Hagia Sophia

08 May 2026

Gerbang Neraka di Turkmenistan yang Mulai Meredup

Gerbang Neraka di Turkmenistan. Foto: AP Photo/Alexander Vershinin

Nyala api yang telah berkobar selama puluhan tahun di lokasi yang dijuluki Gerbang Neraka di Turkmenistan akhirnya mulai meredup. Namun, meskipun beberapa pihak sudah lama ingin api tersebut padam, kabar ini mungkin tidak sebaik yang diharapkan.

Kawah gas Darvaza, nama resmi situs tersebut, adalah sebuah lubang raksasa di Gurun Karakum yang terkenal karena nyala apinya tak pernah padam sejak tahun 1970-an. Ada beberapa kisah yang belum terverifikasi mengenai asal-usulnya.

Versi paling umum diyakini menyebutkan bahwa di 1971, insinyur Uni Soviet secara tidak sengaja mengebor sebuah kantong gas alam raksasa saat sedang mencari ladang minyak.

Demi mencegah terlepasnya gas beracun ke atmosfer, Soviet membakar gas dengan harapan akan cepat habis. Namun, tindakan itu menyebabkan tanah sekitarnya ambles, menciptakan kawah 70,1 meter dan sedalam 20,1 meter. Lima dekade kemudian, lubang tersebut masih menyala karena terus melahap gas metana alami yang merembes dari perut Bumi.

Kawah ini menjadi objek wisata populer meskipun sulit dijangkau dan bahkan pernah menjadi latar belakang kampanye promosi presiden Turkmenistan. Namun beberapa tahun terakhir, pengamat mencatat nyala api di Gerbang Neraka meredup.

Di 2025, Turkmenistan menyatakan di sebuah konferensi bahwa nyala api di kawah gas Darvaza mulai memudar. "Penurunan intensitas api mencapai hampir tiga kali lipat," kata Irina Luryeva, direktur perusahaan energi milik negara, Turkmengaz.

Perubahan tersebut dikonfirmasi data satelit independen yang diperoleh dari Capterio, perusahaan asal Inggris yang berspesialisasi dalam konsultasi untuk mengurangi pembakaran gas di industri minyak dan gas.

Menurut pemerintah Turkmenistan, penurunan intensitas disebabkan dua sumur yang dibor di dekat kawah di 2024 untuk ekstraksi gas alam dari kantong gas itu. Namun, Capterio memiliki pandangan berbeda. Mengutip New York Times, perusahaan tersebut meyakini nyala api sudah meredup sebelum sumur dibuat dan belum dapat dipastikan apakah faktor alam turut berperan.

Lantas, apakah menutup Gerbang Neraka ini baik? New York Times melaporkan meski nyala apinya melemah, kemungkinan besar api takkan sepenuhnya padam dalam waktu dekat. Terlebih kawah ini masih menghasilkan gas metana dalam jumlah sangat besar.

Antara 2022 dan 2025, kawah ini melepaskan rata-rata sekitar 1.300 kilogram metana per jam, menurut data Carbon Mapper. Oktober 2025, emisi metananya bahkan melonjak hingga 1.960 kilogram per jam.

Walaupun jumlah ini lebih kecil dibanding gas yang dilepaskan beberapa ladang minyak dan gas raksasa, angka ini tetap signifikan untuk sebuah gas yang berkontribusi kuat terhadap perubahan iklim. Untungnya, metana ini berubah menjadi karbon dioksida saat terbakar di kawah, sehingga dampaknya sedikit lebih ringan bagi lingkungan.

Nah jika api tersebut benar-benar padam, metana mentah yang mampu mengurung panas di atmosfer sekitar 30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida, akan terlepas begitu saja ke udara. Meskipun karbon dioksida adalah pendorong utama perubahan iklim dalam jangka panjang, metana adalah gas rumah kaca terbanyak kedua dan menyumbang sekitar 11% emisi global.

Jadi dikutip detikINET dari IFL Science, walaupun nyala api mungkin lebih redup dibandingkan sebelumnya, saat ini tidak ada tanda-tanda api tersebut sepenuhnya padam dalam waktu dekat dan hal itu mungkin bukanlah sesuatu yang buruk.

























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Api 'Gerbang Neraka' Mulai Meredup, Ilmuwan Malah Khawatir"