Hagia Sophia

13 June 2026

Eks Petinggi WHO: Dampak Rupiah Melemah ke Harga Obat

Ilustrasi obat (Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)

Nilai tukar rupiah semakin tertekan oleh penguatan dolar AS. Bahkan, mata uang Negeri Paman Sam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) secara intraday di tengah aktivitas perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS berada pada level Rp 18.201 atau menguat 0,91 persen sekitar pukul 13.18 WIB per Senin (8/6). Mata uang itu merangkak naik dari level Rp 18.106,5 pada awal perdagangan pagi.

Lemahnya rupiah di hadapan dolar AS ini bisa berdampak buruk pada sektor kesehatan. Ini berpotensi memberikan tekanan besar bagi sistem kesehatan, baik pada fasilitas medis, penyedia layanan, hingga kantong masyarakat sebagai konsumen akhir.

Menyoroti hal tersebut, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan beberapa sektor medis krusial seperti harga obat, reagen, hingga alat kesehatan bisa saja terdampak.

"Pertama adalah kemungkinan naiknya harga obat, utamanya karena sebagian besar bahan baku obat kita (bahkan ada yang menyebutnya sampai hampir 90 persen) masih di-impor," kata Prof Tjandra dalam keterangan yang diterima detikcom, Selasa (9/6/2026).

"Dampak kedua adalah harga reagen dan bahan lain (cartridge, test strip dll) untuk berbagai test pemeriksaan diagnostik. Seperti juga bahan baku obat maka tidak sedikit reagen dan bahan-bahan ini yang masih diimpor, yang tentunya akan terdampak dengan nilai dolar Amerika yang sudah tinggi sekarang ini," sambungnya.

Dampak selanjutnya yang mungkin dirasakan adalalah harga alat-alat kesehatan yang akan melambung. Terlebih, alkes yang besar dan canggih.

"Alat-alat kesehatan yang besar dan canggih, yang juga masih banyak yang diimpor. Ini tentu punya potensi dampak bagi masyarakat yang memerlukan pemeriksaan alat canggih di rumah sakit kita," katanya.

"Dampak keempat adalah kenaikan nilai dolar yang menimbulkan tekanan finansial pada kehidupan sehari-hari masyarakat, yang bukan tidak mungkin menjadi salah satu pemicu stress dan gangguan kesehatan mental," lanjutnya.

Tidak hanya itu, di jangka yang lebih panjang, jika kenaikan dolar ini tidak dapat segera diperbaiki tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat. Termasuk daya beli untuk makanan bergizi dan juga pelayanan kesehatan.

"Kita berharap agar situasi ekonomi ini dapat segera membaik, yang bukan hanya akan baik bagi situasi ekonomi tetapi juga akan baik bagi kesehatan bangsa," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Eks Petinggi WHO Bicara Dampak Rupiah Melemah ke Harga Obat-Alkes RI"