Hagia Sophia

29 June 2026

Fenomena 'Omega Block' yang Memicu Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Pheelings Media

Suhu ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa belakangan ini memicu kekhawatiran global. Di balik cuaca membara yang memerangkap udara panas selama berhari-hari tersebut, para ilmuwan menemukan adanya anomali sirkulasi atmosfer yang bekerja layaknya 'kemacetan lalu lintas' di langit.

Meskipun pola cuaca ini sebenarnya bukan hal baru, para ahli memperingatkan bahwa pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat intensitas gelombang panas kali ini menjadi jauh lebih mengerikan dan mematikan.

Lantas, apa saja faktor meteorologi yang menjadi biang kerok di balik panas ekstrem ini? Berikut penjelasannya:

Fenomena 'Omega Block'

Salah satu pemicu utama kondisi ekstrem ini adalah kemacetan atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block atau Blok Omega.

"Pola sirkulasi di atas Eropa menciptakan kondisi yang setara dengan kemacetan lalu lintas di atmosfer yang memerangkap panas," jelas Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF), dikutip dari France24.

Kondisi ini terjadi saat area punggung tekanan tinggi menarik udara panas dari Afrika Utara. Selain itu, di area tersebut kemudian terjepit di antara dua area tekanan rendah (satu di Eropa tengah, satu di lepas pantai Portugal).

Kondisi lainnya adalah Arus jet (jet stream), membengkok ekstrem hingga menyerupai huruf Yunani Omega.

Ketika terjebak di tengah, sistem cuaca lain terpaksa berputar melewatinya. Pola ini bisa bertahan berhari-hari hingga berminggu-minggu, membuat suhu di bawahnya terus melonjak tanpa henti.

Efek 'Penyedot Debu' Udara Panas

Sistem tekanan tinggi yang terjebak ini juga bekerja layaknya mesin penyedot debu raksasa. Efek pemblokiran ini membuat meteorologi ekstrem terus memperkuat dirinya sendiri seiring berjalannya waktu.

"Ini seperti penyedot debu yang menyedot panas dan massa udara panas yang naik dari Afrika Utara, lalu menyemburkannya ke utara dalam arus deras yang dahsyat," sebut Sebastien Leas, pakar meteorologi dan ahli prakiraan cuaca (forecaster) Prancis Météo-France.

Ancaman 'Kubah Panas' atau 'Heat Dome'

Jika pola Blok Omega ini sangat stabil, sistem tekanan tinggi akan berkembang menjadi kubah panas atau heat dome. Fenomena ini bertindak seperti penutup atmosfer pada panci yang sedang mendidih.

Kubah panas memicu lingkaran setan cuaca berupa:
  • Kompresi Udara: Udara yang tenggelam di bawah tekanan tinggi akan memanas saat terkompresi.
  • Minim Awan dan Angin: Kondisi ini menekan pembentukan awan dan memicu cuaca yang sangat tenang tanpa angin.
  • Langit Bersih: Langit yang terlalu cerah membuat sinar matahari tanpa ampun memanaskan permukaan Bumi, memicu umpan balik panas yang semakin menggila.
Fenomena kubah panas dan pola omega sebenarnya bisa terjadi di belahan bumi mana pun, termasuk Pasifik dan Amerika Utara. Sebagai contoh, pola omega berbentuk tapal kuda sempat diidentifikasi sebagai pendorong utama gelombang panas besar di Prancis pada Juni 2025 lalu.

Meskipun para ilmuwan masih memperdebatkan apakah peningkatan sistem tekanan tinggi di Eropa adalah dampak langsung dari krisis iklim. Tetapi, satu hal yang pasti, bumi yang semakin panas memperparah segalanya.

"Ketika kubah panas terjadi, gelombang panas berikutnya menjadi jauh lebih intens daripada yang seharusnya terjadi tanpa adanya perubahan iklim," pungkas Burgess.

Efek Gelombang Panas pada Kesehatan

Lantas, apa saja risiko kesehatan di balik cuaca panas ekstrem ini? Dampak paparan panas ekstrem pada tubuh terbagi menjadi dua kondisi utama, yakni:

Heat Exhaustion (Kelelahan Akibat Panas)
Kondisi ini bisa menyerang siapa saja dengan gejala pusing, sakit kepala, tubuh gemetar, dan rasa haus yang hebat. Tetapi, kondisi ini umumnya tidak serius asalkan korban bisa segera mendinginkan tubuh dalam waktu 30 menit.

Heat Stroke (Serangan Panas)
Ini adalah kondisi darurat medis yang fatal. Terjadi saat suhu inti tubuh melonjak melebihi 40,6 derajat celsius. Jika tidak segera ditangani, heat stroke bisa memicu kerusakan organ jangka panjang hingga kematian. Gejalanya meliputi pernapasan cepat, kebingungan, kejang, hingga mual muntah.

Jurnal ilmiah The Lancet memperkirakan hampir setengah juta kematian per tahun secara global disebabkan oleh panas berlebih. Bahkan, studi di 854 kota di Eropa menunjukkan perubahan iklim bertanggung jawab atas 68 persen dari sekitar 24.400 perkiraan kematian akibat panas pada tahun 2025 lalu.

Dikutip dari laman AOL, ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko jauh lebih tinggi saat cuaca panas menyengat, di antaranya:
  • Bayi, anak-anak, dan lansia.
  • Orang yang harus aktif di luar ruangan, pekerja fisik, dan tunawisma.
  • Penderita penyakit bawaan (komorbid) seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan diabetes.
  • Ibu hamil, sebab penelitian menunjukkan panas ekstrem berisiko memicu berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur pada bayi.
Selain itu, polusi udara yang diperparah oleh asap kebakaran hutan saat kemarau juga mengintai dengan risiko peradangan serta kerusakan jaringan tubuh.

Waktu Paling Berbahaya Bagi Manusia

Para ahli mengungkapkan bahwa angka kematian justru paling banyak terjadi di awal musim panas. Sebab pada fase ini, tubuh manusia belum sempat beradaptasi atau beraklimatisasi dengan perubahan suhu yang mendadak.

Lokasi juga sangat menentukan. Warga yang tinggal di wilayah yang biasanya sejuk (seperti beberapa bagian Eropa) akan jauh lebih rentan tumbang karena tubuh mereka tidak terbiasa dengan suhu menyengat.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Muncul Fenomena 'Omega Block' Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, Dampaknya Lebih Terasa?"