Hagia Sophia

30 July 2026

Dampak Paparan Berita Buruk pada Kesehatan Mental dan Fisik

Foto: Ilustrasi baca berita buruk (Getty Images/Ranta Images)

Di era digital, informasi mengalir tanpa henti dan dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, banyak orang justru terjebak dalam paparan berita negatif yang terus bermunculan, mulai dari konflik, bencana, hingga berbagai isu yang memicu kecemasan.

Tanpa disadari, kebiasaan membaca kabar buruk secara berulang atau doomscrolling dapat memengaruhi kesehatan mental. Karena itu, penting untuk mengetahui cara menjaga kesehatan mental di tengah paparan berita buruk.

Dampak Paparan Berita Buruk pada Kesehatan Mental dan Fisik

Menurut psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Pamela Andari Priyudha, M Psi, Psikolog, paparan kabar buruk secara terus-menerus dapat menimbulkan ketegangan psikologis yang bersifat kronis dan kolektif.

"Ketika seseorang merasa tidak berdaya, mereka bisa mengalami learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang merasa tidak mampu mengubah situasi meskipun sebenarnya ada peluang. Ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan apatisme, frustasi, dan depresi secara kolektif," kata Pamela.

Dikutip dari laman Harvard Health, sebuah studi pada Agustus 2024 yang melibatkan 800 orang dewasa dan diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports menunjukkan bahwa kebiasaan doomscrolling (mencari berita buruk di internet) memicu tingkat kecemasan eksistensial yang lebih tinggi, yaitu perasaan takut atau panik ketika menghadapi keterbatasan eksistensi.

Studi lain yang dimuat dalam jurnal Computers in Human Behavior pada April 2024 menunjukkan, karyawan yang melakukan doomscrolling saat bekerja cenderung menjadi kurang terlibat dalam tugas-tugas profesional mereka.

Selain berdampak pada kesehatan mental, para ahli Harvard mengatakan, membaca berita buruk secara terus-menerus juga dapat memicu sakit kepala, nyeri leher dan bahu, penurunan nafsu makan, kesulitan tidur, bahkan tekanan darah tinggi.

"Ketika orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk terus-menerus membaca berita negatif di media sosial, mereka juga akan menjadi tidak aktif dalam waktu yang lama," kata dosen di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial, Dr Aditi Nerurkar.

"Dampak berantai yang ditimbulkannya sangat luas dan bermasalah."

Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk

Menurut Pamela, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan mental di tengah paparan berita negatif yang masif, yaitu:

1. Batasi Konsumsi Berita yang Memicu Kecemasan
Tips pertama adalah membatasi informasi yang memicu kecemasan, terutama ketika sedang berada dalam kondisi psikologis yang kurang stabil.

Menghindari topik-topik yang secara emosional mengganggu juga dapat membantu meminimalkan dampak buruk dari berita negatif. Misalnya, konflik politik atau isu sosial yang memancing reaksi emosional berlebihan.

2. Cari Informasi Pembanding
Biasakan mencari informasi pembanding dari berbagai sumber yang kredibel. Tujuannya adalah memperoleh sudut pandang yang lebih objektif dan seimbang. Masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung bereaksi terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.

"Penting untuk mengedepankan logika dan bersikap objektif. Selalu cari tahu dari berbagai sumber, jangan hanya mengandalkan satu sudut pandang," tegasnya.

3. Konsumsi Konten Positif
Selain membatasi konsumsi berita buruk, masyarakat juga disarankan untuk secara aktif mengonsumsi konten yang bersifat positif, inspiratif, atau membangun. Hal ini dapat membantu menjaga suasana hati tetap stabil dan mendorong pola pikir yang lebih optimistis dalam menghadapi dinamika kehidupan.

"Kita harus menyadari batasan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang berada di luar kendali kita. Fokus pada peran dan tanggung jawab yang bisa dijalankan akan membantu menjaga semangat dan rasa optimisme," ucap Pamela.

Kelompok Masyarakat yang Rentan Terkena Dampak Negatif dari Paparan Berita Buruk

Pamela mengatakan ada sejumlah kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan terhadap dampak negatif paparan berita buruk, di antaranya:
  • Orang tua dan lansia.
  • Remaja dan anak muda yang terlalu banyak mengonsumsi media sosial.
  • Orang dengan tingkat literasi digital yang rendah dan akses terhadap informasi kredibel yang terbatas.
Ia menekankan bahwa kemampuan seseorang dalam meregulasi atau mengelola emosi sangat berperan dalam menentukan seberapa besar dampak negatif yang ditimbulkan oleh berita buruk terhadap kesehatan mental.

"Saya kira penting bagi individu, institusi pendidikan, serta komunitas sosial untuk secara aktif memberikan edukasi yang berkelanjutan mengenai literasi digital dan keterampilan pengelolaan emosi, guna membentuk masyarakat yang lebih resilien dan siap secara psikologis dalam menghadapi tekanan informasi di era digital yang serba cepat ini," tuturnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cemas karena Sering Baca Berita Buruk? Ini Tips dari Psikolog"