Hagia Sophia

20 June 2026

Bagaimana Sebenarnya Kategori Produk Olahan Susu Dibedakan?

Aneka jenis susu. Foto: Getty Images/pocketlight

Di rak minimarket atau supermarket, produk olahan susu hadir dalam banyak bentuk. Ada susu pasteurisasi, susu UHT, susu bubuk, hingga susu kental manis. Meski sama-sama berasal dari susu, masing-masing produk memiliki proses pengolahan, komposisi, serta karakter penggunaan yang berbeda.

Perbedaan tersebut membuat setiap produk punya fungsi tersendiri, mulai dari dikonsumsi langsung hingga digunakan sebagai campuran makanan dan minuman. Karena itu, label dan kategori pada produk olahan susu biasanya disesuaikan dengan karakter serta tujuan penggunaannya.

Lalu, bagaimana sebenarnya kategori produk olahan susu dibedakan?

Mengenal Perbedaan Kategori Produk Olahan Susu dan Fungsinya

Produk olahan susu memiliki kategori yang cukup beragam. Perbedaan tersebut umumnya ditentukan oleh proses pengolahan, komposisi, hingga tujuan penggunaannya dalam konsumsi sehari-hari.

1. Susu Pasteurisasi
Susu pasteurisasi merupakan susu yang dipanaskan pada suhu tertentu untuk membantu mengurangi mikroorganisme berbahaya tanpa menghilangkan karakter dasar susunya. Karena proses pemanasannya lebih ringan, susu pasteurisasi umumnya perlu disimpan pada suhu dingin sekitar 2-6 derajat Celsius dan memiliki masa simpan relatif singkat, mulai dari beberapa hari hingga sekitar dua minggu tergantung proses dan kemasannya.

2. Susu UHT
Susu UHT (Ultra High Temperature) diproses pada suhu sangat tinggi dalam waktu singkat sehingga dapat bertahan lebih lama dalam kemasan tertutup. BPOM menjelaskan proses sterilisasi dan pengemasan aseptik membuat susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang sebelum dibuka. Dalam praktiknya, produk UHT umumnya memiliki masa simpan beberapa bulan selama kemasan tetap dalam kondisi baik dan belum dibuka.

3. Susu Bubuk
Susu bubuk dibuat melalui proses pengurangan kadar air dari susu hingga berbentuk bubuk. Kadar air yang lebih rendah membuat produk lebih praktis disimpan dan memiliki daya simpan lebih panjang dibanding sebagian produk susu cair.

4. Susu Kental Manis
Menurut BPOM, susu kental manis (SKM) merupakan produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari susu dan ditambahkan gula. Produk ini umumnya memiliki kadar lemak susu tertentu sesuai standar yang berlaku.

Dalam penggunaannya, susu kental manis lebih sering dimanfaatkan sebagai campuran makanan atau minuman, seperti topping roti, campuran kopi, hingga pelengkap dessert. Kandungan gula dan kadar air yang lebih rendah juga membuat produk memiliki daya simpan relatif lebih panjang dalam kemasan tertutup dibanding susu cair.

Secara umum, perbedaan kadar air, proses pemanasan, dan pengemasan menjadi faktor yang memengaruhi cara penyimpanan masing-masing produk olahan susu. BPOM juga mengatur bahwa pangan olahan perlu mencantumkan petunjuk penyimpanan pada label kemasan agar mutu dan keamanan produk tetap terjaga selama masa edar maupun setelah dibuka.

Apakah Semua Produk Olahan Susu Termasuk UPF?

Belakangan, istilah ultra-processed food (UPF) semakin sering dibahas dalam topik kesehatan dan pola makan. Namun, dalam klasifikasi NOVA, tidak semua produk olahan susu otomatis masuk kategori yang sama.

Sistem NOVA membagi pangan berdasarkan tingkat pengolahannya, mulai dari minimally processed food, processed culinary ingredients, processed food, hingga ultra-processed food. Pada produk susu, kategorinya dapat berbeda tergantung proses pengolahan, komposisi, dan bahan tambahan yang digunakan.

Susu pasteurisasi dan susu UHT tanpa banyak tambahan bahan umumnya masuk kategori processed food karena tetap mempertahankan komponen dasar susu meski melalui proses pemanasan untuk keamanan pangan dan daya simpan.

Sementara itu, beberapa produk dengan formulasi lebih kompleks, termasuk produk dengan tambahan gula, perisa, pewarna, atau aditif lain, dapat masuk kategori ultra-processed food (UPF). Dalam pendekatan NOVA, susu kental manis umumnya termasuk dalam kategori ini karena mengandung tambahan gula dan melalui proses formulasi lebih lanjut dibanding susu cair biasa.

Meski begitu, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Purwiyatno Hariyadi, menilai suatu pangan sebaiknya tidak hanya dilihat dari ada atau tidaknya gula, garam, lemak, maupun bahan tambahan tertentu saja.

"Yang perlu dinilai bukan hanya apakah suatu produk mengandung gula, garam, lemak, atau bahan tambahan tertentu, tetapi juga seberapa besar kontribusinya terhadap total asupan harian. Prinsip yang sama berlaku pada komponen gizi yang bermanfaat seperti protein, vitamin, dan mineral," ujarnya saat dihubungi detikcom, Kamis, (21/5/2026).

Menurutnya, pangan sebaiknya dinilai dalam konteks pola makan secara keseluruhan, termasuk porsi, frekuensi konsumsi, serta keseimbangan dengan ragam pangan lain sehari-hari.

Ia menjelaskan, proses pengolahan pangan sendiri pada dasarnya juga dilakukan untuk berbagai tujuan, mulai dari menjaga keamanan produk hingga memperpanjang daya simpan. Karena itu, penilaian terhadap suatu produk tidak bisa hanya dilihat dari tingkat pengolahannya saja.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Mengenal Kategori Produk Olahan Susu: Dari Susu Cair hingga Susu Kental Manis"