Hagia Sophia

15 May 2026

BRIN Ungkap Cara Mencegah Penularan Hantavirus

Foto: Getty Images/D-Keine

Informasi mengenai ancaman hantavirus belakangan ini kembali menjadi sorotan dan ramai diperbincangkan netizen di berbagai platform digital. Menanggapi kehebohan tersebut, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meminta masyarakat untuk tetap tenang dan memahami fakta ilmiah mengenai virus ini dengan tepat.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa hantavirus adalah kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat (rodensia), terutama tikus liar. Beberapa jenis tikus yang menjadi inang (reservoir) hantavirus antara lain tikus rumah, tikus got, tikus ladang, hingga mencit liar.

Salah satu jenis yang paling banyak disorot saat ini adalah virus Andes, yang umumnya ditemukan pada tikus liar di kawasan Patagonia, Argentina, dan Chile. Virus ini patut diwaspadai karena dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi paru-paru berat yang bisa berujung pada gagal napas akut.

"Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi," jelas Ristiyanto dalam keterangan yang diterima detikINET.

Belum Ditemukan di Indonesia

Gejala awal infeksi hantavirus sering kali mengecoh karena mirip dengan flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan lemas. Karena tidak spesifik, penanganannya kerap terlambat. Padahal, Ristiyanto menyebutkan tingkat kematian akibat HPS tergolong cukup tinggi, yakni berkisar 20 hingga 35 persen.

Kabar baiknya, Ristiyanto menegaskan bahwa hingga saat ini belum pernah ada laporan kasus virus Andes di Indonesia.

Berdasarkan riset panjang yang dilakukan di Tanah Air, virus mematikan ini tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik maupun liar. Meski begitu, masyarakat tetap diminta waspada mengingat Indonesia memiliki populasi tikus yang sangat padat, terutama di kawasan permukiman.

Bukan Menular Lewat Udara Bebas

Peneliti BRIN lainnya, Arief Mulyono, turut meluruskan disinformasi yang beredar di masyarakat. Ia menegaskan bahwa karakter penyebaran hantavirus sangat berbeda dengan COVID-19, campak, atau influenza yang mudah menyebar.

Meskipun ada kemungkinan penularan antarmanusia pada kasus virus Andes, hal itu sangat jarang terjadi. Penularan hanya bisa terjadi melalui kontak fisik yang sangat erat dan intensif dalam waktu lama.

"Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat," tegas Arief. Ia juga menepis rumor yang menyebutkan hantavirus sebagai penyakit menular seksual.

Langkah Pencegahan Hantavirus

Beberapa kelompok pekerja dinilai memiliki risiko paparan yang lebih tinggi, seperti petani, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, hingga warga yang sedang membersihkan gudang tua.

Untuk mencegah penularan hantavirus dalam kehidupan sehari-hari, BRIN menyarankan beberapa langkah berikut:
  • Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan menutup rapat semua akses masuk tikus.
  • Menyimpan bahan makanan di dalam wadah yang tertutup rapat.
  • Selalu gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area yang lama tidak dihuni.
  • Jangan langsung menyapu kotoran tikus yang kering karena debunya bisa beterbangan dan terhirup. Semprotkan cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan.
"Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar," pungkas Arief.

























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Peneliti BRIN Ungkap Fakta dan Cara Mencegah Penularan Hantavirus"