Hagia Sophia

26 July 2026

IDAI: Ciri Depresi dan Cemas pada Remaja

Ilustrasi (Foto: Getty Images/spukkato)

Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan, dari sekitar 46 juta populasi remaja di Tanah Air, sebanyak 15,5 juta di antaranya atau setara satu dari tiga remaja mengalami gangguan kesehatan mental.

Masalah yang paling sering ditemukan meliputi gangguan kecemasan (anxiety), hiperaktivitas, depresi, gangguan perilaku, hingga stres berat.

Bahkan, sekitar 2 persen anak dan remaja dilaporkan mengalami depresi. Mirisnya, sebanyak 61 persen dari kelompok yang mengalami depresi tersebut mengaku pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup (suicidal ideation) dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Angga Wirahmadi, SpA, Subsp TKPS(K), membeberkan, kasus depresi lebih rentan ditemukan pada remaja perempuan, kelompok pendidikan menengah, serta mereka yang bermukim di kawasan perkotaan.

Namun, di tengah tingginya angka tersebut, tingkat kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan medis tergolong masih sangat minim.

"Tapi, walaupun angka depresi ini termasuk tinggi, ternyata hanya 10 persen populasi usia muda ini yang mencari pertolongan ke dokter," ungkap dr Angga dalam webinar ilmiah, Selasa (21/7/2026).

"Ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental," sambungnya.

Ciri-ciri Depresi pada Remaja

Guna mencegah risiko yang lebih berat, dr Angga mengimbau para orang tua untuk lebih peka dan mengenali gejala awal depresi pada anak sejak dini. Beberapa tanda khas yang kerap muncul antara lain:
  • Hilangnya minat atau keinginan untuk beraktivitas
  • Merasa minder, rendah diri, dan tidak berdaya
  • Mengalami gangguan tidur (insomnia) dan kehilangan energi
  • Penurunan nafsu makan secara drastis
  • Sering merasa dirinya "tidak berguna" atau tidak baik
"Coba dipantau apakah anak menunjukkan gejala atau tanda tersebut. Jika ada, konsultasikan segera ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut," tegas dr Angga.

Tanda Gangguan Kecemasan (Anxiety) yang Sering Terlewat

Selain depresi, orang tua juga diminta mewaspadai gangguan kecemasan. dr Angga menjelaskan, remaja yang mengalami kecemasan tinggi kerap menunjukkan perilaku overthinking atau terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, cenderung menghindar dari situasi yang tidak disukai, hingga sering mengeluh sakit perut.

Sering kali, kondisi psikologis ini juga bermanifestasi menjadi gejala fisik (somatis), seperti:
  • Keluar keringat dingin secara berlebihan
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi)
  • Sakit kepala berulang
  • Selalu tampak gelisah, terus bergerak, dan sulit tidur
  • Terus-menerus membutuhkan penenangan (reassurance) dari orang lain
dr Angga tak menampik bahwa keluhan-keluhan fisik ini kerap memicu kekeliruan diagnosis karena gejalanya mirip dengan penyakit organ tubuh lainnya.

"Jadi gejalanya sebenarnya agak sulit dibedakan dengan gangguan-gangguan lain. Sehingga kita sebagai dokter anak dan dokter yang berkecimpung atau melayani pasien anak tentunya harus tahu bagaimana cara mendeteksinya," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "IDAI Beberkan Ciri Depresi dan Cemas pada Remaja, Orang Tua Wajib Tahu"