![]() |
| Prosedur egg freezing lagi ngetren di kalangan selebritis. Foto: Getty Images/bluecinema |
Sederet selebriti di Indonesia juga pernah menjalani egg freezing di usia yang beragam. Sebenarnya, kapan waktu yang ideal untuk melakukannya menurut dokter?
Prosedur egg freezing atau pembekuan sel telur kembali ramai diperbincangkan publik. Langkah medis ini dilakukan oleh wanita untuk mengamankan peluang kehamilan di masa depan.
Terutama bagi mereka yang ingin menunda momongan karena alasan karier, belum memiliki pasangan, ataupun kondisi kesehatan.
Tren membekukan sel telur juga dilakukan sederet selebriti di Indonesia. Mulai dari Luna Maya, Olla Ramlan, Dewi Perssik, hingga yang terbaru dan sempat viral di media sosial, yaitu model sekaligus aktris Sabrina Chairunnisa.
Banyak figur publik yang menjalani prosedur ini di usia yang beragam. Lalu, sebenarnya kapan usia paling ideal bagi seorang wanita untuk melakukan egg freezing?
Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (KFER) dari Brawijaya Hospital Antasari, dr M Luky Satria Syahbana Marwali, SpOG, SubspKFER, menjelaskan fenomena tersebut. Menurutnya, faktor usia sangat menentukan hasil akhir dari prosedur ini.
"Kembali lagi, lebih baik usia di bawah 35 tahun," ujar dr Luky saat diwawancarai detikcom, Senin (25/5/2026).
'Golden Age' untuk Jalani Egg Freezing
dr Luky membeberkan bahwa batasan usia di bawah 35 tahun menjadi sangat krusial karena memengaruhi dua faktor utama. Itu terkait dengan tingkat keberhasilan kehamilan kelak dan jumlah sel telur yang berhasil dipanen dalam satu siklus tindakan.
Jika seorang wanita melakukan egg freezing sebelum menginjak usia 35 tahun, kualitas sel telurnya cenderung masih sangat prima.
Hal ini membuat kuantitas telur yang perlu dikumpulkan pun tidak perlu terlalu banyak.
"Jadi, kalau misalnya dia usianya itu di bawah 35 ya, itu dia cukup mengumpulkan telur antara 15 sampai 20 telur untuk kemungkinan keberhasilan kehamilan bisa sampai 80 persen," jelasnya.
Bahkan, jika kualitasnya sangat baik, angka keberhasilannya bisa menyentuh 80 hingga 90 persen untuk bisa menghasilkan satu bayi.
Tantangan Besar Jika Dilakukan di Usia 40 Tahun
Sebaliknya, dr Luky mewanti-wanti para wanita yang baru merencanakan prosedur egg freezing ketika usianya sudah menginjak kepala empat. Pada usia 40 tahun ke atas, tantangan biologis yang dihadapi perempuan akan jauh lebih berat.
"Sementara kalau misalnya usianya di atas itu, misalnya 40 atau segala macem, waduh, itu telurnya memang dikumpulin banyak banget. Lebih dari 20, bisa 30, bisa 40 telur," wanti-wanti dr Luky.
Hal ini menjadi sebuah ironi medis yang harus dihadapi. Secara biologis, semakin tua usia seorang wanita, maka jumlah sel telur yang bisa didapatkan dalam sekali proses stimulasi hormon justru akan semakin sedikit.
Sementara, kebutuhan jumlah telur yang harus disimpan agar sukses hamil justru jauh lebih banyak karena faktor penurunan kualitas.
"Jadi, kalau misalnya umurnya 40, saya udah egg freezing nih, berapa telurnya (yang didapat)? Lima, sepuluh. Kurang banget. Itu usianya mungkin (butuh) 30 atau 40 telur, gitu," tambahnya.
Akibat keterbatasan jumlah telur yang didapat pada usia matang, pasien biasanya tidak cukup hanya menjalani satu kali tindakan.
"Apalagi, semakin tua, semakin tua mungkin lebih banyak telur yang disimpan. Sementara, semakin tua telur yang didapat mungkin sedikit. Jadi, dia harus ngulang stimulasi beberapa kali sampai mengumpulkan telur yang cukup," pungkas dr Luky.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Banyak Selebriti Jalani Egg Freezing, Berapa Usia Ideal Wanita Bekukan Sel Telur?"
