Hagia Sophia

25 August 2026

Kakek 102 Tahun Berhasil Taklukkan Gunung Fuji

Foto: Ilustrasi mendaki gunung (Getty Images/guvendemir)

Mendaki Gunung Fuji bukanlah tantangan yang mudah, terlebih bagi seseorang yang sudah berusia lebih dari satu abad. Namun, seorang kakek berusia 102 tahun di Jepang bernama Kokichi Akuzawa berhasil membuktikan bahwa usia bukan menjadi penghalang untuk menaklukkan tantangan.

Dengan semangat dan ketekunan, ia sukses mencapai puncak Gunung Fuji. Kisahnya pun menarik perhatian dan menjadi inspirasi tentang bagaimana tetap aktif dan berani mencoba hal baru di usia lanjut.

Perjalanan Pendakian Gunung Fuji, Sempat Ingin Menyerah di Perjalanan

Kokichi Akuzawa menjadi orang tertua yang mendaki Gunung Fuji di usianya yang ke-102 tahun. Dikutip dari laman Guardian, dia mengaku hampir menyerah selama perjalanan pendakian.

"Saya benar-benar tergoda untuk menyerah di tengah jalan," kata Akuzawa.

"Mencapai puncak itu sulit, tetapi teman-teman saya menyemangati saya, dan semuanya berjalan dengan baik. Saya berhasil melewatinya karena banyak orang yang mendukung saya," tambahnya.

Dia mendaki bersama putrinya, Motoe, yang berusia 70 tahun, cucunya, serta empat orang dari klub pendakian pada 5 Agustus 2025. Prestasinya bahkan diakui oleh Guinness World Records.

Mereka berkemah selama dua malam sebelum pendakian ke Gunung Fuji, yang merupakan gunung tertinggi di Jepang, dengan ketinggian 3.776 m.

"Saya kagum bisa mendaki dengan sangat baik," katanya, berkomunikasi dengan bantuan putri lainnya yang berusia 75 tahun, Yukiko.

Dikutip dari laman Guinness World Records, saat pendakian, teman-teman pendaki Akuzawa tidak yakin apakah mereka bisa menyemangatinya. Dia sempat tersandung saat mendaki gunung di dekat rumahnya dan tak lama kemudian sakit karena herpes zoster dan gangguan jantung. Untungnya, dia berhasil melewati penyakitnya, tetapi harus bekerja keras untuk kembali bugar.

Akuzawa menghabiskan tiga bulan untuk berlatih sebelum pendakian Fuji. Dia bangun pukul 05.00 pagi untuk berjalan kaki selama satu jam dan menaiki sekitar satu gunung setiap minggu.

Perjalanan ke Fuji bukan kali pertama Akuzawa mencapai prestasi tersebut. Dia berusia 96 tahun saat pertama kali menjadi orang tertua yang mendaki Gunung Fuji.

"Saya mendaki karena saya menyukainya," katanya. "Mudah untuk berteman di gunung."

Dirinya bekerja sebagai insinyur perancang mesin, kemudian sebagai inseminator buatan ternak hingga usia 85 tahun.

"Terlepas apakah Anda suka belajar atau tidak, Anda tetap bisa menikmati gunung itu," katanya. "Kecerdasan tidak penting di sana. Kita semua berada di posisi yang sama dan bergerak maju bersama."

Sebelumnya Suka Melakukan Pendakian Sendiri

Dahulu, dirinya menikmati pendakian solo, tetapi seiring dengan kekuatannya yang menurun, dia lebih banyak bergantung pada bantuan orang lain.

"Gunung Fuji bukanlah gunung yang sulit, tetapi kali ini lebih sulit daripada enam tahun lalu. Lebih sulit daripada gunung mana pun sebelumnya," katanya.

"Saya belum pernah merasa selemah ini. Saya tidak merasakan sakit, tetapi saya terus bertanya-tanya mengapa saya begitu lambat, mengapa saya tidak memiliki stamina. Saya sudah lama melewati batas fisik saya, dan hanya berkat kekuatan orang lain saya berhasil sampai di puncak," ungkapnya.

Masalah Kesehatan yang Bisa Dialami saat Pendakian

Ada berbagai tantangan yang tak mudah dihadapi oleh pendaki, terutama bagi yang sudah berusia lanjut, Dikutip dari laman CDC, lingkungan dataran tinggi membuat para pendaki terpapar dingin, kelembapan rendah, peningkatan radiasi ultraviolet, dan penurunan tekanan udara, yang semuanya dapat menyebabkan masalah kesehatan. Adapun masalah kesehatan yang bisa dialami di antaranya:

1. Altitude Sickness
Altitude sickness atau penyakit ketinggian adalah istilah untuk kondisi medis yang dapat terjadi ketika seseorang berpindah ke ketinggian yang lebih tinggi terlalu cepat. Semakin tinggi seseorang berpijak maka semakin tipis atmosfernya.

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, hal ini berarti lebih sedikit oksigen yang didapat daripada di ketinggian yang lebih rendah. Penyakit ketinggian terjadi ketika tubuhkesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan jumlah oksigen yang dapatkan setiap kali bernapas.

2. Hipotermia
Hipotermia juga bisa dialami oleh pendaki. Dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dokter Spesialis Pendidikan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif UMY dr Yusda Kris Sari Wijaya Sp.An-TI., menjelaskan bahwa hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celcius. Kondisi ini menyebabkan berbagai organ gagal berfungsi secara optimal, yang berpotensi mengancam jiwa.

"Tubuh membutuhkan suhu optimal agar semua organ dapat berfungsi secara optimal. Ketika suhu tubuh turun, fungsi jantung, otot, dan bahkan sistem hormonal akan terpengaruh. Pada pendaki yang kelelahan, cadangan glukosa untuk menjaga suhu tubuh berkurang. Oleh karena itu, kemampuan tubuh untuk melawan suhu dingin juga menurun," jelas dr Yusda.

Hipotermia juga bisa menghambat distribusi oksigen ke jaringan tubuh. Hal ini membuat sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen, yang kemudian memengaruhi fungsi otak. Selanjutnya, kondisi ini bisa melemahkan kemampuan tubuh untuk merespons suhu dingin.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Keren! Kakek 102 Tahun di Jepang Sukses Taklukkan Gunung Fuji"