Hagia Sophia

01 July 2026

Penyebab Gagal Ginjal Kronis yang Sulit Terdeteksi Dini

ilustrasi gagal ginjal (Foto: Getty Images/manassanant pamai)

Gagal ginjal kronis atau atau Chronic Kidney Disease (CKD) sering dijuluki sebagai silent disease atau penyakit yang berkembang secara diam-diam.

Pasalnya, pada tahap awal penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga banyak pengidap tidak menyadari kondisi ginjalnya sudah mengalami kerusakan. Akibatnya, gagal ginjal kronis baru terdiagnosis ketika fungsinya telah menurun cukup berat.

Apa Itu Gagal Ginjal Kronis?

Setiap orang umumnya memiliki dua ginjal yang berbentuk menyerupai kacang. Organ ini terletak di bagian belakang tubuh, di kedua sisi tulang belakang, tepat di bawah tulang rusuk. Ukuran masing-masing ginjal kurang lebih sebesar kepalan tangan.

Ginjal berfungsi layaknya penyaring alami tubuh yang membuang limbah, racun, dan kelebihan cairan dari darah. Selain itu, organ ini juga berperan dalam menjaga kesehatan tulang dan membantu pembentukan sel darah merah. Ketika fungsi ginjal mulai menurun, proses penyaringan menjadi tidak optimal sehingga zat-zat sisa dan racun menumpuk di dalam darah.

Jika ginjal mengalami kerusakan dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, zat-zat sisa akan menumpuk di dalam darah sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gagal ginjal.

Terdapat dua jenis utama gagal ginjal, yaitu akut dan kronis. Gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba, dan mungkin dapat kembali normal jika penyebabnya diatasi. Sementara, gagal ginjal kronis berlangsung perlahan-lahan selama setidaknya tiga bulan, dan dapat menyebabkan gagal ginjal permanen.

Penyakit ini disebut 'kronis' karena penurunan fungsi ginjal terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang lama. Seiring waktu, gagal ginjal kronis dapat berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir (end-stage kidney disease), yaitu kondisi ketika ginjal hampir atau sudah tidak mampu menjalankan fungsinya.

Penyebab Gagal Ginjal Kronis

Dikutip dari laman Kemenkes RI, terdapat beberapa faktor risiko penyebab penyakit ginjal kronik seperti hipertensi, diabetes mellitus, pertambahan usia, ada riwayat keluarga penyakit ginjal kronik, obesitas, penyakit kardiovaskular, berat lahir rendah, penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik, keracunan obat, infeksi sistemik, infeksi saluran kemih, batu saluran kemih dan penyakit ginjal bawaan.

Selain itu, gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, dan rendahnya aktivitas fisik juga menjadi faktor dominan yang berhubungan dengan penyakit gagal ginjal kronik.

Meski demikian, tidak semua pengidap gagal ginjal kronis akan mengalami gagal ginjal stadium akhir. Tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini umumnya akan terus memburuk.

Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan gagal ginjal kronis, tetapi berbagai pengobatan dan perubahan gaya hidup dapat membantu memperlambat kerusakan ginjal. Jika telah memasuki stadium akhir, pilihan terapi yang tersedia meliputi dialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal.

Gejala Gagal Ginjal Kronis

Adapun gejala gagal ginjal kronis, seperti:
  • Lebih sering buang air kecil
  • Mudah lelah, lemas, atau kekurangan energi
  • Nafsu makan menurun
  • Pembengkakan pada tangan, kaki, atau pergelangan kaki
  • Sesak napas
  • Urine berbusa
  • Mata tampak bengkak, terutama di sekitar kelopak mata
  • Kulit kering dan gatal
  • Sulit berkonsentrasi
  • Gangguan tidur
  • Mati rasa atau kesemutan
  • Mual dan muntah
  • Kram otot
  • Tekanan darah tinggi
  • Kulit tampak lebih gelap
Mengapa Gagal Ginjal Kronis Sulit Terdeteksi Dini?

Penyakit gagal ginjal kronis yang sulit terdeteksi rupanya berkaitan dengan gejala yang seringkali tidak muncul di awal.

Spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Dr dr Wachid Putranto, SpPD-KGH menuturkan penyakit ginjal kronis seringkali tidak menunjukkan gejala. Ia menuturkan gejala baru akan muncul setelah stadium lanjut, seperti stadium empat atau lima.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pemeriksaan dini ke fasilitas kesehatan perlu dilakukan. Ini untuk mencegah gagal ginjal secara dini dan menghindari perawatan dialisis atau cuci darah seumur hidup.

"Ini yang menyebabkan pentingnya kita melakukan deteksi dini jangan sampai pasien sudah ada gejala baru periksa kemudian ternyata sudah stadium lanjut," ucap dr Wachid dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kenali Gagal Ginjal Kronis, Si 'Silent Disease' yang Sulit Terdeteksi Dini"