Hagia Sophia

05 September 2026

Akibat Karhutla Sejumlah Wilayah di Malaysia Capai Level Berbahaya

Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain

Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia mencapai level berbahaya. Kondisi ini memicu peningkatan gangguan pernapasan dan bahkan membuat perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia yang seharusnya digelar di luar ruangan dibatalkan.

Asap yang berasal dari kebakaran di Kalimantan, Indonesia, terbawa angin hingga menyelimuti negara bagian Sarawak, Malaysia, yang berada di pulau yang sama. Sepanjang Agustus, kabut asap juga dilaporkan mencapai Malaysia Semenanjung, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Kondisi ini disebut sebagai episode kabut asap terburuk di kawasan tersebut sejak 2015. Kala itu, kebakaran di Indonesia membuat puluhan juta orang terpapar asap beracun dan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengalami gangguan pernapasan.

Pada Selasa (1/9/2026), enam wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara dalam kategori berbahaya, dengan indeks di atas 300 berdasarkan Air Pollutant Index (API) Malaysia. Angka di atas 100 sudah masuk kategori tidak sehat.

Di Kuching, ibu kota Sarawak, indeks mencapai 407. Sementara di Serian, wilayah yang berada dekat perbatasan Kalimantan, indeks mencapai 408.

Mia Emylia Hassan, 33 tahun, warga Kuching sekaligus ibu dua anak, mengatakan bau asap sulit dihindari.

"Udara di sini sangat pekat. Baunya seperti asap dan semuanya terlihat putih," dikutip dari Al Jazeera.

Ia mengatakan jarak pandang dari rumahnya menurun hingga sekitar 1 kilometer. Menurutnya, keluarganya sudah tidak melihat langit biru selama lebih dari sebulan. Kabut asap mulai menyelimuti wilayah tersebut pada awal Agustus, tidak lama setelah putrinya yang berusia 10 bulan pulang dari rumah sakit akibat infeksi paru-paru.

"Dia belum pulih dengan baik karena paru-parunya masih berkembang. Selama sebulan ini dia terus mengonsumsi obat, serta mengalami batuk dan muntah," ujar Hassan.

Dua kali, keluarga tersebut harus membawa bayi mereka kembali ke unit gawat darurat karena mengalami kesulitan bernapas.

"Setiap kali terjadi, rasanya seperti mengalami serangan jantung kecil bagi kami," katanya.

Tak hanya itu, Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan peningkatan tajam sejumlah gangguan kesehatan di seluruh negeri. Pada pekan 23-29 Agustus, kasus asma mencapai 1.811 kasus, naik dari 219 kasus pada pekan sebelumnya.

Pada periode yang sama, kasus konjungtivitis juga meningkat menjadi 720 kasus dari sebelumnya 146 kasus.

Di Malaysia Semenanjung, Karen-Michaela Tan, seorang pasien asma yang tinggal di sekitar Kuala Lumpur, mengatakan kondisinya memburuk akibat kualitas udara.

Ia mengalami mengi yang terdengar jelas dan sesak napas saat menaiki tangga. Kualitas udara di wilayah tempat tinggalnya berada di atas 100 hampir sepanjang pekan.

Perempuan berusia 52 tahun itu bahkan membutuhkan dua kali terapi nebulizer secara berturut-turut untuk menghentikan mengi, disertai obat steroid dengan dosis tinggi.

"Dokter cenderung berhati-hati dalam menangani pasien asma. Mereka memilih meningkatkan dosis obat daripada mengambil risiko pasien harus dirawat di rumah sakit karena sesak napas," ujarnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kabut Asap Karhutla Kalimantan Picu Lonjakan Penyakit Pernapasan di Malaysia"