![]() |
| Gorengan juga banyak mengandung tepung. Foto: Getty Images/iStockphoto/trangiap |
Makanan berbahan tepung seperti gorengan, bakwan, cireng, risol hingga berbagai jajanan kekinian memang mudah ditemukan sehari-hari. Rasanya gurih, teksturnya renyah dan cukup mengenyangkan sehingga sering kali sulit berhenti setelah satu porsi.
Namun, terlalu sering mengonsumsi makanan berbahan tepung, terutama yang digoreng, perlu diperhatikan. Ada dampak terhadap rasa kenyang, energi hingga berat badan ketika makanan tersebut dikonsumsi berlebihan.
Bikin Cepat Lapar Lagi
Makanan yang didominasi karbohidrat sederhana dengan sedikit serat dan protein cenderung lebih cepat dicerna dan diserap dibandingkan makanan yang mengandung kombinasi karbohidrat kompleks, serat dan protein.
Secara fisiologis, serat dapat membantu memperlambat pengosongan lambung dan laju penyerapan sejumlah zat gizi. Protein juga dapat memengaruhi pengosongan lambung serta merangsang pelepasan sejumlah hormon saluran cerna yang berhubungan dengan rasa kenyang.
Ketika makanan berbahan tepung dikonsumsi dengan kandungan serat dan protein yang rendah, tidak banyak komponen yang memperlambat proses tersebut. Karbohidrat pun lebih cepat tersedia untuk diserap di usus halus.
Akibatnya, rasa kenyang dapat bertahan lebih singkat. Setelah beberapa waktu, rasa lapar kembali muncul dan keinginan untuk ngemil dapat meningkat.
"Jadi kalau misalnya sering makan yang digoreng dan bertepung kayak gini, yang pertama karena tepung itu kan karbohidrat simpleks tadi. Jadi pasti akan bikin kamu cepat lapar lagi," jelas dr Yaze.
Kondisi tersebut semakin perlu diperhatikan ketika makanan bertepung dikonsumsi sebagai camilan berulang. Porsi yang terlihat kecil dapat menyumbang kalori cukup banyak jika dikonsumsi berkali-kali dalam sehari.
Bisa Bikin Ngantuk dan Lemas
Efek lain yang sering dirasakan setelah makan makanan bertepung adalah tubuh terasa mengantuk dan lemas.
Karbohidrat sederhana lebih cepat dipecah menjadi glukosa dan diserap ke dalam darah. Ketika asupan karbohidrat yang cepat diserap cukup tinggi, kadar glukosa darah dapat meningkat dengan cepat setelah makan atau mengalami postprandial glucose spike. Kecepatan pengosongan lambung dan penyerapan glukosa ikut menentukan seberapa tinggi respons glukosa setelah makan.
Tubuh kemudian merespons peningkatan glukosa darah dengan mengeluarkan insulin untuk membantu memasukkan glukosa dari darah ke dalam sel. Setelah lonjakan tersebut, kadar glukosa darah dapat kembali menurun. Pada sebagian orang, perubahan kadar glukosa dan respons insulin ini dapat disertai rasa lemas, mengantuk atau sulit berkonsentrasi.
Fenomena ini sering disebut sebagai sugar crash. Namun, rasa mengantuk setelah makan tidak semata-mata disebabkan oleh turunnya gula darah. Komposisi makanan, jumlah makanan yang dikonsumsi dan respons tubuh masing-masing juga berperan.
dr Yaze sendiri menjelaskan bahwa kombinasi makanan tinggi karbohidrat dan lemak dapat membuat tubuh terasa lebih cepat lemas setelah makan.
"Habis itu bisa bikin kamu cepat ngantuk juga," kata dr Yaze.
"Lama-lama habis makan yang karbohidratnya tinggi, lemak tinggi, ya jadinya ngantuk, lemes," lanjutnya.
Karena itu, rasa mengantuk setelah makan gorengan atau jajanan tepung perlu dilihat dari keseluruhan komposisi makanannya. Tepung yang dikombinasikan dengan minyak dalam jumlah banyak membuat makanan menjadi lebih padat energi.
Penumpukan Lemak Viseral
Makanan berbahan tepung juga perlu diperhatikan ketika porsinya mulai menggantikan makanan utama.
dr Yaze menjelaskan kebiasaan mengonsumsi gorengan dan makanan bertepung secara terus-menerus, terlebih dalam jumlah berlebihan, dapat berkontribusi terhadap peningkatan lemak di area perut.
"Kalau misalnya terus-terusan dikonsumsi, bahkan menggantikan makanan utama, itu perutnya lama-lama lemak viseralnya jadi lebih banyak," kata dr Yaze.
Lemak viseral merupakan lemak yang berada di sekitar organ-organ dalam rongga perut. Asupan energi yang berlebihan dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak tubuh, termasuk di area tersebut.
Karena itu, masalahnya bukan terletak pada satu kali makan tepung-tepungan. Kebiasaan mengonsumsi makanan bertepung dalam jumlah besar dan frekuensi sering yang perlu diperhatikan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter Gizi Ungkap Efek Terlalu Banyak Makan Tepung-tepungan"
