![]() |
| Foto: Getty Images/saengsuriya13 |
Di usianya yang saat itu masih 26 tahun, pria bernama Niven Hopkins merasa dalam kondisi fisik yang sangat sehat. Ia rutin pergi ke gym, berlari, dan menjalani pekerjaan di bidang teknik yang menguras tenaga fisik.
Niven muda sama sekali tidak pernah merasa sakit. Namun, semua berubah drastis pada suatu malam di bulan Juni 2024.
Sepulang kerja, kaki Niven tiba-tiba terasa sangat nyeri hingga ia mengira jari kakinya patah, meski tidak pernah membentur apapun.
Keesokan paginya, ia terbangun dengan kondisi kaki membengkak, memerah, dan rasa sakit yang luar biasa. Dokter kemudian mendiagnosisnya terkena serangan asam urat parah, sebuah kondisi yang dinilainya janggal karena ia sangat jarang mengonsumsi alkohol.
Usai menjalani tes darah, Niven pun diizinkan pulang.
Beberapa hari kemudian, saat sedang berlibur bersama teman-temannya di Lake District, Inggris, ponsel Niven berdering pada pukul 4 pagi.
Didiagnosis Gagal Ginjal
Pihak rumah sakit memintanya untuk segera datang saat itu juga. Hasil tes darah menunjukkan ia mengalami gagal ginjal.
"Saya ingat berpikir, ini tidak mungkin benar. Pasti ada kesalahan," kenang Niven, yang dikutip dari Newsweek.
Dari pemeriksaan genetik lanjutan mengonfirmasi bahwa Niven mengidap kondisi langka yang diturunkan secara genetik. Ibunya sendiri tercatat pernah menjalani dua kali transplantasi ginjal.
Kondisi Niven terus memburuk hingga ia didiagnosis menderita penyakit ginjal stadium 4. Kini kondisinya berkembang menjadi stadium 5 (stadium akhir).
Deretan Gejala Awal yang Sering Kali Diabaikan
Berkaca dari apa yang dialaminya, Niven menyadari ada banyak tanda peringatan dari tubuh yang selama ini ia abaikan karena intensitasnya yang tergolong ringan.
Berikut adalah sederet gejala awal gagal ginjal yang sempat diabaikan oleh Niven:
1. Kelelahan Kronis
Niven selalu merasa lelah. Tetapi, ia menganggapnya sebagai hal normal akibat jadwal kerja yang padat dan intensitas latihan fisik yang tinggi.
2. Urine Berbusa
Adanya gelembung yang tidak cepat hilang pada urine menjadi indikasi awal adanya kebocoran protein akibat fungsi ginjal yang terganggu.
3. Sakit Punggung
Rasa nyeri di punggung sempat dirasakannya dalam waktu lama, namun ia menduganya sebagai cedera otot biasa akibat mengangkat beban atau berlari.
4. Kabut Otak (Brain Fog)
Niven juga kerap kehilangan fokus saat menulis email atau mendadak lupa apa yang sedang dibicarakan di tengah percakapan.
Bergantung pada Mesin Dialisis 9 Jam Setiap Malam
Kini, di usianya yang menginjak 28 tahun, hidup Niven berubah total. Setiap malam, ia harus terhubung ke mesin dialisis selama sembilan jam saat tidur melalui metode Automated Peritoneal Dialysis (APD).
Sebuah selang khusus dipasang di perutnya untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak.
"Setiap bangun tidur, saya harus memeriksa berat badan, memantau tekanan darah, dan minum obat sepanjang hari," tuturnya.
Meski masih bisa berolahraga dan berkumpul bersama teman-teman setelah sesi dialisis selesai, tantangan terberat yang dihadapi Niven adalah rasa lelah yang tidak menentu. Di beberapa pagi, ia sering kali terbangun dengan tubuh yang luar biasa lemas seperti mengalami hangover berat.
Niven mengaku sempat merasa terisolasi karena narasi atau informasi seputar penyakit ginjal di internet mayoritas mendeskripsikan pasien usia lanjut. Hal inilah yang mendorongnya untuk aktif membagikan kisahnya di media sosial guna meningkatkan kesadaran anak muda akan pentingnya deteksi dini.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Pria Kena Gagal Ginjal Stadium Akhir di Usia 28 Tahun"
