![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/fabrycs |
Terapi suntik untuk membantu menurunkan berat badan semakin banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan ilmu kedokteran membuat pilihan terapi obesitas semakin beragam dengan mekanisme kerja yang terus berkembang.
Tidak semua terapi bekerja dengan cara yang sama. Masing-masing memiliki mekanisme berbeda sehingga efek terhadap rasa lapar, rasa kenyang, maupun penurunan berat badan juga bisa berbeda.
Dokter spesialis gizi klinik dr Yaze, SpGK, mengatakan perkembangan terapi obesitas saat ini menunjukkan bahwa penanganan berat badan semakin berbasis ilmu pengetahuan dan tidak hanya berfokus pada pembatasan makan semata.
"Obesitas adalah penyakit yang kompleks. Karena itu, pendekatan terapinya juga semakin berkembang. Tujuannya bukan hanya membuat angka timbangan turun, tetapi membantu pasien mencapai kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan," ujar dr Yaze.
Inovasi Diet Suntik yang Semakin Maju
Perkembangan terapi obesitas semakin maju seiring dengan pemahaman ilmiah mengenai cara tubuh mengatur rasa lapar, rasa kenyang, dan metabolisme energi. Salah satu mekanisme yang banyak dipelajari melibatkan hormon inkretin, yaitu GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) dan GIP (Glucose-Dependent Insulinotropic Polypeptide). Keduanya diproduksi oleh usus setelah makan dan mengirimkan sinyal ke berbagai organ tubuh melalui reseptor khusus.
Hormon GLP-1 bekerja dengan menempel pada reseptor GLP-1 (GLP-1 receptor/GLP-1R) yang tersebar di beberapa jaringan, terutama di sel beta pankreas, saluran pencernaan, serta area tertentu di otak seperti hipotalamus dan batang otak yang berperan dalam pengaturan nafsu makan.
Ketika reseptor GLP-1 di pankreas aktif, tubuh akan meningkatkan pelepasan insulin sehingga membantu menurunkan gula darah setelah makan. Di saat yang sama, GLP-1 juga menekan pelepasan hormon glukagon dari sel alfa pankreas. Glukagon adalah hormon yang memiliki efek berlawanan dengan insulin karena berfungsi memberi sinyal kepada hati untuk melepaskan cadangan glukosa ke dalam aliran darah. Dengan menurunnya kadar glukagon setelah makan, produksi glukosa oleh hati dapat berkurang.
Selain itu, aktivasi reseptor GLP-1 di saluran pencernaan memperlambat pengosongan lambung, sedangkan aktivasi reseptor di otak membantu meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi dorongan untuk makan.
Sementara itu, GIP juga merupakan hormon inkretin yang bekerja dengan mengikat reseptor GIP (GIP receptor/GIPR) yang terutama ditemukan pada sel beta pankreas, tetapi juga terdapat di jaringan lain seperti jaringan lemak, saluran cerna, dan sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor GIP meningkatkan pelepasan insulin setelah makan dan memiliki peran dalam pengaturan metabolisme lemak serta keseimbangan energi.
Perbedaan pentingnya, jika semaglutide hanya meniru kerja GLP-1 dengan mengaktifkan reseptor GLP-1, terapi yang lebih baru yaitu tirzepatide dirancang untuk mengaktifkan dua reseptor sekaligus, yaitu GLP-1R dan GIPR. Aktivasi kedua jalur inkretin ini dapat memberikan efek yang saling melengkapi dalam mengatur kadar gula darah, rasa lapar, rasa kenyang, serta penggunaan energi oleh tubuh.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendekatan dual agonis GIP dan GLP-1 dapat menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar pada sebagian pasien dibandingkan terapi yang hanya menargetkan GLP-1.
Tetap Pola Hidup Sehat yang Dianjurkan
Menurut dr Yaze, tidak semua orang yang ingin menurunkan berat badan memerlukan terapi suntik. Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari indeks massa tubuh (IMT), adanya penyakit penyerta seperti diabetes tipe 2 atau gangguan metabolik lainnya, riwayat kesehatan, hingga obat-obatan lain yang sedang dikonsumsi.
"Yang sering menjadi kesalahpahaman adalah menganggap diet suntik sebagai jalan pintas untuk mendapatkan tubuh ideal. Padahal terapi ini diberikan pada pasien yang tepat berdasarkan pertimbangan medis," ujar dr Yaze.
Pada beberapa kondisi, perubahan gaya hidup berupa pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, perbaikan kualitas tidur, serta pengelolaan stres sudah dapat memberikan manfaat besar terhadap kesehatan dan penurunan berat badan. Terapi obat baru akan dipertimbangkan ketika manfaatnya dinilai lebih besar dibandingkan risikonya.
dr Yaze menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan berat badan dalam jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh obat yang digunakan.
"Obat dapat menjadi alat bantu yang efektif pada pasien yang tepat, tetapi tidak dapat menggantikan fondasi utama kesehatan, yaitu pola makan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang berkualitas, dan konsistensi dalam menjalankannya," pungkasnya.
Dengan semakin beragamnya inovasi diet suntik, masyarakat diharapkan dapat lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar. Kemajuan terapi medis memang membuka lebih banyak pilihan dalam penanganan obesitas, tetapi pendekatan yang paling dianjurkan tetaplah perubahan gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tren Diet Suntik Makin Beragam, Pola Hidup Sehat Tetap Paling Dianjurkan"
