Hagia Sophia

29 July 2026

Risiko Medis Saat Gula Darah Anjlok Tiba-tiba

Ilustrasi (Foto: Getty Images/filmstudio)

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah atau glukosa turun di bawah batas normal. Kondisi ini lebih sering dialami oleh orang dengan diabetes, terutama diabetes tipe 1, tetapi juga dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki diabetes.

Gula darah berperan penting sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Glukosa yang berasal dari makanan dan minuman, terutama karbohidrat, akan dibawa melalui aliran darah ke seluruh sel tubuh untuk digunakan sebagai energi.

Dikutip dari Cleveland Clinic, otak juga membutuhkan pasokan glukosa secara terus-menerus agar dapat berfungsi dengan baik. Karena itu, ketika kadar gula darah turun terlalu rendah, hipoglikemia dapat menimbulkan berbagai gejala dan dalam kondisi berat bisa mengancam nyawa.

Pada kebanyakan orang dengan diabetes, hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah berada di bawah 70 miligram per desiliter (mg/dL) atau 3,9 milimol per liter (mmol/L). Sementara pada sebagian besar orang tanpa diabetes, kondisi ini umumnya didefinisikan sebagai kadar gula darah di bawah 55 mg/dL atau 3,1 mmol/L.

Hipoglikemia membutuhkan penanganan segera dengan mengonsumsi gula atau karbohidrat. Pada kondisi yang berat, pasien dapat membutuhkan obat glukagon sebagai penanganan darurat dan pertolongan medis.

Senada, Spesialis Penyakit Dalam Endokrin-Metabolik-Diabetes Universitas Airlangga (UNAIR) dr Hermina Novida SpPD KEMD FINASIM menjelaskan, hipoglikemia adalah kondisi kadar gula darah di bawah normal yang dapat terjadi bukan hanya pada pengidap diabetes. Namun, juga akibat faktor medis dan non-medis lainnya.

"Hipoglikemia tidak hanya dialami oleh pengidap diabetes. Namun, juga bisa terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, kurangnya asupan kalori, atau gangguan pada metabolisme insulin," jelasnya, dikutip dari laman UNAIR.

Penyebab Hipoglikemia

dr Hermina menjelaskan, beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan hipoglikemia, seperti aktivitas fisik berlebihan yang meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan kalori. Selain itu, ia menyebut puasa yang terlalu panjang, serta berkurangnya cadangan glikogen pada pasien dengan berat badan rendah atau penyakit liver kronis dapat menjadi faktor pemicu.

"Terdapat pula faktor lain, seperti tumor tertentu yang mempengaruhi kerja insulin, pengaruh obat-obatan, serta kondisi infeksi akut atau kritis yang mengganggu asupan kalori. Selain itu, kadar insulin yang terlalu tinggi akibat insulinoma atau penyakit ginjal kronik juga bisa menjadi penyebab," jelasnya.

Faktor non-medis juga berperan dalam memicu hipoglikemia, seperti pola makan yang tidak teratur serta komposisi makanan yang tidak seimbang. dr Hermina mengungkapkan, stres dan kurang istirahat juga dapat menyebabkan seseorang melewatkan makan dan mengalami penurunan nafsu makan sehingga asupan kalori terganggu.

"Ketika asupan kalori terganggu akibat pola makan yang tidak teratur. Tubuh tidak memiliki cadangan energi yang cukup, sehingga risiko hipoglikemia semakin meningkat," ungkap dr Hermina.

Gejala Hipoglikemia

Gejala hipoglikemia atau gula darah rendah dapat muncul dengan cepat dan berbeda pada setiap orang. Seseorang juga dapat mengalami gejala yang berbeda pada setiap episode hipoglikemia.

Meski terasa tidak nyaman, gejala tersebut sebenarnya merupakan sinyal peringatan dari tubuh agar seseorang segera mengambil tindakan sebelum kadar gula darah semakin turun.

Gejala hipoglikemia meliputi:
  • Tubuh gemetar atau menggigil
  • Tubuh terasa lemas
  • Berkeringat dan merasa kedinginan
  • Rasa lapar yang sangat kuat
  • Jantung berdebar atau berdetak lebih cepat
  • Pusing atau merasa berkunang-kunang
  • Kebingungan atau sulit berkonsentrasi
  • Cemas atau mudah tersinggung
  • Kulit tampak lebih pucat
  • Kesemutan atau mati rasa pada bibir, lidah, atau pipi
Sementara itu, hipoglikemia berat dapat menimbulkan gejala yang lebih serius, seperti:
  • Penglihatan kabur atau melihat ganda
  • Bicara tidak jelas atau pelo
  • Gerakan tubuh menjadi tidak terkoordinasi
  • Disorientasi atau tidak mampu mengenali lingkungan sekitar
  • Kejang
  • Kehilangan kesadaran
Hipoglikemia berat merupakan kondisi yang mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan medis segera. Dalam kasus yang jarang terjadi, hipoglikemia berat yang tidak ditangani dapat menyebabkan koma hingga kematian.

