Hagia Sophia

08 February 2024

BPOM: Akan Ada 10 Juta Kematian Akibat Resistensi Antimikroba

Ilustrasi bakteri. (Foto: Getty Images/Science Photo Libra/KATERYNA KON)

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) mengungkap kemungkinan di 2050 ada 10 juta kematian tercatat akibat resistensi antimikroba atau AMR. Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pengawasan Obat dan NAPZA BPOM RI Rita Endang, tren semacam itu bisa terjadi setiap tahun.

Resistensi antimikroba diartikan sebagai obat yang tak lagi efektif menangani sejumlah infeksi akibat bakteri hingga jamur.

"Resistensi antimikroba adalah kejadian ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit, berubah dari waktu ke waktu dan tidak lagi merespons terhadap obat-obatan," kata Rita Endang, dikutip dari Antara, Selasa (6/1/2024).

Menurutnya, kesulitan pengobatan bisa berujung pada risiko penyebaran penyakit, memperparah kondisi, hingga fatalnya kematian.

Bila tak dikendalikan, AMR juga berimbas pada pendapatan negara sebanyak 3,4 triliun dolar AS setiap tahun dengan mendorong 24 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem pada dekade berikutnya.

Dampak AMR bisa meluas ke pertanian, peternakan, pangan, bahkan sampai lingkungan.

"Karena itu perlu melibatkan UPT BPOM di seluruh Indonesia dalam berbagai upaya masif dan berkesinambungan untuk menanggulanginya," kata Rita.

Resistensi antimikroba juga dipicu akibat asal mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sarana pelayanan Kefarmasian (2021 - 2023), pada 2023 apotek yang melakukan penyerahan antibiotika tanpa resep dokter tercatat 70,49 persen, turun dibanding tahun 2021 dan 2022.

"Jenis antibiotika yang paling banyak diserahkan tanpa resep dokter adalah Amoksisilin, Cefadroksil, dan Cefixime," katanya.

Selain masyarakat, Rita meminta nakes memiliki peran penting untuk mencegah hal demikian terjadi.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ngeri! BPOM Prediksi 10 Juta Kematian Bakal Terjadi Akibat Resistensi Antimikroba"