![]() |
| Gula darah tetap tinggi meski sudah jaga pola makan? Mungkin ini penyebabnya. Foto: iStock |
Banyak yang mengira gula darah naik hanya karena makanan manis, kebanyakan nasi, atau jarang bergerak. Padahal ada pemicu lain yang sering dianggap sepele, yaitu begadang. Satu malam tidur berantakan ternyata bisa membuat tubuh lebih sulit mengatur gula darah.
Temuan terbaru ini ada dalam studi The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism tahun 2026 menemukan bahwa satu malam tetap terjaga semalaman dapat mengganggu respons gula darah.
Artinya, bahkan pada tubuh yang masih bugar, kurang tidur semalam saja sudah cukup membuat sistem pengaturan gula darah tidak bekerja seefisien biasanya.
Saat Tubuh Tidak Tidur, Metabolisme Tubuh Terganggu
Normalnya saat tidur, tubuh masuk ke fase pemulihan. Hormon diatur ulang, sel memperbaiki diri, dan sensitivitas insulin dijaga tetap baik. Insulin membantu gula dari darah masuk ke sel untuk dijadikan energi.
Saat begadang, ritme ini terganggu. Tubuh tetap terjaga pada waktu yang seharusnya dipakai untuk istirahat. Akibatnya, keesokan hari gula darah setelah makan lebih tinggi dan turun lebih lambat. Ini menunjukkan respons insulin tidak bekerja seefisien saat tubuh cukup tidur.
Efek ini terjadi terlepas dari perubahan hormon reproduksi. Jadi masalah utamanya bukan siklus hormon, melainkan dampak kurang tidur itu sendiri terhadap metabolisme.
Berisiko Menjadi Diabetes
Lonjakan gula darah sesekali memang sering tidak langsung terasa. Banyak yang tetap merasa biasa saja meski semalam kurang tidur. Namun di balik itu, tubuh sedang bekerja lebih keras untuk menstabilkan kadar gula darah keesokan harinya.
Saat begadang menjadi kebiasaan, gangguan kecil ini bisa menumpuk. Tubuh berulang kali menghadapi gula darah yang lebih sulit dikendalikan, sementara pankreas terus diminta memproduksi insulin lebih banyak agar kadar gula kembali turun. Jika berlangsung terus menerus, kerja metabolisme menjadi makin berat.
Dalam jangka panjang, pola tidur berantakan berkaitan dengan meningkatnya risiko resistensi insulin, pradiabetes, hingga diabetes tipe 2. Karena itu, menjaga jam tidur penting seperti menjaga pola makan. Tidur cukup bukan sekadar istirahat, tetapi bagian penting dari kontrol gula darah sehari hari.
Bukan Cuma Pola Makan, Pola Tidur Juga Penting
Saat membahas gula darah tinggi, yang paling sering disorot biasanya pola makan. Konsumsi minuman manis, porsi makan berlebih, terlalu sering ngemil, hingga kebiasaan makan tinggi karbohidrat olahan memang dikenal dapat memicu lonjakan gula darah. Selain itu, jarang olahraga, berat badan berlebih, dan penumpukan lemak di area perut juga ikut membuat kerja insulin menjadi lebih berat.
Namun ada satu hal yang sering luput dibahas, yaitu pola tidur. Jam tidur yang berantakan, sering tidur larut, atau kebiasaan begadang juga bisa mengganggu cara tubuh mengatur gula darah. Saat tubuh kurang tidur, respons insulin menurun sehingga gula darah lebih sulit turun setelah makan.
Artinya, menjaga gula darah tidak cukup hanya dari isi piring dan rutin bergerak. Waktu tidur yang teratur juga punya peran penting. Tubuh membutuhkan tidur cukup agar sistem metabolisme tetap bekerja stabil dari hari ke hari.
Tidak Bisa Dibayar Keesokan Hari
Sering ada anggapan tidur bisa dibayar keesokan harinya. Kenyataannya, tubuh memiliki jam biologis yang bekerja mengikuti siang dan malam. Saat semalaman terjaga, ritme ini ikut kacau. Tidur siang panjang setelah begadang belum tentu langsung menghapus dampaknya pada metabolisme.
Itu sebabnya orang yang rutin tidur larut, sering shift malam, atau kerap maraton serial sampai dini hari perlu lebih waspada terhadap kesehatan gula darah, meski merasa masih muda dan sehat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sudah Jaga Pola Makan, Gula Darah Tetap Tinggi? Gen Z Wajib Tahu Kesalahan Ini"