Gejala Hipoglikemia saat Tidur

Gula darah rendah juga dapat terjadi saat seseorang sedang tidur atau disebut hipoglikemia nokturnal. Kondisi ini dapat ditandai dengan beberapa gejala, seperti:
  • Tidur gelisah
  • Pakaian tidur atau seprai basah karena berkeringat
  • Berteriak atau berbicara saat tidur
  • Mengalami mimpi buruk
  • Merasa lelah, bingung, atau mengalami disorientasi setelah terbangun
Kapan Gejala Hipoglikemia Muncul?

Kadar gula darah saat gejala hipoglikemia mulai muncul dapat berbeda pada setiap orang, terutama pada pasien diabetes.

Secara umum, gejala hipoglikemia pada pengidap diabetes sering mulai dirasakan ketika kadar gula darah berada di sekitar 70 mg/dL atau lebih rendah. Namun, jika kadar gula darah turun dengan cepat, gejala dapat muncul sebelum mencapai angka tersebut.

Sebagian pengidap diabetes juga dapat mengalami gejala hipoglikemia pada kadar gula darah yang relatif lebih tinggi. Hal ini dapat terjadi pada orang yang mengalami hiperglikemia kronis atau kadar gula darah tinggi dalam waktu lama. Tubuh dapat terbiasa dengan kadar gula darah yang tinggi sebagai kondisi "normal", sehingga ambang munculnya gejala gula darah rendah dapat berubah.

Adapun hiperglikemia adalah kondisi Diabetes Mellitus (DM) pada tubuh pasien tidak terkontrol, sehingga kadar glukosa darah sangat tinggi hingga mencapai lebih 300 mg/dl. Melihat dampak yang ditimbulkan tersebut, penting bagi masyarakat untuk mulai memperhatikan konsumsi gula dan mengetahui gejala dari hiperglikemia.

Apa Itu Hipoglikemia Unawareness?

Sebagian orang yang mengalami gula darah rendah tidak merasakan gejala atau tidak menyadari bahwa kadar gula darahnya sedang turun. Kondisi ini disebut hypoglycemia unawareness atau ketidaksadaran terhadap hipoglikemia.

Orang dengan kondisi tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipoglikemia berat yang membutuhkan pertolongan medis.

Hipoglikemia unawareness dapat terjadi pada pengidap diabetes yang sering mengalami kadar gula darah rendah. Tubuh dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut sehingga tidak lagi memberikan tanda atau gejala ketika kadar gula darah turun.

Jika mengalami kondisi ini, penting untuk memberi tahu keluarga dan orang terdekat agar mereka mengetahui cara memberikan pertolongan jika terjadi episode hipoglikemia berat.

Dokter juga dapat merekomendasikan beberapa langkah untuk membantu memantau kadar gula darah, seperti menggunakan alat continuous glucose monitoring (CGM) yang dapat memberikan peringatan ketika kadar gula darah turun, melakukan pemeriksaan gula darah secara manual lebih sering, atau menggunakan anjing pendeteksi diabetes yang telah dilatih untuk mengenali tanda-tanda gula darah rendah.

Pencegahan Hipoglikemia

Untuk mencegah Hipoglikemia, dr Hermina menekankan pentingnya pola makan yang teratur dengan komposisi seimbang. Selain itu, ia menyarankan untuk selalu memantau detak jantung saat beraktivitas fisik serta memantau kadar gula darah bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki riwayat hipoglikemia.

"Olahraga secara rutin sangat baik, tetapi hindari aktivitas yang terlalu berat. Pastikan tubuh dalam kondisi fit sebelum berolahraga. Selain itu, sebaiknya konsumsi camilan sebelum olahraga untuk mencegah turunnya kadar gula darah secara drastis," tambahnya.

Kepada masyarakat, dr Hermina berpesan untuk perlu lebih memahami tanda-tanda awal hipoglikemia serta cara mengatasinya.

"Peningkatan edukasi melalui media sosial mengenai gejala awal, pertolongan pertama, serta pencegahan hipoglikemia juga sangat kita perlukan agar masyarakat dapat lebih waspada," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Hipoglikemia: Risiko Medis Saat Gula Darah Anjlok Tiba-tiba"