![]() |
| Foto: Getty Images/Ash2016 |
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti fenomena di Indonesia yang menurutnya berbeda dari banyak tren di negara lain yakni dokter bercita-cita menjadi spesialis, enggan memilih berkarier di layanan kesehatan primer seperti puskesmas.
Menurut Menkes, orientasi karier dokter di Indonesia masih terlalu terfokus pada pendidikan spesialis. Akibatnya, puskesmas sering kali tidak menjadi pilihan utama bagi para lulusan kedokteran yang berprestasi.
"Di Indonesia ada fenomena yang unik. Semua dokter ingin jadi dokter spesialis. Akibatnya dokter-dokter yang bagus itu tidak ada yang tinggal di puskesmas," kata Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI Senin (8/6/2026).
Ia menilai kondisi tersebut menciptakan persepsi dokter yang bekerja di puskesmas memiliki posisi yang lebih rendah dibandingkan dokter spesialis. Padahal, di banyak negara maju, dokter layanan primer justru menjadi tulang punggung sistem kesehatan.
Menurut Menkes, dokter yang bertugas di lini terdepan memiliki peran sangat penting karena mampu menyelesaikan sebagian besar persoalan kesehatan masyarakat tanpa harus merujuk pasien ke rumah sakit.
"Kalau kita lihat di luar negeri, justru dokter-dokter yang di depan ini adalah dokter-dokter hebat karena mereka yang benar-benar bisa menyelesaikan masalahnya," ujarnya.
Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat jalur karier dokter layanan primer agar profesi tersebut memiliki daya tarik yang sama dengan pendidikan spesialis.
Menkes menegaskan dokter yang bertugas di puskesmas harus mendapat kepastian jenjang karier sehingga tidak merasa menjadi profesi 'kelas dua'.
"Kita mesti memberikan kepastian karier bagi dokter di puskesmas agar mereka tidak merasa minder atau merasa kelas dua dibandingkan dokter spesialis," lanjutnya.
Belajar dari Belanda dan Singapura
Menkes mengatakan pemerintah juga mempelajari transformasi sistem kesehatan yang dilakukan sejumlah negara, termasuk Belanda dan Singapura.
Menurutnya, Belanda dikenal sukses mengembangkan sistem *family doctor* atau dokter keluarga dalam dua dekade terakhir. Model tersebut menempatkan dokter layanan primer sebagai pintu masuk utama pelayanan kesehatan.
"Kita juga melakukan benchmarking ke luar negeri. Belanda sangat terkenal bagaimana mereka melakukan transformasi family doctor dalam 20 tahun terakhir," katanya.
Ia juga mengungkapkan pernah berdiskusi langsung dengan Menteri Kesehatan Singapura terkait penguatan layanan primer.
"Singapura, Menteri Kesehatannya bilang sendiri ke saya, dokter spesialis buat orang Indonesia saja deh. Tapi nanti Singapura harusnya semuanya selesai di family doctor. Tugasnya menjaga agar masyarakat tetap sehat," tutur Menkes.
Menurut dia, tren global saat ini mengarah pada penguatan layanan kesehatan primer. Dokter spesialis difokuskan menangani kasus-kasus yang lebih kompleks, sementara sebagian besar pelayanan kesehatan diselesaikan di tingkat dokter keluarga atau layanan primer.
Karena itu, Indonesia berupaya mempercepat transformasi serupa dengan memperkuat kompetensi dokter di puskesmas dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan dasar.
"Kita melihat Belanda sudah berhasil melakukan transformasi ini, Singapura juga sedang dalam proses. Negara-negara lain juga sudah banyak masuk. Kita gap-nya masih cukup besar," pungkasnya.
Kementerian Kesehatan sebelumnya mengungkapkan sekitar 99,2 persen puskesmas di Indonesia masih membutuhkan dokter dengan kompetensi layanan primer atau dokter keluarga, sehingga penguatan SDM kesehatan di lini terdepan menjadi salah satu fokus utama reformasi sistem kesehatan nasional.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Menkes: Indonesia Unik Semua Ingin Jadi Dokter Spesialis, Tak Mau di Puskesmas"
