang dapat berubah. Manusia sangatlah beruntung dengan apa yang kita punya sekarang dan kita tidak seharusnya mendorong pemanasan global hingga melewati batas. Kita adalah spesies dominan, tapi Bumi dan iklimnya lah yang memutuskan sampai kapan mereka akan bertahan," ujarnya.

Para penulis menekankan bahwa prediksi mereka bukanlah sesuatu yang pasti, mengingat ini berkaitan dengan jangka waktu yang sangat panjang. Namun, mereka berharap bahwa penelitian ini akan memberikan wawasan terkait peristiwa kepunahan di masa lalu dan kemungkinan layak huninya planet lain.

Sampai saat ini, saat astronom memindai galaksi yang jauh untuk menemukan planet yang bisa dijadikan tempat tinggal alternatif manusia, mereka telah mempertimbangkan bahwa kebutuhan Matahari dan air bisa terpenuhi di sana.

"Bila NASA bisa mengirim pesawat ruang angkasa ke sebuah planet, maka aku akan memilih satu yang tidak memiliki benua super," ujar Farnsworth seperti yang dikutip detikINET dari The Guardian.




























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Ngeri, Benua Super Bikin Bumi Terpanggang dan Tak Dapat Dihuni"